Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Cerah berawan, 31.2 ° C

Pojok Dilan atau Kabayan dan Nyi Iteung?

Tim Pikiran Rakyat
EKSPRESI penolakan terhadap pembangunan Pojok DIlan/GALAMEDIANEWS
EKSPRESI penolakan terhadap pembangunan Pojok DIlan/GALAMEDIANEWS

BANDUNG, (PR).- Pembangunan Pojok Dilan di Kota Bandung masih mengundang polemik. Warga Jawa Barat pada umumnya menolak rencana pembangunan yang digagas Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

"Rencana pembangunan taman dengan diberi nama Dilan ini membuat saya secara pribadi sangat kecewa. Warga Jabar lain pun banyak yang satu suara dengan saya. Mereka menilai rencana ini sangat berlebihan," kata pemerhati sosial dan pendidikan dari Lembaga Bantuan Pemantau Pendidikan Jawa Barat, Asep Maung, Senin 4 Maret 2019.

Asep Maung mengatakan, kalaupun Ridwan Kamil ingin memberikan apresiasi terhadap kesuksesan film Dilan, alangkah lebih baik penghargaan diberikan langsung kepada penulisnya, Pidi Baiq. Jika membangun taman dengan nama sesuai film, dia menilai hal itu sangat berlebihan.

"Kalau ingin membangun taman bertema literasi, sah-sah saja, itu bukan hal yang salah. Tapi kalau diberi nama Dilan, sangat berlebihan. Ini terkait dengan tokoh Dilan. Saya juga khawatir anak-anak tidak bisa mencerna isi film tersebut secara gamblang karena ada adegan anak-anak SMA yang ikut-ikutan geng motor serta berpacaran dengan teman sekolahnya," ungkap Asep Maung seperti dilaporkan pewarta Galamedianews, Lucky M Lukman.

DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

Asep Maung khawatir film berdampak terhadap perkembangan akhlak pelajar di Jawa Barat, khususnya siswa SMA yang cendrung sedang mencari jati diri.

"Kalau nanti ada taman atau Pojok Dilan, seolah-olah bahwa perilaku Dilan dan karakter Dilan itu harus dicontoh. Ini akan menjadi satu permasalahan moral tentunya," kata Asep Maung.

Kabayan dan Nyi Iteung jadi usulan

Dia menilai, berkaitan dengan literasi, akan lebih elok jika taman dinamai Taman Literasi. Atau bahkan lebih baik jika penamaan mengambil nama tokoh film di Jawa Barat.

"Saya rasa ada yang lebih fenomenal dan lebih cendrung sesuai dengan karakter budaya yang ada di Jawa Barat, contohnya almarhum Kang Ibing dengan Kabayannya dan Nyi Iteungnya. Saya rasa nama Kabayan dan Iteung, orang se-Indonesia pun sudah tahu dan pasti identik dengan Jawa Barat. Kalau pun mau perorangan dengan mengedepankan nama dari pemeran, saya rasa almarhum Kang Ibing paling tepat," kata Asep Maung.

Dengan masih adanya polemik Pojok Dilan di tengah masyarakat, Asep Maung meminta Ridwan Kamil mengkaji ulang pembangunan Pojok Dilan dan tidak memaksakan diri.

Ridwan Kamil harus memikirkan aspirasi warga Jawa Barat dan jangan mengedepankan ide yang muncul dari inisiatif pribadi.

"Bukan artinya saya secara pribadi tidak menghargai, tapi justru ini karena perhatian saya ke gubernur. Hemat saya, pembuatan taman, patung, prasasti atau apapun itu, diharapkan identik dengan nilai-nilai budaya dan sejarah atau dengan nama-nama pejuang pendahulu kita yang ada di Jawa Barat ini. Jadi, jangan sampai jati teu kasilih ku junti," ujarnya.***

Bagikan: