Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Dalam Empat Bulan, Ratusan Janda Baru Muncul di KBB

Cecep Wijaya Sari
ILUSTRASI perceraian.*/percikaniman.id
ILUSTRASI perceraian.*/percikaniman.id

NGAMPRAH, (PR).- Dalam waktu sekitar empat bulan, muncul ratusan janda baru di Kabupaten Bandung Barat. Hal itu diketahui berdasarkan jumlah kasus perceraian yang diputuskan di Pengadilan Agama Ngamprah.

Humas PA Ngamprah Ahmad Hodri mengungkapkan, sejak pengadilan ini berdiri pada November 2018 hingga menjelang akhir Februari 2019 ini, jumlah kasus yang masuk yaitu 809 perkara. Itu terdiri atas 266 perkara limpahan tahun lalu ditambah 543 perkara baru tahun ini.

"Dari sejumlah perkara itu, sampai hari ini (kemarin) ada 393 perkara yang diputuskan. Dari banyak perkara yang diajukan warga, sekitar 70-80 persen adalah perkara cerai gugat," ujarnya di Kantor PA Ngamprah, Kamis 21 Februari 2019.

Ahmad menuturkan, setiap hari sekitar 60 perkara masuk ke PA Ngamprah. Sementara itu, ada sekitar 50 perkara yang disidangkan dan 20 perkara yang diputuskan.

Pemutusan perkara membutuhkan waktu sekitar 1-2 bulan, bergantung sikap koperatif dari warga yang mengajukan perkara tersebut. Menurut dia, kasus cerai gugat banyak diajukan warga selatan KBB, seperti Cililin, Sindangkerta, Cipongkor, Gununghalu, dan Rongga.

Penyebabnya berbagai hal, mulai dari faktor eknomi, perselisihan rumah tangga, hingga adanya pihak ketiga.  "Namun sebenarnya, banyak kasus yang terjadi karena hal sepele akibat kesalahpahaman pasangan suami istri. Karena tidak dikomunikasikan dengan baik, mereka memilih bercerai," ujarnya.

Ahmad juga mengungkapkan, upaya mediasi yang dilakukan PA Ngamprah cukup sulit jika pasutri mengedepankan emosi. Biasanya, hal itu terjadi pada pasangan dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi yang terbilang minim.

"Rata-rata, yang mengajukan cerai gugat pendidikannya SMP ke bawah, sedangkan pekerjaan suaminya kebanyakan buruh lepas," ujarnya seraya menambahkan, usia pasutri yang bercerai sekitar 30-40 tahun dengan usia perkawinan 5-10 tahun.

Salah seorang warga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, ER (32) mengaku memilih bercerai meski usia pernikahannya sudah memasuki 10 tahun. Keduanya merasa tidak menemukan kesamaan pandangan dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.

ER yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga ini mengungkapkan, penyebab perceraiannya merupakan akumulasi masalah yang berujung perselisihan. Setelah beberapa lama pisah ranjang, ia akhirnya memutuskan untuk menggugat cerai suaminya.

Perceraian, kata dia, sama sekali tidak diharapkannya. Apalagi, pernikahan mereka sudah dikaruniai seorang anak. “Tapi, mau gimana lagi. Kalau sudah tidak cocok, ya terpaksa cerai,” ucapnya.***

Bagikan: