Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Sesar Lembang Masuki Fase Pelepasan Energi

Hendro Susilo Husodo
SALAH satu bagian sesar Lembang di Tebing Keraton, kawasan Taman Hu­tan Raya Ir H Djuanda, Desa Ciburial, Kabupaten Bandung, Selasa, 2 Oktober 2018.*/ARIF HIDAYAH/PR
SALAH satu bagian sesar Lembang di Tebing Keraton, kawasan Taman Hu­tan Raya Ir H Djuanda, Desa Ciburial, Kabupaten Bandung, Selasa, 2 Oktober 2018.*/ARIF HIDAYAH/PR

 

NGAMPRAH, (PR).- Tanpa perlu panik berlebih, masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi gempa besar dari Sesar Lembang. Pasalnya, dari hasil penelitian terakhir sejumlah pakar, gempa Patahan Lembang tengah berada pada fase pelepasan energi untuk mengulang gempa bermagnitudo 6,5-7

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mudrik R Daryono mengatakan, Sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer dari Lembang sampai Padalarang bisa menghasilkan gempa bumi bermagnitudo 6,5-7. Namun, hal itu tak perlu ditakuti secara berlebihan.

"Secara prinsip kita harus waspada, karena sumber bencana itu ada di depan mata, tapi kita tidak perlu paranoid. Jadi, kita tanggapi dengan waspada, jaga-jaga, kemudian mengikuti prosedur-prosedur yang sudah diajarkan kawan-kawan dari BNPB atau BPBD," kata Mudrik di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 14 Maret 2019.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya bersama sejumlah peneliti yang lain, dia menjelaskan, siklus gempa bumi di Sesar Lembang bisa berulang terjadi setiap 170-670 tahun. Sementara dalam kurun waktu 560 tahun terakhir ini, belum pernah terjadi gempa bumi lagi di jalur Sesar Lembang.

"Jadi, secara hitungan tahap siklus gempa bumi atau ulang tahun gempa bumi itu, kita (Sesar Lembang) pada fase pelepasan energi. Itu fakta dari penelitian kami. Jadi, sudah 560 tahun belum pernah terjadi gempa bumi lagi. Sementara kalau kami hitung siklus gempa buminya, antara 170 sampai 670 tahun. Jadi, kita sudah berada pada fase-fase itu," katanya. 

Meski begitu, Mudrik menekankan, tak ada peneliti yang mampu memprediksi kapan suatu gempa bumi akan terjadi. Pun demikian dengan gempa Sesar Lembang. "Itu bisa terjadi 100 tahun yang akan datang, tapi bisa juga terjadi besok, enggak ada yang tahu," ujarnya.

Oleh karena itu, dia meminta Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dapat turut mewaspadai potensi gempa Sesar Lembang. Apalagi, jalur Sesar Lembang berada di Bandung Barat, yang meliputi Kecamatan Lembang, Parongpong, Cisarua, Ngamprah, dan Padalarang. 

"Saya pikir pemda lebih paham (antisipasinya), karena mereka yang paham dengan masyarakatnya sendiri. Jadi, apa saja yang sudah dilakukan kawan-kawan BPBD atau pemda pun sudah merupakan respon yang luar biasa, termasuk pihak yang lainnya. Saya kira sudah sesuai dengan yang diperlukan," katanya.***

Bagikan: