Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Sebagian berawan, 22.7 ° C

Peluang Emas Bisnis Pot Kayu

Hendro Susilo Husodo
AGUS Suherman (47) di di bengkel pembuatan pot kayu miliknya, di Kampung Sukamanah, RT 3 RW 11, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 21 Februari 2019.*/HENDRO HUSODO/PR
AGUS Suherman (47) di di bengkel pembuatan pot kayu miliknya, di Kampung Sukamanah, RT 3 RW 11, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 21 Februari 2019.*/HENDRO HUSODO/PR

BERAWAL dari coba-coba karena melihat ada peluang bisnis, empat tahun lalu Agus Suherman (47) mulai membuat pot bunga berbahan kayu. Kini, dalam sebulan dia dapat menghasilkan omzet Rp 20-40 juta dari penjualan berbagai jenis kerajinan dari kayu, utamanya pot bunga.

"Di sini kan termasuk daerah sentra bunga, malah ada beberapa tempat wisata bunga. Waktu itu saya lihat kebanyakan pot bunga yang dijual itu pot polos yang warna hitam," kata Agus di bengkelnya, di Kampung Sukamanah, RT 3 RW 11, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 21 Februari 2019.

Kondisi tersebut membuatnya terangsang untuk berkreasi membuat pot bunga yang menarik. Pilihannya ialah menggunakan kayu jati belanda, karena ada serat kayu yang timbul. Pot bunga kayu, kata dia, jadi punya nilai estetik dan terlihat elegan.

"Saya belajar otodidak bikin pot pakai kayu jati belanda. Coba-coba di rumah, lama-lama jadi terasah. Coba dijual di tempat wisata, alhamdulillah laku. Semakin ke sini, jadi semakin berkembang. Bukan cuma pot bunga, tapi bermacam-macam kerajinan dari kayu atau batok kelapa," tuturnya. 

Selain menjual di tempat wisata, Agus juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan berbagai produk yang dihasilkannya. Dengan akun Facebook Ag Orchid & Craft dan Jual Pot Kayu, kerajinan kayu yang dibuatnya telah dikirimkan ke berbagai daerah, dari Jogja, Malang, Surabaya, Bali, Lombok, hingga Aceh.

"Yang paling banyak dijual memang pot bunga, tapi ada juga yang tempat buat parcel, lukisan, decoupage, rak, meja, kursi, photo booth, display toko, tempay pakaian, tempay perhiasan, sampai mainan anak. Tergantung pesanan juga sih," kata bapak dari dua anak tersebut.

Seiring dengan perkembangan bisnisnya, Agus pun meninggalkan usaha budidaya tanaman anggrek yang lebih dulu digeluti. Apalagi, beberapa hari lalu dia mulai memiliki tempat untuk memajang hasil kreativitasnya di RupaRupi Handycraft Market di Kota Bandung.

"Dari anggrek, sebenarnya kalau benar dan serius mengurusnya, keuntungannya lebih besar. Namun, perputaran uangnya lebih lama. (Bisnis kerajinan kayu) ini lebih cepat. Kalau anggrek, sekarang bikin mungkin baru tahun depan dijualnya," tuturnya.

Dari harga jual pot kayu antara Rp 22.500-500.000, Agus mengaku dapat menghasilkan omzet Rp 20-40 juta per bulan. "Kebanyakan yang beli itu buat dijual lagi. Namun, tidak sedikit juga yang pesan costum. Kalau yang paling mahal, saya pernah bikin photo booth laku seharga Rp 5 juta," kata lulusan SMK Pertanian Subang itu.***

Bagikan: