Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Langit umumnya cerah, 21.6 ° C

Sempat Hebohkan Warga, yang Disangka Macan Ternyata Meong Congkok

Hendro Susilo Husodo
MEONG Congkok atau Felis bengalensis yang ditemukan warga di Lebak Cihideung. Binatang ini termasuk hewan yang dilindungi.*/HENDRO SUSILO/PR
MEONG Congkok atau Felis bengalensis yang ditemukan warga di Lebak Cihideung. Binatang ini termasuk hewan yang dilindungi.*/HENDRO SUSILO/PR

BEBERAPA waktu terakhir ini, warga yang tinggal di sekitar Jalan Hortikultura, RT 1 RW 5, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sempat dihebohkan dengan kabar yang menyebutkan ada macan di lembah belantara, yang berbatasan dengan pemukiman penduduk. Belakangan, diketahui bahwa macan yang diisukan itu ternyata adalah meong congkok alias kucing hutan, atau juga biasa disebut dengan macan akar.

Ketua RT setempat, Wawan Setiawan mengatakan, isu itu berhembus selama sekitar satu pekan. Di perkebunan yang menyerupai hutan, yang biasa disebut Lebak Cihideung atau Lebak Alam Sejuk, informasi sumir berkembang ada macan yang beredar, dan dikhawatirkan naik ke pemukiman.

"Mungkin ada warga di sini yang bilang, lalu diobrolkan dengan ibu-ibu. Info itu di-share ke grup WhatsApp ibu-ibu. Isteri saya yang bilang ke saya, katanya di bawah ada macan. Saya coba cari klarifikasinya, awalnya di sini bungkam enggak ada yang tahu secara pasti," kata Wawan kepada wartawan, Rabu, 20 Maret 2019.

Di belantara itu, terang dia, memang pernah menjadi habitat bagi monyet putih dan monyet biasa, serta seringkali masih ditemukan berbagai jenis ular, termasuk ular phyton. Akan tetapi, selama ini belum pernah ditemukan ada macan. "karenanya, warga takut ada macan. Saya cepat-cepat lapor ke desa dan pihak terkait," katanya. 

Ternyata, macan yang dimaksud adalah meong congkok alias kucing hutan, atau juga biasa disebut dengan macan akar. Satwa liar yang memiliki nama latin Felis bengalensis itu ditemukan oleh seorang tukang rongsok yang tinggal di bantaran Lebak Cihideung. 

Edi Santoso (43), pria yang dimaksud, mengungkapkan pertama kali menemukan meong congkok pada 10 Maret 2019. Di Lebak Cihideung, binatang itu masuk perangkap yang ditujukan buat musang. Edi langsung melepaskan induk meong congkok itu, tapi tiga hari kemudian ada anaknya yang juga terkena perangkap musang.
 

Tahu bahwa meong congkok adalah hewan yang dilindungi, pria asal Sumatra itu lantas membawanya. Maksudnya ialah untuk menyelamatkan binatang yang memiliki totol-totol hitam di tubuhnya itu, sekaligus untuk menyerahkannya kepada pihak yang berwajib. 

Edi bahkan menunjukkan catatan yang ditulis tangan olehnya pada 13 Maret 2019, sebagai bukti akan niatnya menyelamatkan meong congkok. "Yang saya tahu, hewan ini semacam kucing hutan congkok gitu. Saya tahu hewan liar ini dilindungi, tahu dari membaca-baca," katanya.

Oleh karena itu, dia pun menyatakan bakal melaporkan penemuan meong congkok itu. Namun, lantaran ketidaktahuannya melapor ke mana, binatang itu masih dia rawat hingga dilaporkan ke Ketua RT setempat pada 19 Maret 2019. Dalam sehari, Edi memberi makan meong congkok yang diperkirakan berusia dua bulan itu dengan 1 kg kepala ayam.

"Induknya itu tiap malam datang. Anaknya ini kan ribut, enggak lama di bawah juga ribut. Ada bunyi daun kering, sebentar kemudian induknya datang. Bunyinya itu cok cok cok cok krek krek krek... Itu bahasa buat memanggil. Kalau marah, dia menggeram seperti macan," tutur pria yang memelihara ayam dan musang itu.

Edi mengaku, dirinya merupakan penyayang satwa liar. Dia pernah melepaskan ular yang ditangkap warga sekitar 15 m ke dalam Lebak Cihideung. Kepada orang-orang yang mencari cacing pun sering dia ingatkan agar tak memukul ular jika menemukannya. 

"Di sini juga suka ada pemburu babi hutan, saya khawatir binatang ini ditembak atau diburu. Soalnya, pemburu itu biasa bawa senjata dan anjing. Bahkan, saya sering berantem. Silakan (satwa liar) diburu, tapi jangan dibedil. Anjingnya (pemburu) itu kan enggak bisa lihat buruannya (mengejar hewan apapun)," kata Edi.

Penemuan meong congkok itu dibahas oleh petugas dari polsek/koramil setempat, maupun polisi hutan dan petugas dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKADA) Jawa Barat. Rencananya, BKADA Jabar akan segera menindaklanjutinya.***

Bagikan: