Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 20.2 ° C

Hasil Uji Coba ITB, Angkot Dinilai Siap Terapkan Carpooling

Muhammad Fikry Mauludy
Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Armada angkot dinyatakan siap untuk beroperasi dengan sistem carpooling. Yang paling realistis dan potensial untuk mengurangi kemacetan dengan carpooling angkot adalah segmen siswa sekolah.

Namun, penerapan ini masih terganjal perhatian dari Dinas Perhubungan dan Dinas Pendidikan Kota Bandung, serta peraturan wali kota Bandung untuk menguatkan payung hukum. Uji coba dilakukan bagi siswa SMPN 26 Bandung oleh 27 unit angkot yang tergabung ke dalam Koperasi Angkutan Masyarakat (Kopamas) Bandung selama setahun, pada akhir 2017 hingga 2018.

“Antusiasnya tinggi. Komite sekolah sepakat akan meneruskan itu. Ternyata dari waktu tempuh memang masuk (layak),” ujar pakar tranportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sony Sulaksono, saat dihubungi, Minggu, 17 Maret 2019.

Uji coba itu merupakan kerja sama antara Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi (PPTIK) Institut Teknologi Bandung, Data Science Indonesia, organisasi nirlaba Hivos, Kopamas, dan Dishub Kota Bandung. Selain SMPN 26 Bandung, sistem carpooling itu juga dilakukan pada 2 sekolah lain, termasuk salah satu SMA. Namun, keterlibatan SMA terkendala kewenangan yang merupakan otoritas Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dengan prinsip penerapan sistem terjadwal, Angkot to School itu mirip dengan bus sekolah atau mobil antarjemput. Titik jemput ditentukan untuk mengolektifkan siswa yang akan menggunakan angkot itu. Angkot yang telah dipilih oleh koperasi pengelolanya akan mengirimkan armada sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Lokasi penjemputan juga berdasarkan data rumah tinggal siswa yang didapat dari pihak sekolah. Dengan begitu, pengelola angkot bisa mengetahui jumlah siswa dalam setiap titik penjemputan dan disesuaikan dengan kapasitas serta jumlah armada yang dibutuhkan.

Angkot yang terlibat dalam uji coba ini menjadi armada pengangkut siswa yang terlintasi trayek. Sony mengatakan, tidak menutup kemungkinan jika angkot harus menjemput ke luar trayek yang telah ditetapkan selama tidak bersinggungan dengan trayek angkot lain.

Persoalan jarak rumah tinggal siswa dengan titik jemput juga jadi perhatian. Namun, hal itu bisa disiasati dengan dukungan orang tua yang mengantar dari rumah hingga titik jemput. Singgungan dengan trayek lain juga malah bisa mengkolaborasikan dengan koperasi angkutan lainnya. Dengan tarif yang tetap terjangkau oleh siswa, sistem sekali bayar perjalanan untuk berganti moda (multi-trip) bisa diterapkan.

“Yang penting jangan sampai ada angkot keluar jalur agar wilayah tidak saling rebut. Kita bisa tawarkan kepada koperasi angkot lain. Bisa nanti kita atur sistem multi trip,” ujarnya.

Selama ini, penggunaan kendaraan pribadi oleh siswa melengkapi padatnya lalu lintas kota akibat sistem antar-jemput menggunakan kendaraan pribadi saat jam berangkat dan pulang sekolah.

Carpooling dengan angkot ini potensial mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan jumlah signifikan. Di sisi lain, tim uji coba juga telah membuat skema bisnis yang bisa mendukung sopir angkot keluar dari masa ekonomi kritis.***

Bagikan: