Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sebagian berawan, 19.7 ° C

Selamatkan Prasasti Curug Dago!

Tri Joko Her Riadi
CURUG Dago.*/ADE BAYU INDRA/PR
CURUG Dago.*/ADE BAYU INDRA/PR

BANDUNG, (PR).- Kondisi kritis prasasti Curug Dago atau situs petilasan Raja Siam membutuhkan aksi penyelamatan yang cepat dan efektif. Selain ancaman utama dari air Sungai Cikapundung yang asam akibat tercemar kotoran sapi, situs itu juga makin terdesak oleh permukiman warga yang terus bertambah padat.

Situs Curug Dago berada di lahan seluas 3 hektare. Situs itu menjadi bagian dari kawasan yang dikelola Balai Taman Hutan Rakyat (Tahura) Djuanda. 

Kotoran sapi sebagai pencemar utama merupakan dampak dari buruknya manajemen peternakan di daerah-daerah yang mendekati hulu Sungai Cikapundung. Berdasarkan catatan Balai Tahura, kadar keasaman air Sungai Cikapundung bisa mencapai kisaran pH 4. 

Dikhawatirkan, air asam ini bakal merusak prasasti batu lewat proses pelapukan yang cepat. Banjir yang menenggelamkan prasasti batu bukan bencana yang jarang terjadi di kawasan tersebut.

Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Wiwin Djuwita Ramelan menyatakan, penyelamatan situs Curug Dago mendesak dilakukan, tetapi tidak boleh dilakukan secara gegabah. Harus ada kajian menyeluruh untuk menentukan alternatif terbaik. Salah satu yang patut dipertimbangkan adalah pemindahan prasasti batu dari lokasi asli.

”Penyelamatan harus diawali dengan kajian. Wajib itu. Tidak bisa kita main comot. Apakah mau dipindahkan ke museum atau tetap di situ, terserah. Yang pokok, harus ada kajian yang melibatkan berbagai pakar,” katanya di sela-sela diskusi bertema Penyelamatan Curug Dago, Kamis, 14 Maret 2019. 

Prasasti Curug Dago berupa dua bongkah batu yang bertuliskan huruf Siam. Masing-masing dibuat dalam kunjungan dua Raja Siam atau Thailand, yakni Rama V pada tahun 1896 dan Rama VII tahun 1901. 

Beberapa upaya pelindungan yang sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir di antaranya adalah pembuatan cungkup dan pembangunan turap di tebing sungai untuk menghindarkan dampak buruk erosi.

Selain ancaman pencemaran kotoran sapi, situs Curug Dago juga terdesak oleh makin padatnya permukiman. Salah satu dampak paling merusak adalah kebiasaan buruk warga membuang sampah ke sungai.

Diambil alih pengembang

Kepala Balai Tahura Djuanda Lianda Lubis menyatakan, Balai Tahura sudah beberapa kali mengupayakan pembelian lahan milik warga di sekitar situs Curug Dago, tetapi tidak membuahkan hasil. Belakangan, beberapa petak lahan yang hendak dibebaskan oleh Balai Tahura diduga sudah diambil alih oleh pengembang. Sebuah perumahan baru diperkirakan bakal segera berdiri di kawasan tersebut.

Jarak situs Curug Dago dengan kawasan Tahura adalah 3 kilometer. Keduanya dipisah­kan oleh lahan yang saat ini sudah dikuasai warga. Balai berkali-kali mewacanakan penanaman pohon keras khas hutan di lahan tersebut untuk meng­hubungkan kedua lokasi, tetapi selalu gagal mendapatkan izin dari warga.

”Kalau nantinya solusi final yang disepakati adalah pemindahan prasasti, kami siap menyediakan tempat khusus di museum baru yang akan di­bangun tahun ini. Keberadaan prasasti di museum bakal memudahkan akses warga untuk makin mengenal arti pentingnya,” kata Lianda.

Kepala Seksi Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten Juliadi menyatakan, BPCB terbuka untuk berbagai alternatif penyelamatan situs Curug Dago. Namun, ia menegaskan pentingnya keterlibatan semua pemangku kepentingan dalam kerja besar ini.

”Hari ini kami membuka diri untuk setiap masukan dan rekomendasi dari semua pemangku kepentingan. Tujuan kita bersama adalah menyelamatkan situs penting ini dan tidak mungkin dikerjakan oleh BPCB sendirian,” tuturnya.***

Bagikan: