Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Umumnya berawan, 21.9 ° C

Berkat Teknologi Informasi, Makin Banyak Pemuda Tertarik pada Pertanian

Hendro Susilo Husodo
SEORANG warga membeli sayur-sayuran di acara Peluncuran Desa Tani dan Expo Tani Milenial di Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 13 Maret 2019.*/HENDRO SUSILO/PR
SEORANG warga membeli sayur-sayuran di acara Peluncuran Desa Tani dan Expo Tani Milenial di Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 13 Maret 2019.*/HENDRO SUSILO/PR

NGAMPRAH, (PR).- Sektor pertanian dinilai menarik bagi para pemuda. Bahkan banyak bermunculan petani milenial yang sukses.

Pemanfaatan teknologi informasi dalam memproduksi dan memasarkan komoditas pertanian dianggap sebagai kunci bagi kesuksesan petani milenial. Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan, pandangan selama ini mengenai sektor pertanian yang becek dan kotor sudah mulai ditinggalkan.

Menurut dia, pemuda banyak yang tertarik menggeluti pertanian dengan memanfaatkan perkembangan zaman. "Contohnya apa, sudah dilakukan mekanisasi. Pola transaksi juga sudah mengikuti generasi milenial, sudah banyak berkembang pesat. Jadi, teknologi informasi dimanfaatkan untuk menggenjot produksi dan mengejar pasarnya," kata Suwandi di Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 13 Maret 2019.

Pada kesempatan tersebut, Suwandi turut meresmikan Peluncuran Desa Tani dan Expo Tani Milenial yang digagas oleh Kelompok Tani Macakal. Kelompok tani yang dipelopori oleh lima pemuda itu telah sukses menghasilkan komoditas pertanian yang berkualitas untuk dipasarkan ke dalam dan luar negeri.
 

Suwandi mengatakan, pihaknya pun gencar melakukan promosi pertanian kepada para pemuda, sehingga minat pemuda untuk terjun ke pertanian meningkat. Bahkan, kata dia, antusiasme generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke Politeknik Pengembangan Pertanian (Polbangtan) membeludak sampai 13.000 persen.

"Artinya sekarang sudah terbukti sektor pertanian merupakan sektor yang menguntungkan. Ini sangat menarik bagi generasi muda. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan teknologi yang tersedia, sehingga sumber daya yang ada dapat termanfaatkan secara baik," tuturnya.

Berdasarkan data yang dimiliki, dia menyebutkan, saat ini terdapat lebih dari 300.000 petani muda. Jumlah itu pun akan terus ditingkatkan hingga mencapai jutaan. "Soalnya, geliatnya itu sangat kencang. Antusiasme masyarakat generasi muda untuk terjun ke pertanian sangat tinggi," ujarnya.

Diarahkan untuk kelola aneka komoditas pertanian

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Hendi Jatnika menyatakan, pihaknya berupaya menumbuhkan petani milenial melalui pengembangan sejumlah komoditas. Dia menyontohkan, komoditas jagung di Garut sudah banyak diminati oleh para pemuda. Pun demikian dengan komoditas kopi.

"Arahnya ke depan tentu banyak lagi petani muda yang menjadi penggerak pertanian di Indonesia, termasuk di Jabar. Soalnya, sungguh sayang kalau lahan tidak dikelola, ditinggalkan oleh para petani. Mau jadi apa masyarakat kita?" katanya.

Lebih lanjut, dia mengapresiasi upaya Kelompok Tani Macakal untuk memajukan petani milenial di sekitar Cibodas. Bekerja sama dengan Dompet Dhuafa, kelompok tani tersebut ikut membantu 12 petani binaan Dompet Dhuafa dalam mengekspor produk sayuran ke Singapura.

"Kalau melihat kegiatan ini, saya merasa reugreug. Isu bahwa pertanian yang ditinggalkan oleh pemuda itu tidak terbukti seluruhnya. Saya lihat kelompok Macakal ini kan digagas oleh pemuda, mudah-mudahan bisa jadi inspirasi, minimal di Kabupaten Bandung Barat. Ternyata, pertanian ini kalau dikelola dengan baik sungguh menjanjikan," katanya.***

Bagikan: