Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Cerah berawan, 26.8 ° C

Upah Rendah, Warga Mundur Jadi Petugas Sortir dan Lipat Surat Suara Pemilu 2019

Ririn Nur Febriani
CONTOH surat suara Pilpres 2019.*/ANTARA
CONTOH surat suara Pilpres 2019.*/ANTARA

CIMAHI, (PR).- Petugas sortir dan lipat (sorlip) surat suara Pemilu 2019 yang dipekerjakan KPU Kota Cimahi banyak yang  mengundurkan diri. Ditengarai, beratnya beban tugas tak sebanding nilai upah sehingga masyarakat enggan datang lagi.

Pada hari pertama pelaksanaan sortir dan lipat di Gedung Hardjuno Jumat, 15 Maret 2019, terhitung 174 petugas dari 200 orang yang terdaftar. Di hari kedua jumlahnya menurun jadi 153 orang, serta bertambah jadi 167 orang di hari ketiga.

"Setiap harinya petugas sortir dan lipat surat suara jumlahnya tidak menentu, masih kurang petugasnya dan waktu sudah mendesak juga," ujar Ketua KPU Kota Cimahi M. Irman, di GSG Hardjuno Jalan Encep Kartawirya Kota Cimahi, Minggu, 17 Maret 2019.

KPU Kota Cimahi hanya memiliki waktu maksimal hingga 20 hari untuk menyelesaikan pelipatan sekitar 1.557.865 lembar surat. Jumlah tersebut belum termasuk surat suara Pilres 2019 yang belum dikirim dari percetakan.

Dia mengaku tidak tahu alasan mundur hampir 30 petugas surat suara tersebut. Namun menurutnya tugas yang berat jadi salah satu alasannya.

"Sepertinya lebih ke masalah pekerjaannya yang rumit, karena banyak yang harus dilipat sampai lima jenis surat suara," katanya.

Untuk mengejar target penyelesaian proses sortir dan lipat surat suara, menurutnya ada opsi menambah petugas sortir dan lipat. Namun belum bisa dipastikan kapan akan dilaksanakan.

Masyarakat yang diperkerjakan sebagai petugas sorlip diberi target untuk bisa melipat sampai 1.500 lembar surat suara dengan ukuran dan tingkat kerumitan yang berbeda.

"Kalau melihat range waktu, kemungkinan harus ditambah orang. Memang kita kasih target 1.500 lembar, tapi tidak terkejar. Maksimal seorang hanya bisa melipat 1.000 lembar saja," katanya.

SURAT suara Pemilu 2019/KPU

Zulkifli (26) warga Cibabat yang jadi salah satu petugas sortir dan lipat surat suara, mengakui, upah sortir lipar yang diterima dibilai terlalu rendah jadi penyebab banyaknya petugas yang akhirnya mundur. Tiap petugas hanya dibayar Rp 80 perlembar surat suara dengan jam kerja yang panjang dan tanpa diberikan makan siang. Idealnya, perlembar surat suara dibayar sebesar Rp 150.

"Ya memang karena bayarannya terlalu murah. Jam kerjanya lama, pekerjaan banyak, ribet, terus tidak dikasih makan. Tahun sebelumnya dibayar Rp 140 terus dikasih makan. Tapi sekarang malah turun," ujarnya.

Maman (34), warga Cigugur, petugas sortir lipat lainnya, mengatakan terpaksa bertahan karena butuh uang untuk biaya sehari-hari. Apalagi, setiap Pemilu atau Pilkada sudah langganan jadi petugas sorlip.

"Tiap pemilu memang ikutan, tahun sekarang serba turun, upah turun, makan juga enggak dikasih. Tapi ya karena butuh uang, jadi mau ga mau dikerjakan meski pelipatannya juga lebih banyak," tuturnya.***

Bagikan: