Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Umumnya berawan, 23.2 ° C

Adul, Antara Mesin Las dan Status Disabilitas

Hendro Susilo Husodo
ADUL mengelas besi untuk pembuatan pagar di Kampung Rancapanggung, RT 5 RW 9, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.*/HENDRO SUSILO HUSODO/PR
ADUL mengelas besi untuk pembuatan pagar di Kampung Rancapanggung, RT 5 RW 9, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.*/HENDRO SUSILO HUSODO/PR

LANTARAN tak memiliki anggota tubuh yang lengkap, penyandang disabilitas seringkali dipandang sebelah mata untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu hal. Akan tetapi, pandangan tersebut tak berlaku bagi Abdul Manan (37) alias Adul.

Masyarakat di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, rupanya cukup percaya untuk menyerahkan pekerjaan pembuatan pagar, kanopi, atau jaringan, maupun menyervis motor dan mobil, kepada Adul. Dengan dua kaki yang tak sempurna, kualitas pekerjaannya bisa diadu dengan orang lain.

"Kalau secara fisik, bukan maksud saya menganggap rendah (kaum difabel), tapi skill dia (Adul) lebih dari orang normal. Bahkan, orang lain juga banyak yang butuh. Dia sudah terkenal, saya enggak khawatir dengan hasil pekerjaannya. Pagar itu dia yang kerjakan, hasilnya rapi," kata Abay (40) sambil menunjuk pagar setinggi tiga meter.

Pada saat bersamaan, Adul dan dua saudaranya tengah mengerjakan pembuatan pagar. Adul terlihat paling sibuk dalam mengelas besi, karena memang dia yang paling terampil dibandingkan yang lain. Malah, dia sampai memanjati tangga bambu untuk mengerjakan pagar di lantai dua bangunan.

"Berhubung kebutuhan, saya kerja seperti ini. Saya mulai terjun ke dunia las sejak tahun 2007, sampai sekarang enggak berhenti. Dari saya belum punya isteri, sampai sekarang saya punya anak. Ya, memang enggak kerja sendiri, saya tetap dibantu oleh teman-teman," kata Adul.

Bapak dari seorang anak berumur empat tahun itu mengaku tak memiliki kendala berarti dalam membuat pagar. Salah satu kendala, aku dia, ialah kendaraan untuk berpergian. Namun, kendala itu pun dia pecahkan sendiri, dengan memodifikasi motornya. Adul pun akhirnya cekatan dalam menyervis motor atau mobil.

"Saya belajar sedikit-sedikit dari orang lain, terus coba sendiri. Saya kan sama sekali enggak sekolah, karena orangtua takut saya jadi minder. Jadi, bisa baca tulis itu dari pergaulan. Dulu saya memang pernah minder, umur 13 tahun baru bisa ke luar," tutur pria yang aktif berorganisasi itu. 

Saat ini Adul bersyukur karena cukup rutin mendapat proyek pengerjaan bangunan. Dalam sebulan, dia mengaku paling tidak memperoleh penghasilan sekitar Rp 2 juta. Di sela pengerjaan proyek bangunan, dia pun masih suka menyervis mesin kendaraan. Isterinya, Siti Bariah (22), ikut membantu Adul dengan berjualan bensin di rumah.

"Dulu saya pernah ternak bebek, pernah juga kerja potong kayu, kalau sekarang kebanyakan ngelas, bikin pagar, nyervis, apa saja yang bisa jadi uang," kata anak ketiga dari empat bersaudara, yang seringkali mempekerjakan kakak dan adiknya yang terlahir dengan fisik normal.***

Bagikan: