Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Sebagian berawan, 20.9 ° C

Kampus Harus Jadi Partisipan Era Industri 4.0

Ririn Nur Febriani
SEBAGIAN peserta dan pembicara berfoto bersama seusai acara General Lecture Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) di Jalan Terusan Sudirman Kota Cimahi, Jumat, 22 Maret 2019.*/RIRIN NF/PR
SEBAGIAN peserta dan pembicara berfoto bersama seusai acara General Lecture Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) di Jalan Terusan Sudirman Kota Cimahi, Jumat, 22 Maret 2019.*/RIRIN NF/PR

 

CIMAHI, (PR).- Dalam 3 tahun ke depan, 35 persen pekerjaan yang saat ini dianggap penting nanti tak akan diperlukan lagi dalam era industri 4.0. Dibutuhkan kemampuan adaptasi dan keterbukaan untuk fokus menghadapi tantangan tersebut dengan memanfaatkan teknologi yang memberi perubahan dalam kehidupan masyarakat luas.

Demikian diungkapkan Profesor Herry Utomo dan Profesor Ida Wenefrida dari Louisiana State University dalam General Lecture Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) di Jalan Terusan Sudirman Kota Cimahi, Jumat, 22 Maret 2019. "Industri 4.0 mau tidak mau akan datang karena perubahannya epidemik dan sistemik ke berbagai arah. Kita wajib menemukan potensi yang ada dari hasil kreatifitas yang bisa membantu kehidupan lokal dengan kejelian mengaplikasikan teknologi," ujarnya.

Tantangan di era industri 4.0, lanjut Herry, bukan memerangi pengangguran namun harus memenuhi permintaan tenaga kerja berspesifikasi baru dengan cepat. Banyak pekerjaan penting akan lenyap, bahkan di tahun 2022 saja sekitar 73 juta pekerjaan akan hilang.

Namun, industri 4.0 berdampak tumbuh profesi baru dengan syarat keahlian baru. Yang paling banyak dibutuhkan seperti profesi dengan keahlian ilmuan dan analisis data, spesialis dalam kecerdasan buatan dan machine learning, general manager, pengembang perangkat lunak dan coding, ataupun spesialis dalam big data.

"Harus jadi partisipan dalam industri 4.0. Pemasaran, inovasi, teknologi bisa terkoneksi. Sarana prasarana yang dibutuhkan memang ngeri, tapi bisa kita tingkatkan sesuai kemampuan," ungkapnya.

Misal, membuat produk lokal dan bisa dipasarkan secara mendunia. "Kita lihat kebutuhan lokal seperti apa, tidak harus seperti Amerika dengan mesin-mesin besar tapi ciptakan mesin kecil hasil kreatifitas. Dari tingkat lokal itulah kita bisa menawarkan barang yang tidak ada di dunia sehingga menjadi keunggulan," tuturnya.

Untuk perguruan tinggi, menurut Herry, tantangan terbesar menciptakan lulusan dengan spesifikasi tepat, cepat, dan besar jumlahnya. Para lulusan juga perlu dibekali pola pikir siap beradaptasi terhadap perubahan.

Mahasiswa harus siap menjadi pemikir yang kritis, pencari solusi, inovator, komunikator, dan pemimpin bermotivasi tinggi. Menurut Herry, saatnya bagi Unjani untuk memperkuat kepemimpinan dengan visi tajam, siap beradaptasi, dan fokus menghadapi tantangan. Kurikulum, materi ajar, dan cara pembelajaran perlu dikristalisasi untuk menumbuhkan iklim kreatif, imajinatif, dan pemecahan masalah dengan memberdayakan teknologi ajar terkini. Termasuk, kolaborasi dalam ekosistem kampus yang terbuka dan global. 

"Kuncinya kemampuan, dedikasi, adaptasi dan keterbukaan. Willing to go beyond and out of the box. Sehingga Unjani bisa melakukan lompatan yang berdampak kualitas yang maju dan hasilkan lulusan yang inovatif, kreatif, dengan  kemampuan yang setara kebutuhan tenaga di industri 4.0," tuturnya.***

Bagikan: