Pikiran Rakyat
USD Jual 14.301,00 Beli 14.001,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

PAUD Sebaiknya tak Dipaksa Ajarkan Calistung

Ririn Nur Febriani
ILUSTRASI  Siswa PAUD.*/DOK.PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI Siswa PAUD.*/DOK.PIKIRAN RAKYAT

SEBAGIAN masyarakat menuntut lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) harus mampu mengajarkan anak membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Padahal, PAUD merupakan kelompok bermain untuk melatih daya kreatif serta kemandirian anak-anak, sehingga tidak boleh memaksa anak belajar calistung. 

“Memang sangat banyak tuntutan dari orangtua agar anaknya yang masuk PAUD bisa berhitung dan membaca, padahal itu tidak boleh. Jika anak dipaksa harus bisa calistung, mungkin awalnya kelihatan baik padahal sebaiknya hal itu dilatih saat mereka sudah cukup usia 7 tahun. Khawatir, anak yang dipaksa calistung pada usia dini semangat belajarnya bisa menurun di jenjang pendidikan selanjutnya,” ujar Bunda PAUD sekaligus Bunda Literasi Kota Cimahi Lucyani Priatna. 

Pihaknya melantik Bunda PAUD dan Bunda Literasi tingkat kelurahan dan kecamatan pada Selasa. 19 Maret 2019. Pelantikan ini diharapkan menjadi tahap awal pengembangan program PAUD di wilayah masing-masing. 

"Para Bunda PAUD ini diharapkan dapat mensosialisasikan hal tersebut ke masyarakat, bahwa anak usia dini terhitung sejak usia 0 tahun sampai 6 tahun wajib mendapatkan pendidikan usia dini, untuk pengembangan perilaku dan mendidik karakter anak, kalau akademis dimulai di SD," tuturnya.

Pihaknya mengklaim, cakupan PAUD sudah merata di Kota Cimahi. Dari 312 RW di Cimahi, ada 360 PAUD yang menunjang kebutuhan pendidikan bagi anak.

"Secara umum sudah merata dan sudah banyak PAUD, berbagai fasilitas yang tersedia di masyarakat untuk menyelenggarakan layanan paud seperti tempat ibadah, posyandu, balai RT/RW/kelurahan bisa kita manfaatkan. Tinggal menambah alat peraga, nanti kita lihat dulu bagaimana kondisi kekurangannya, diinventarisir dulu," katanya. 

Agar pendidikan dan pembentukan karakter anak bisa optimal, setiap guru PAUD membimbing 10 orang anak. "Jumlah guru sudah mencukupi, namun harus ditingkatkan lagi kompetensinya," kata Lucyani. 

Soal sarana prasarana, lanjut Lucyani, diakui ada keterbatasan lahan. Hal itu membuat sejumlah PAUD tidak memiliki area bermain. 

"Memang lahan yang terbatas membuat taman bermain kurang, tapi banyak masyarakat yang membantu dengan meminjamkan lahannya untuk kegiatan bermain anak PAUD," katanya.

Kualitas PAUD

Walikota Cimahi Ajay M. Priatna, berharap Bunda PAUD dan Bunda Literasi Kota Cimahi serta tingkat kelurahan/kecamatan bisa meningkatkan kualitas PAUD.

"Tentu sangat penting, karena PAUD itu sarana inkubasi anak usia dini agar karakternya terbentuk. Jadi harus berjalan dengan baik dan didukung," kata Ajay.

Demi menunjang hal tersebut, pihaknya meminta agar ada inventarisir fasilitas dan kelaikan PAUD yang ada di Kota Cimahi.

"Sudah banyak tapi keberadaannya belum merata. Akan kita coba cek ke lapangan, lihat juga kondisinya memadai atau tidak. Termasuk untuk taman bermain anak," tuturnya.***

Bagikan: