Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

30 Persen Warga di Indonesia Belum Tersentuh Air Bersih

Novianti Nurulliah
PERINGATAN Hari Air Sedunia dengan tema "Jangan Tinggalkan di Belakang Yang Tidak Mendapatkan Akses Air" pada CFD Dago,  Kota Bandung, Minggu 24 Maret 2019.*/NOVIANTI NURULLIAH/PR
PERINGATAN Hari Air Sedunia dengan tema "Jangan Tinggalkan di Belakang Yang Tidak Mendapatkan Akses Air" pada CFD Dago, Kota Bandung, Minggu 24 Maret 2019.*/NOVIANTI NURULLIAH/PR

BANDUNG,(PR). - Sekitar 30 persen warga di Indonesia termasuk di Jawa Barat belum tersentuh akses air bersih. Padahal potensi sumber air Indonesia sangat besar yaitu 3,9 triliun m3 namun yang dimanfaatkan baru mencapai kurang lebih 13,8 milyar m3 atau sekitar 58 m3 perkapita per tahun yang dapat dikelola meIalui reservoir. 

"Angka ini jauh lebih rendah dan Thailand 1.277 m3 perkapita dan satu tingkat di atas Ethiopia (38 m3/Kapita)," ujar Eko Winar Irianto kepala Pusat litbang Sumber daya air Kementerian  PUPR pada peringatan Hari Air Sedunia dengan tema "Jangan Tinggalkan di Belakang Yang Tidak Mendapatkan Akses Air" pada CFD Dago,  Kota Bandung, Minggu 24 Maret 2019.  

Akses air itu tidak hanya PDAM,  tapi sumur juga. Kemungkinan tidak lebih dari 30 persen yang belum tersentuh air bersih. "Mungkin di Jabar banyak air,  tapi daerah tangkapannya kurang dan salah satunya penggunaaan air tanah oleh industrinya yang harus diatur," ujar dia. 

Di Jabar, lanjut dia, air banyak tapi daya tampung kurang seperti waduk, embung. Saat ini ada tiga waduk di Jabar dan embung yang harus dirawat. Dianjurkan sumur resapan itu penting. Mengurangi limpasan hujan, yang kedua pada saat musim kemarau akan jadi cadangan air. 

Lebih jauh, Eko menuturkan, masih banyak permasalahan terkait bencana hidrometeorologi, antara Iain dampak negatif perubahan iklim terhadap ketersediaan dan kualitas sumber daya air, demikian‚ yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca, perubahan pola dan intensitas hujan, kenaikan permukaan laut. Selain itu, masih terjadinya kerusakan pada catchment area, erosi dan sedimentasi sangat tinggi, peningkatan kejadian banjir dan kekeringan, tingginya pencemaran dan rendahnya kualitas air. 

"Jaringan irigasi masih banyak yang mengalami kerusakan, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu kedaulatan pangan. Pembangunan waduk dan embung sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas sumber-sumber air masih menghadapi banyak hambatan, terutama disamping anggaran juga terkait dengan penanganan dampak social dan pengadaan tanah, " kata dia. 

Pengelolaan terpadu

Litbang Sumber Daya Air, kata Eko, ke depan dalam Rencana Strategis 2020-2024 akan menghasilkan teknologi dalam rangka mendukung pembangunan infrastruktur sumber daya air termasuk sumber daya maritim untuk mendukung ketahanan air, kedaulautan pangan, dan kedaulatan energi guna menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik dalam rangka kemandirian yang kompetitif. 

Contohnya, menghasilkan teknologi yang mendukung pembangunan infrastruktur sumber daya air, pengelolaan terpadu berkelanjutan pada danau, rawa, situ, sungai‚ dan perairan darat lainnya. Yang kedua, menghasilkan teknologi untuk mendukung prasarana dasar keandalan prasarana banjir perkotaan dan menghasilkan teknologi untuk pembangunan waduk dan embung dalam rangka meningkatkan kapasitas tampung menjadi 68 m3/kapita/tahun. 

"Untuk akses air ini kami mengembangkan teknologi aplikatif sehingga masyarakat dapat air lebih layak melalui PATH pompa air tenaga hidro,  ini inovasi kalau biasanya air diterjunkan dari ketinggian,  tapi sekarang ketinggian rendah 4 meter bisa diakses karena turbin mengerakkan pompa tapi tanpa listrik. Turbin gerakkan pompa bisa alirkan atau menjangkau jarak 300 meter dengan debit 1 liter per detik. 100 lt/ hari bisa seribu jiwa yang terlayani, " kata dia. 

Sesuai dengan tema Hari Sedunia 2019,  kata dia, semua harus dapat akses air,  air untuk semua. Dengan Hati Air Sedunia ini harus mempunyai perenungan,  perencanaan sampe aksi.  Pihak-pihak terkait melakukan kegiatan agar semua orang mendapat akses air sekaligus bagaimana meindungi semua orang dari bencana air.

Sementara itu Supardiyono Sobirin dari DPKLTS Mitra PUSAIR pada kesempatan yang sama mengatakan,  terkait dengan Hari Air Dunia 22 Maret 2019, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan tema dengan judul jangan tinggalkan siapapun di belakang, air adalah untuk semua. Secara umum dapat diartikan pengelolaan sumber daya air harus dilaksanakan secara bersama, sinergi, gotong royong seluruh stakeholders, dengan konsep pentahelix, yaitu antar akademisi, komuninas, dunia usaha‚ pemerintah, dan media, seperti yang saat ini diterapkan untuk restorasi DAS Citarum. 

Secara filosofis‚ dapat disimpulkan bahwa menyelesaikan masalah banjir ini tidak dengan melawan banjir atau mengurangi luasan genangan banjir, tetapi berikan ruang lebih banyak untuk air, dan juga berikan ruang lebih banyak untuk manusia.***

Bagikan: