Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Haji Fadli, Penyaji Menu Sate di Konferensi Asia Afrika Wafat

Muhammad Fikry Mauludy
Haji Fadli pemilik usaha kuliner sate madrawi.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR
Haji Fadli pemilik usaha kuliner sate madrawi.*/MUHAMMAD FIKRY MAULUDI/PR

SALAH seorang pelaku sejarah Konferensi Asia Afrika pada 1955, H. M. Fadli Badjuri, wafat pada usia 112 tahun, pada Kamis, 14 Maret 2019. Sejumlah tokoh hadir di rumah duka, Jalan Simpang, Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, sebelum dikebumikan di TPU Nyengseret, Bandung.

Di kawasan Dalem Kaum dan Alun-alun Bandung, nama Haji Fadli cukup dikenal. Bahkan, berkat sajian rumah makan Madrawi yang sempat ia kelola telah mendekatkan dirinya dengan tokoh-tokoh Kota Bandung.

Haji Fadli lahir di Bangkalan, Madura, 15 Maret 1907. Putra bungsunya, Abdul Fatah Badjuri mengisahkan, kehadiran Haji Fadli ke Bandung diawali dengan misi pencarian kakek buyut bernama Rabudin.  

Menjelang abad 19, Madrawi dan ayah Haji Fadli, Badjuri, berangkat dari Madura menuju Bandung. Sampailah kakak beradik itu di Stasiun Cikudapateuh. Tanpa mereka sangka, mereka dipertemukan dengan Rabudin tidak jauh dari stasiun.

Setelah melaporkan kepada keluarganya di Madura, Madrawi dan Badjuri meminta izin pindah ke Bandung. Apalagi ketika mereka melihat ada harapan dari kehidupan Rabudin, paman mereka yang telah lebih dahulu tinggal di Bandung. Saat itu usaha Rabudin sudah tergolong maju.  

Rabudin memiliki warung nasi kaki lima di Kebon Kawung. Warung nasi itu sudah ada pengelolanya. Madrawi dan Badjuri diminta mengelola dan membuka kerja sama dengan pihak lain, tetapi gagal. Lalu, Rabudin memberi Madrawi dan Badjuri modal untuk membuat warung nasi di kawasan Kosambi.

“Ketika itu rumah makan masih jarang. Warung nasi itu laku. Santer kabar warung nasi itu terdengar hingga Dalem Wiranatakusumah V,” tutur Fatah.

Bupati pun sering makan di warung nasi mereka. Hubungan dengan Dalem Bandung mulai dekat. Lalu bupati menawarkan tempat sebagai lokasi warung makan baru di Dalem Kaum, tepat di samping Masjid Agung Bandung. Tetapi berhubung di pusat kota, kata Fatah, kakeknya diminta membangun rumah makan yang bagus, bukan seperti warung kaki lima.

“Lalu dibangun oleh kakak-adik itu. Berhubung Madrawi adalah kakak, nama itu yang diabadikan. Mulai saat itu, kalau ada tamu ke bupati, langsung ke Madrawi, dari Pendopo Kota Bandung. Lengkap dengan pelayannya. Terkadang Pak Haji Fadli yang turun langsung,” ujarnya.

Dengan suasana pusat Kota Bandung yang belum ramai, tidak banyak pesaing di sana. Meski begitu, makanan yang mereka sajikan seperti sate dan gulai terkenal dengan kelezatannya. Maka, sejumlah tokoh saat itu tak sungkan mengarahkan tamu negara ke rumah makan Madrawi.

Saking tenarnya, rumah makan Madrawi bukan sekadar tempat makan, tetapi sebagai tempat kumpul dan berdiskusi tokoh-tokoh bangsa sekelas Soekarno, Agus Salim, hingga Ali Sostroamidjojo. Dari situ usaha mereka terus berkembang. Madrawi pun wafat 1943, menyusul kemudian Badjuri pada 1950an. Pengelolaan rumah makan diteruskan Haji Fadli, karena Madrawi tidak punya keturunan.

“Sampai akhirnya ada KAA pada tahun 1955. Melihat peralatan lengkap, dua bulan sekali ada kontrol dari dinas kesehatan dan mendapatkan pengakuan higienis, maka rumah makan Madrawi diusulkan jadi bagian konsumsi peserta KAA,” tutur Fatah.

Berhubung bukan tanah milik, mereka mengikhlaskan saat pemerintah meminta tanah dikembalikan pada 1987. Merasa tidak memiliki lahan itu, kata Fatah, Haji Fadli pun tidak menerima tawaran uang pengganti.

Namun, hasil dari usaha rumah makan itu telah mampu dibelikan rumah di Jalan Simpang, di samping Jalan Kapatihan. Berhubung tidak ada lahan berjualan, kata dia, Haji Fadli lebih memilih menikmati hidup dengan mengembangkan pengajian Majelis Salawat Tjakraboeana.

Cerita kehidupan berlanjut dari sisi spiritual hingga kebudayaan. Hingga akhir hayatnya, relasi almarhum banyak didominasi warga yang bergerak sebagai pejuang kehidupan, sosial, lingkungan.

“Bapak lebih menikmati kehidupan akhir-akhir ini. Akhirnya bisnis sama sekali tidak teringat oleh Bapak. Bapak banyak berpesan tentang keyakinan terhadap agama Islam yang memang sudah berbaur dengan tradisi. Islam yang dari lama berkembang penerapannya lebih manusiawi. Nanti ke depan, ada banyak aliran baru, keun weh lintasan-lintasan hungkul. Jadi kita diajarkan menjaga agama dan negara kita,” tutur Fatah.***

Bagikan: