Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian cerah, 31.3 ° C

Bangunan Liar Kembali Marak di Situ Cileunca, Indonesia Power Tegaskan Tak Beri Izin

Handri Handriansyah
BANGUNAN liar kembali ditemukan di sekitar Situ Cileunca, Kabupaten Bandung.Padahal sejak ditertibkan 2016 silam, sudah jelas ada rambu larangan mendirikan bangunan di area tersebut.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
BANGUNAN liar kembali ditemukan di sekitar Situ Cileunca, Kabupaten Bandung.Padahal sejak ditertibkan 2016 silam, sudah jelas ada rambu larangan mendirikan bangunan di area tersebut.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

NGAMPRAH, (PR).- PT Indonesia Power Unit Pembangkitan (UP) Saguling menegaskan bahwa mereka tidak pernah memberikan izin pendirian bangunan apapun di sekitar Situ Cileunca, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kendati begitu, untuk melakukan penertiban bangunan liar yang kembali marak tersebut, mereka terkendala oleh mekanisme yang tidak mudah.

General Manajer PT Indonesia Power UP Saguling Buyung Arianto mengatakan, penertiban hanya bisa dilakukan setelah ada keputusan pengadilan. "Hal itu sesuai dengan mekanisme Undang-undang," ucapnya saat ditemui Kamis, 7 Maret 2019.

Menurut Buyung, selama ini pihaknya selaku pemilik aset lahan Situ Cileunca, terus berkoordinasi dengan pihak terkait seperti pemerintah daerah setempat dan pengadilan. Hal itu untuk mencegah terjadinya kembali pendirian bangunan liar setelah penertiban sebelumnya pada 2016 lalu.

Meskipun demikian, terkait maraknya kembali bangunan liar di sekitar Situ Cileunca, Buyung melansir bahwa pihaknya telah melakukan pendataan. Dengan begitu akan ada data pasti berapa banyak bangunan yang berdiri dan harus ditertibkan nantinya.

Dari hasil pendataan, PT Indonesia Power sudah membagi lahan Situ Cileunca ke dalam ke dalam tiga zona. Yang pertama adalah zona hijau yaitu area lahan yang tidak terdapat bangunan liar atau tidak mengalahi alih fungsi dan merupakan area penghijauan.

Yang kedua, kata Buyung, adalah zona merah yaitu area lahan yang sudah terdapat bangunan liar serta terjadi alih fungsi. Untuk zona ini, PT Indonesia Power sudah melakukan identifikasi pengelola bangunan atau lahan, melakukan sosialisasi dan pemasangan rambu-rambu peringatan, memberikan surat imbauan dan teguran. 

Sementara yang terakhir adalah zona hitam atau area lahan yang berpotensi terjadinya konflik atau perselisihan yang berakibat kepada tuntutan hukum. Di zona ini, PT Indonesia Power menyampaikan surat pemberitahuan kepada pihak yang terkait melalui mekanisme prosedur yang berlaku di perusahaan tersebut.

Semua data tersebut, kata Buyung, terus diperbarui dan dilaporkan secara rutin ke kantor pusat. Oleh karena itu ia memastikan tidak pernah ada pembiaran apalagi pemberian izin terkait bangunan liar yang kembali marak berdiri di sekitar Situ Cileunca.

Meskipun demikian, PT Indonesia Power pun tidak akan tinggal diam dan akan melakukan langkah untuk mensterilkan kembali areal sekitar Situ Cileunca. Apalagi kawasan itu merupakan sumber energi primer untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Plengan, PLTA Lamajan dan PLTA Cikalong yang merupakan objek vital. 

Seperti diberitakan sebelumnya, bangunan liar kembali marak di sekitar kawasan objek wisata Situ Cileunca, Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Berdasarkan pengamatan wartawan Pikiran Rakyat, bangunan tersebut berdiri di pinggiran Situ Cileunca tepat di samping rambu larangan pendirian bangunan yang dipasang oleh PT Indonesia Power, tepat di seberang Kantor Desa Warnasari.

Dalam plang tersebut, sebenarnya tertulis dengan jelas kalimat "Dilarang Mendirikan Bangungan dan Menggarap Lahan Milik PLN Tanpa Izin (UU No. 51 Tahun 1960)". Namun seolah mengolok, sejumlah warung berdiri di samping plang tersebut dengan bangunan semi permanen dan bahkan dilengkapi dengan antena parabola.

Menanggapi masalah itu, Pemerintah Desa Warnasari mengaku tak bisa berbuat banyak untuk menertibkan aktivitas pembangunan, niaga dan pertanian di sekitar objek wisata Situ Cileunca. Hal itu disebabkan oleh tak adanya wewenang, karena objek wisata tersebut dikelola langsung oleh PT Indonesia Power sebagai pemilik aset.

Kepala Desa Warnasari Usep Koswara mengatakan, pada 2014 lalu dirinya dikunjungi oleh pihak PT Indonesia Power bahwa bangunan liar yang sudah berdiri ketika itu akan ditertibkan. "Mereka bilang yang sudah ada tidak ada masalah dan tinggal ditertibkan, tetapi selanjutnya tidak boleh ada bangunan baru berdiri karena aturannya sudah jelas dalam undang-undang," ucapnya.

Usep menambahkan, penertiban dan relokasi pun sempat dilakukan pada 2015 dan sejak itu untuk beberapa waktu memang Situ Cileunca terbebas dari bangunan liar. Namun ia pun mengaku tak bisa berbuat banyak ketika dalam beberapa waktu terakhir kembali bermunculan bangunan di sekitar Situ Cileunca.

Menurut Usep, bangunan dan masalah izinnya, menjadi wewenang PT Indonesia Power sebagai pemilih lahan objek wisata tersebut. "Kami sejauh ini hanya bisa memberi imbauan agar pemilik bangunan tersebut membereskan sampah dan limbahnya. Termasuk sempat saya datangi sendiri sebuah toko matrial yang berdiri hanya satu meter dari pinggir situ," tutur Usep.***

Bagikan: