Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23 ° C

Sudut Dilan Tak Ada Urgensinya, Hanya Strategi Pemasaran Produk

Bambang Arifianto
DOK. HUMAS PEMPROV JABAR
DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

BANDUNG, (PR).- Budayawan Sunda sekaligus Dosen Universitas Pasundan Hawe Setiawan menilai, tidak ada urgensi pembuatan Sudut Dilan terkait kepentingan mayortas warga Jawa Barat.

Sudut Dilan dan arak-arakan film Dilan 1991 yang melibatkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil hanya strategi pemasaran produk industri pertunjukan.

"Kegiatan Gubernur Ridwan Kamil, Wali Kota Oded M Danial, dan Menteri Pariwisata di Bandung yang antara lain berupa arak-arakan dan kumpul-kumpul terkait film Dilan 1991 hanyalah bagian dari sebagian remaja Kota di Bandung hari ini. Euforia itu tercipta antara lain dari strategi pemasaran produk industri pertunjukan," kata Hawe Setiawan via pesan Whatsapp kepada Pikiran Rakyat, Selasa 26 Februari 2019.

Apa yang dilakukan Ridwan Kamil dengan euforia Dilan memperlihatkan bertemunya pemasaran hiburan dan pemasaran politik. "Industri hiburan butuh penghebohan konsumen, politisi butuh branding yang melekat pada potensi pemilih dari kalangan milenial," ucapnya.‎

DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

Sebagai pejabat publik, Ridwan Kamil sebaiknya mengutamakan program yang lebih nyata seperti menangani buruknya sarana MCK di Cimenyan, ancaman banjir di sekitar ibu kota provinsi, dan banyak persoalan lain.

"Jangan kelewat asyik bermain media sosial dan pencitraan. Kalau mendapat kritik dari masyarakat, jangan reaktif. Kasih penjelasan yang masuk akal. Dengarkan keragaman suara publik," ucap Hawe Setiawan.

Kalau memberi manfaat, kenapa tidak?

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersikukuh bahwa pembangunan Sudut Dilan di Kota Bandung bermanfaat dan menunjukkan keberpihakannya kepada pengembangan kebudayaan Jawa Barat.

Dengan nada meninggi, pada Senin 25 Februari 2019 di tasikmalaya, ‎ia meminta media massa tak membentur-benturkan persoalan mana yang penting antara kebudayaan kontemporer dan tradisional.

"Pertanyaanya memberi manfaat atau tidak, itu saja, kalau memberi manfaat, kenapa tidak?" kata Ridwan Kamil seusai menghadiri Peringatan Perjuangan Pahlawan Nasional KHZ Mustafa dan Tasyakur Hari Jadi ke-92 Pesantren Sukamanah di Pondok Pesantren Sukamanah di Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 25 Februari 2019.

Menurut dia, Sudut Dilan hanya mengambil ruang sudut kecil dari sebuah taman besar yang bermanfaat guna memunculkan budaya literasi.

"Itu kan dari novel menjadi film dan sukses, enggak semua sukses, jadi kenapa diapresiasi karena ada simbolis kesuksesan," ujarnya.

Dia menampik lebih mengutamakan budaya kontemporer ketimbang tradisional atau kebudayaan lama.

"Kami bikin pusat budaya di Garut, kami bikin pusat budaya di Sumedang, di Ciamis. Jadi, budaya kontemporer juga dihargai, budaya tradisi juga dihargai," ucapnya.***

Bagikan: