Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Sebagian cerah, 23.2 ° C

Underground, Ujungberung, dan Kisah Abadi tentang Do It Yourself

Tim Pikiran Rakyat
METAL head Bandung/YUSUF WIJANARKO/PR
METAL head Bandung/YUSUF WIJANARKO/PR

KETIKA mendengar frasa ”underground” atau ”bawah tanah”, orang kebanyakan selalu mengaitkannya dengan segala sesuatu yang bersifat negatif: obat-obatan terlarang, minuman keras, dan seks bebas.

Stigma itu pulalah yang tersemat kepada Ujungberung Rebels. Ternyata, semua itu salah. Sekelompok anak muda berpakai­an serbahitam dengan gitar di punggung, kini, bukanlah pemandangan aneh di Ujungberung.

Begitu pula dengan keberadaan pria-pria berpakaian pangsi, lengkap dengan iket. Kecamatan paling timur di Kota Bandung itu memang dikenal sebagai pusat perkembangan seni dan budaya, mulai dari seni tradisional hingga komunitas musik bawah tanah.

Pernah mendengar tentang seni bela diri tradisional benjang? Seorang sesepuh benjang mengklaim bahwa seni bela diri tradisional itu sudah ada sejak tahun 1820.

Pusatnya di mana lagi kalau bukan Ujungberung. Setidaknya, terdapat dua tempat di Ujungberung yang menjadi pusat perkembangan benjang yaitu Desa Ciwaru dan Cibolerang, Cinunuk.

Ujungberung/GOOGLE EARTH

Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat bahkan memasukkan 25 tempat di Ujungberung sebagai lokasi pergelaran benjang.

Selain benjang yang bentuknya seperti olah raga gulat, Ujungberung juga dikenal sebagai pusat perkembangan seni pantun, karinding, bengberokan, pencak silat, dan kecapi suling.

Semuanya berkembang di wilayah-wilayah tertentu di Ujungberung, melalui regenerasi dan moder­nisasi hingga menular ke kawasan Bandung lainnya.

Sebagai daerah perbatasan, pada dekade 1990, Ujungberung mengalami perubahan yang sangat besar dalam hal tatanan sosial dan ekonomi.

Daerah yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan pertanian itu berubah menjadi kawasan industri, seiring dengan dibangunnya berbagai pabrik.

Kondisi itu ternyata tak hanya berdampak terhadap aspek kehidupan ekonomi masyarakat, tetapi juga dalam hal selera musik generasi mudanya.

Ketika genre rock yang diwakili oleh Guns N Roses dan Metallica mengguncang Indonesia, Ujungberung langsung memberikan respons.

Ramones/YUSUF WIJANARKO/PR

Kala itu, sekelompok anak muda membentuk band dan menyanyikan lagu band-band favorit mereka. Memasuki tahun 1993, sejumlah anak muda di berbagai bagian Ujungberung memberanikan diri untuk membentuk band metal.

Ada band Orthodox yang didirikan Yayat Ahdiat (39) di Gang Kaum Kidul Kelurahan Ujungberung, Kecamatan Ujungberung. Di Sukaasih, Ujungberung sebelah barat, berdiri Funeral dan Necromancy. Funeral digawangi AamVenom, Uwo, dan Iput sedangkan Necromancy oleh Dinan dan Oje.

Di Ujungberung sebelah timur, tepatnya di daerah Cilengkrang I, Tirtawening, berdiri Jasad yang digawangi Yulli, Tito, Hendrik, dan Ayi. Lalu, di Cilengkrang II, kawasan Manglayang, berdiri band Monster yang membawakan lagu-lagu heavy metal ciptaan sendiri dengan personel Ikin, Yadi, Abo, Yordan, Kenco, dan Kimung.

SAMPUL album Masa Indah Banget Sekali Pisan/DOK. PR

Mereka semua rata-rata merupakan teman satu sekolah baik di SMPN 1 Ujungberung atau SMAN 1 Ujungberung (kini SMAN 24 Bandung).

Untuk bertukar informasi dan ide mengenai musik metal, komunitas ini memanfaatkan media radio amatir.

Mereka merupakan cikal bakal band-band metal yang disegani di Indonesia, bahkan Asia dan Australia, seperti Burgerkill, Jasad, dan Forgotten.

Peren penting Studio Palapa

Hal yang menarik dari keberadaan komunitas musik Ujungberung adalah cara mereka memahami dan menjiwai filosofi musik metal yang mereka cintai itu.

Kimung dkk. tidak berhenti hanya pada level ”suka” kepada genre musik metal. Mereka selalu mencari tahu cara untuk membesarkan musik beraliran keras ini di Indonesia.

Ketika internet masih menjadi barang langka, mereka dengan sabar berkorespondensi dengan komunitas atau media propaganda musik metal di luar negeri demi mendapatkan kabar terbaru mengenai musik tersebut.

ALBUM Sonic Torment bertajuk Haatzaai Artikelen/DOK. PR

Kultur festival saat itu—yang memaksa setiap band yang tampil untuk meniru dan menyanyikan lagu band-band terkenal—mulai dirasakan tidak cocok oleh anak-anak Ujungberung Rebels.

Mereka kemudian mulai saling mendorong untuk menulis lagu sendiri lalu menampilkannya di dalam festival-festival tersebut. Hasilnya, banyak orang yang jatuh cinta kepada musik yang mereka buat.

Kehadiran Studio Palapa pada 1993 menjadi angin segar bagi komunitas musik bawah tanah Ujungberung yang memang selalu kesulitan menemukan studio musik yang menerima mereka berlatih.

Studio itu kemudian menjadi kawah candradimuka bagi band-band Ujungberung hingga melahirkan band-band besar, kru yang solid, dan musisi-musisi jempolan.

Sejumlah rilisan kaset musik metal pertama di Indonesia direkam di Studio Palapa yang dibuat de­ngan semangat ”Do It Yourself”.

Puppen/DCDC

Pada 1995, komunitas itu menyebar ke seantero Kota Bandung dengan jumlah massa sekira 3.000 orang.

Mengguritanya komunitas musik metal menggerakkan Yayat, Ivan, dan Dinan untuk mewadahi komunitas tersebut di bawah nama Extreme Noise Grunge (ENG).

Komunitas ini kemudian ”mempersenjatai diri” dengan membuat pro­paganda atau media berbagi antarkomunitas dan interkomunitas musik metal bawah tanah berbentuk zine dengan nama ”Revograms”.

Zine itu disebut-sebut sebagai zine pertama pada komunitas musik bawah tanah dan juga komunitas independen di Indonesia. 

Mereka jugalah yang menggagas pergelaran Bandung Berisik dan Bandung Death Fest. Semata-mata hanya ingin memberikan ruang bagi band-band metal di Indonesia untuk menampilkan karyanya, bukan untuk mencari keuntungan.

Sayangnya, tradisi menggelar pertunjukan musik bawah tanah ini mulai sulit sejak tragedi Asia-Africa Cultural Center (AACC), pada 2 Februari 2008 lalu.

Selain selalu sulit mendapatkan izin, mereka tidak memiliki tempat yang representatif untuk menggelar pertunjukan semacam itu.

Jangan lupa, keberadaan komunitas musik ini juga telah membidani kelahiran industri kreatif fashion, literasi, dan rekaman yang menyokong kehidupan mereka sehari-hari.

Di bidang industri rekaman, Ujungberung memiliki tiga perusahaan rekaman yang sudah eksis yaitu Rottrevore Records, Revolt! Records yang dijalankan Eben, serta Pieces yang digarap Dani.

Sementara di bidang literasi, Kimung yang mantan pemain bas Bur­gerkill memiliki zine MinorBacaanKecil dan penerbitan Minor Books.

Semuanya dijalankan dengan sema­ngat ”Do It Yourself” atau ”Dari komunitas, oleh komunitas, untuk komunitas”.

UJUNGBERUNG Rebels/DOK. PR

MY Self Scumbag/DOK. PR

Tanpa bantuan pemegang modal atau pemerintah, Ujungberung Rebels membuktikan bahwa mereka berarti sesuatu dan merupakan orang-orang yang patut diperhitungkan dalam dunia musik dan industri kreatif Indonesia.

Hal itu sudah pasti meng­ubah posisi Ujungberung dalam percaturan musik dan ekonomi Kota Bandung dan Indonesia. Ujungberung tak lagi sekadar daerah perbatasan yang miskin pembangunan.

”Pemberontakan” yang tak ternyana

William Shakespeare per­nah menuliskan dialog ”Apa­lah arti sebuah nama” di dalam karyanya, Romeo And Juliet. Namun, penamaan band-band metal seolah menahbiskan anggapan orang bahwa band metal adalah band yang ”menyeramkan”.

Tengok saja nama-nama band pentolan aliran ke­ras seperti Burgerkill, Jasad, dan Forgotten, pasti menguat­kan kesan seram dan gahar. Padahal, kalau ditilik lagi sejarahnya, nama itu tidak seperti yang dibayangkan.

Saat Pikiran Rakyat bertemu Yayat Ahdiat di rumahnya, di Jalan Cinambo Nomor 70, Ujungberung, Kota Bandung, dice­ritakanlah ihwal penamaan salah satu band metal, Jasad.

Sejarah nama itu jauh dari kesan seram yang terbenam di pikiran orang di luar komunitas. Pada 1989, sebelum bernama Jasad, band itu sedang kesulitan mencari nama.

Suatu hari, ketika tengah berlari di wilayah latihan militer, mereka melihat tentara yang tengah berolah raga. Pada bagian belakang bajunya tertulis, ”Jasma­ni Angkatan Darat” yang disingkat Jasad. ”Mereka menilai na­ma itu keren, lalu dijadikan nama band mereka,” ujar ­Yayat Ahdiat.

Demikian pula penamaan ”Burgerkill” yang hanya pelesetan dari produk makanan cepat saji ”Bur­gerking”. Kesan seram dalam nama dan tampilan band metal itu hanya tampak di permukaannya.

Burgerkill/YUSUF WIJANARKO/PR

Soal penampilan, mantan pemain bas Burgerkill, Iman Rahman Angga Kusumah atau Kimung sempat menyebutnya bagian dari narsisme belaka. ”Ketika itu, kami mencari nama yang keren saja didengarnya,” katanya.

Berbicara soal musik underground, terutama di Ujungbe­rung, menurut sosiolog Yesmil Anwar, merupakan bagi­an dari gejolak anak muda saat itu. Sementara itu, latar belakang pesatnya perkembangan musik underground di Ujung­berung jauh berbeda dengan asalnya.

Di luar negeri, mu­sik underground tumbuh sebagai bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai gereja sehingga muncul gerakan antikekerasan, antiperang, generasi bunga, dan generasi hippies. Pem­berontakan itu diwujudkan ke dalam bentuk musik yang keras, bergemuruh, dan penuh dentuman.

”Nilai estetika sebuah musik pun bergeser. Secara sosial, irama musik yang keras itu dijadikan sumber energi dalam pemberontakan,” ujarnya.

Gaung musik keras itu menjalar hingga ke Indonesia. Band-band beraliran keras seperti Deep Purple, Iron Maiden, dan The Doors menjadi idola anak muda Indonesia.

METAL head Bandung/YUSUF WIJANARKO/PR

Bandung tak luput dari demam metal pada dekade 1990. ”Namun, filosofi kelahiran musik itu tidak tertangkap oleh penggemarnya,” kata Yesmil Anwar.

Yang ada, justru peniruan oleh anak muda terhadap idola-idolanya itu. Selain Bandung, Malang, dan Surabaya turut menjadi sentra komunitas band underground saat itu.

Di tiga kota kreatif itu, musik beraliran keras tumbuh subur. Di tiga kota itu, terutama Bandung, genre musik apa pun bisa tercipta. Namun, menurut Yesmil Anwar, pemberontakan yang ada hanya­lah bentuk krisis identitas atas perasaan terkekang dengan aturan orang tua.

Ujungberung tak hanya mendengarkan

Di Ujungberung, musik underground tidaklah menjadi mu­sik yang hanya didengarkan oleh anak mudanya. Yesmil mengatakan, di Ujungberung terdapat banyak anak muda yang berpengetahuan musik dan berkeinginan tinggi meramu musik tersebut.

Mereka berkumpul, membentuk komunitas, dan menggunakan idiom-idiom khusus. Nilai filosofis yang diusung musik metal pada awal kelahirannya, di tempat asalnya, justru muncul ketika karya anak-anak Ujungberung itu tidak mendapat tempat di label musik besar.

”Di sinilah pemberontakan mereka yang sebenarnya. Mereka melawan kemapanan musik Indonesia yang hanya menggantungkan diri kepada pihak pemodal,” katanya.

Pemberontakan itu semakin menjadi ketika pemerintah—yang diharapkan memberikan tempat perlindungan—justru mengecewakan mereka. Dari diskusi Yesmil Anwar dengan komunitas tersebut, terungkap keinginan mengembangkan musik tersebut.

”Mereka lalu menemui pemerintah, meminta bantuan. Akan tetapi, bantuan yang diharapkan tidak kunjung datang,” ujar Yesmil Anwar.

Cara pikir mereka yang harus hidup dan bertahan dengan musik lalu memengaruhi mereka untuk bersiasat.

Dengan spirit ”Do It Yourself”, komunitas musik underground itu membuat lagu sendiri, merekam sendiri, dan menjualnya sen­diri. Bahkan, mereka juga membangun jaringan usaha lain yang menyokong semangat bermusik mereka.

”Mereka menjadi pembaru untuk diri mereka sendiri sekaligus memengaruhi orang lain. Mereka pun berhasil mewujudkan kebebasan berekspresi, persis dengan kemunculan musik aliran keras pada awalnya,” ucap Yesmil Anwar. (Dewiyatini,Lia Marlia)***

Bagikan: