Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Warga Jepang pun Turun Tangan Benahi Sungai Citarum

Cecep Wijaya Sari
DUA mahasiswa asal Jepang, Reo (kiri) dan Kasumi (kedua kiri) berfoto bersama pegiat lingkungan Indra Darmawan (kanan) dan Ahmad Dana (kedua kanan) di Kampung Babakan Cianjur, Desa/Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 7 Maret 2019.*/CECEP WIJAYA/PR
DUA mahasiswa asal Jepang, Reo (kiri) dan Kasumi (kedua kiri) berfoto bersama pegiat lingkungan Indra Darmawan (kanan) dan Ahmad Dana (kedua kanan) di Kampung Babakan Cianjur, Desa/Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 7 Maret 2019.*/CECEP WIJAYA/PR

UPAYA pemulihan Sungai Citarum yang disebut-sebut sebagai sungai tekotor di dunia ternyata mendapatkan apresiasi dari warga asing. Kasumi (20) dan Reo (20) di antaranya. Kedua mahasiswa asal Jepang tersebut menyaksikan langsung kondisi Citarum yang lebih baik dibandingkan dengan yang mereka ketahui dari berbagai media di internet.

“Tadinya saya kira, Citarum itu dipenuhi sampah yang mengalir bersama aliran sungai. Ternyata di sini, tidak seperti itu. Justru lebih bagus dari yang saya pikir sebelumnya,” kata Kasumi di Kampung Babakan Cianjur, Desa/Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 7 Maret 2019.

Menurut Kasumi, hal itu membuktikan kesadaran masyarakat yang tinggal di sekitar Citarum sudah cukup tinggi untuk merawat lingkungan. Di Kampung Babakan Cianjur misalnya, warga sekitar memanfaatkan eceng gondok dari sungai untuk dibuat menjadi berbagai barang bernilai ekonomis. Padahal, eceng gondok selama ini hanya dianggap sebagai tanaman pengganggu.

Wanita berkulit terang ini juga mengaku senang bisa bersama-sama warga setempat membersihkan sampah dan mengambil eceng gondok dari Sungai Citarum di kawasan tersebut. “Di sini, warga sangat koperatif dalam mengerjakan sesuatu. Dan, ini hal yang baik untuk bisa membuat lingkungan menjadi lebih baik,” ujar mahasiswi yang mengambil jurusan Ilmu Ekonomi Internasional di salah satu universitas di Tokyo, Jepang.

Senada dengan Kasumi, Reo (20) juga mengungkapkan, sifat gotong-royong warga Indonesia dalam mengerjakan sesuatu jarang dimiliki warga Jepang. Namun, dia pun secara perlahan mengajarkan kebiasaan positif warga Jepang yang masih belum dimiliki warga Indonesia, seperti tidak membuang sampah sembarangan.

“Ketika melihat anak kecil membuang sampah plastik dari jajanan mereka, saya bilang, jangan buang plastik sembarangan. Itu tidak bagus,” ujarnya. Meski hal kecil, menurut dia, hal itu bisa berdampak besar terhadap perilaku anak tersebut di masa mendatang.

Mahasiswa jurusan Komunikasi Internasional dari universitas di Jepang ini juga berharap agar budaya gotong-royong yang dimiliki masyarakat Indonesia tidak akan luntur jika negeri ini suatu saat lebih berkembang. Sebab di Jepang, semangat gotong-royong makin tergerus justru ketika perekonomian terus maju.

Untuk diketahui, Reo dan Kasumi merupakan relawan dari sebuah NGO di Jepang untuk mengikuti program lingkungan bekerja sama dengan yayasan GREAT Indonesia yang berbasis di Semarang. Kedua organisasi ini bekerja sama dengan Yayasan Bening Saguling yang dikelola Indra Darmawan untuk mempelajari pemberdayaan masyarakat dalam mengelola lingkungan sekitar.

Koordinator program tersebut, Ahmad Dana mengungkapkan, kedua warga Jepang tersebut akan tinggal di Kampung Babakan Cianjur selama dua pekan hingga 12 Maret 2019. Tak hanya melakukan program lingkungan, mereka juga mengajar bahasa Inggris dan bahasa Jepang di sekolah-sekolah sekitar.

Program ini merupakan yang ketiga kalinya digelar setelah sebelumnya diikuti relawan asal negara-negara Asia dan Eropa. “Yang kami harapkan dari kegiatan ini, tak hanya menumbuhkan kecintaan warga di sini terhadap lingkungan, tetapi juga saling mengenal dan menghargai budaya dari setiap negara,” ujarnya.***

Bagikan: