Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Umumnya berawan, 17.5 ° C

Bangunan Liar Marak di Sekitar Situ Cileunca

Handri Handriansyah
SEJUMLAH bangunan yang diduga tak berizin kembali marak di pinggiran objek wisata Situ Cileunca, Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Rabu 27 februari 2019, Kabupaten Bandung. Sebagian dari bangunan itu bahkan berdiri tepat di samping plang larangan mendirikan bangunan di seberang Kantor Desa Warnasari.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
SEJUMLAH bangunan yang diduga tak berizin kembali marak di pinggiran objek wisata Situ Cileunca, Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Rabu 27 februari 2019, Kabupaten Bandung. Sebagian dari bangunan itu bahkan berdiri tepat di samping plang larangan mendirikan bangunan di seberang Kantor Desa Warnasari.*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

SOREANG, (PR).- Meski sempat ditertibkan pada 2015, bangunan  liar di sekitar kawasan objek wisata Situ Cileunca, Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung kembali marak. Selain itu, masalah sedimentasi dan sampah yang belum kunjung tuntas pun dikeluhkan warga sekitar karena membuat tingkat kunjungan ke objek tersebut kian lesu.

Berdasarkan pengamatan "PR", sejumlah bangunan  liar kembali berdiri di pinggiran Situ Cileunca. Bahkan tak sedikit bangunan tersebut berdiri tepat di samping plang larangan pendirian bangunan yang dipasang oleh PT Indonesia Power, tepat di seberang Kantor Desa Warnasari.

Dalam plang tersebut, sebenarnya tertulis dengan jelas kalimat "Dilarang Mendirikan Bangunan dan Menggarap Lahan Milik PLN Tanpa Izin (UU No. 51 Tahun 1960)". Namun seolah mengolok-olok, sejumlah warung berdiri di samping plang tersebut dengan bangunan semi permanen dan bahkan dilengkapi dengan antena parabola.

Pemandangan tak enak terlihat juga di Situ Cileunca sendiri. Sampah-sampah mengapung  merusak pemandangan di lokasi ekowisata tersebut. "Selain sampah, aktivitas pertanian di dalam situ saat kondisi kering juga masih terjadi," ujar salah seorang warga sekitar, Asep (36).

Menurut Asep, sampah tersebut berasal dari dua sumber. Selain dari aktivitas bangunan yang didominasi warung di sekitar situ, sampah juga berasal dari rumah tangga warga yang masuk ke Situ Cileunca melalui selokan.

Asep mengaku khawatir dengan kondisi tersebut karena bisa menjadi pemicu banjir jika curah hujan tinggi terus terjadi seperti beberapa waktu terakhir. "Dengan banyaknya sampah dan sedimentasi di dasar situ, saya khawatir bisa meluap dan membanjiri rumah warga," ujarnya.

Menanggapi masalah itu, Pemerintah Desa Warnasari mengaku tak bisa berbuat banyak untuk menertibkan aktivitas pembangunan, niaga dan pertanian di sekitar objek wisata Situ Cileunca. Hal itu disebabkan oleh tak adanya wewenang, karena objek wisata tersebut dikelola langsung oleh PT Indonesia Power sebagai pemilik aset.

Kepala Desa Warnasari Usep Koswara mengatakan, pada 2014 lalu dirinya dikunjungi oleh pihak PT Indonesia Power bahwa bangunan liar yang sudah berdiri ketika itu akan ditertibkan. "Mereka bilang yang sudah ada tidak ada masalah dan tinggal ditertibkan, tetapi selanjutnya tidak boleh ada bangunan baru berdiri karena aturannya sudah jelas dalam undang-undang," ucapnya.

Usep menambahkan, penertiban dan relokasi pun sempat dilakukan pada 2015 dan sejak itu untuk beberapa waktu memang Situ Cileunca terbebas dari bangunan liar. Namun ia pun mengaku tak bisa berbuat banyak ketika dalam beberapa waktu terakhir kembali bermunculan bangunan di sekitar Situ Cileunca.

"Kami sejauh ini hanya bisa memberi imbauan agar pemilik bangunan tersebut membereskan sampah dan limbahnya. Termasuk sempat saya datangi sendiri sebuah toko material yang berdiri hanya satu meter dari pinggir situ," tutur Usep.

Situ menjadi dangkal

Sementara terkait bangunan dan masalah izinnya, Usep menegaskan bahwa hal itu menjadi wewenang PT Indonesia Power sebagai pemilih lahan objek wisata tersebut. Begitu juga soal izin bercocok tanam di dalam situ saat kondisi kering.

Aktivitas itu diakui oleh Usep telah menimbulkan pendangkalan Situ Cileunca dari waktu ke waktu. "Sejauh ini belum berdampak meluapnyna air situ, tetapi kekhawatiran warga terkait potensi bencana sudah sering kami terima," ucapnya.

Meskipun demikian, Usep mengakui masalah sampah di Situ Cileunca juga tak lepas dari minimnya kesadaran warganya. Padahal sosialisasi tentang aturan tak boleh membuang sampah sembarangan terus dilakukan

"Saya sendiri bingung, karena sebelumnya pada 2015 sempat dipanggil oleh kecamatan saat Situ Cileunca kering dan sampah terlihat menumpuk di dalamnya. Sampah itu memang berasal dari rumah tangga warga kami yang masuk ke situ melalui selokan," kata Usep.

Sejak itu, kata Usep, aparat Desa terus memantau aktivitas warga dalam membuang sampah mereka. Namun hingga kini masih saja banyak oknum yang mencari kelengahan aparat dan tetap membuang sampah ke selokan yang alirannya berakhir di Situ Cileunca.***
 

Bagikan: