Pikiran Rakyat
USD Jual 14.048,00 Beli 14.146,00 | Langit umumnya cerah, 22.1 ° C

Nama Dilan di Ruang Publik Berlebihan? Ini Kata Para Pengamat

Dewiyatini
DOK. HUMAS PEMPROV JABAR
DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

BANDUNG,(PR).- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil merencanakan pembuatan Taman Dilan di Kota Bandung. Pun Menteri Pariwisata Arief Yahya meresmikan Sudut Dilan di sekitar GOR Saparua Kota Bandung.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan Asep Warlan menilai penamaan "Dilan" di ruang publik tidaklah relevan. Asep mengatakan setiap kita membuat bangunan monumental pasti ada peristiwa kesejarahannya bagi masyarakat setempat.

"Ada simbol sosiologis dan makna yang terkandung dari bangunan monumental tersebut," ucapnya ketika dihubungi pada Minggu 24 Februari 2019.

Sementara bila profil "Dilan" yang dilekatkan dengan bangunan atau hal-hal yang monumental, dirasa tidak tepat bagi masyarakat Bandung. Asep tidak tahu apakah ini bagian dari upaya meraih simpati generasi milenial secara temporer.

"Kalau mau dalam konteks perfilman dan literasi, kenapa tidak dengan tokoh-tokoh Bandung Lautan Api, atau pahlawan seni dari Bandung. Bisa juga pahlawan olah raga. Bahkan pahlawan perempuan yang menempati ruang penting dalam kebudayaan Sunda dan Jawa Barat," ujar Asep.

Tanpa makna khusus Dilan bagi Bandung

Dilan ini, kata Asep, hanya tokoh fiktif yang diciptakan sebagai tokoh remaja dalam novel yang kemudian difilmkan. Menurut Asep, Dilan tidak memiliki makna khusus di Bandung. "Ini hanya akan menjadi hal yang kontraproduktif. Memancing pro dan kontra dari masyarakat," kata Asep.

Lebih lanjut Asep mengatakan tema bangunan atau ruang publik secara monumental harus ada kaitannya dengan ideologis dan perjuangannya. Asep menyebut masih banyak nama-nama yang lebih layak disematkan seperti Dewi Sartika dan Inggit Garnasih.

"Saya merasa ini memang agak aneh. Tidak jelas konteksnya. Mungkin ada maksud politik, tapi rasanya tidak akan kapeunteun oleh masyarakat Bandung. Ini ruang publik, karena itu tokoh yang dilekatkan juga harus nama dan simbol yang berkaitan dengan ruang publik. Bukan hal yang sifatnya temporer," ucap Asep. 

Insentif tim sukses calon presiden?

Sementara itu, pengamat politik Universitas Padjadjaran Firman Manan, penamaan ruang publik dengan tokoh fiktif "Dilan" ini akan memberikan insentif tersendiri bagi Ridwan Kamil. Sentimen positif akan lahir dari milenial, kata Firman, yang menilai bahwa Ridwan Kamil berhasil mempertahankan positioning dengan kedekatan milenial. 

Firman juga menyebutkan peresmian ruang publik tersebut bisa juga sebagai upaya menarik generasi milenial untuk memilih pasangan 01, Jokowi - Ma'ruf Amin. Meskipun Ridwan Kamil tidak secara eksplisit menyinggung pemilu. "Ridwan Kamil ini influencer dan dapat diasosiasikan sebagai pendukung 01 yang mungkin saja memberikan insentif bagi pasangan 01," ucapnya.

Namun, jika dalam peresmian dengan jelas mendorong pemilih pemula atau milenial memilih pasangan 01, lanjut Firman, maka pengaruhnya cukup efektif. Ditambah lagi, dukungan itu disampaikan melalui media mainstream atau media sosialnya.***

Bagikan: