Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Umumnya berawan, 22 ° C

Kian Diminati, Produksi Kopi Bandung Barat Masih Minim

Cecep Wijaya Sari
Seorang barista meracik kopi untuk pelanggan di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 19 Februari 2019. Meski sudah banyak diminati, produksi kopi di Bandung Barat masih minim.* CECEP WIJAYA/PR
Seorang barista meracik kopi untuk pelanggan di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 19 Februari 2019. Meski sudah banyak diminati, produksi kopi di Bandung Barat masih minim.* CECEP WIJAYA/PR

NGAMPRAH, (PR).- Produksi kopi di Kabupaten Bandung Barat saat ini masih rendah. Hal itu terjadi karena berbagai hal, mulai faktor cuaca, krisis petani kopi, hingga bantuan pemerintah yang belum tepat sasaran. 

Hal itu dirasakan petani kopi asal Kecamatan Cikalongwetan, Ludi Sugianto (38). Menurut dia, produksi kopi cenderung stagnan lantaran petani kopi sulit melakukan inovasi untuk meningkatkan produktivias.

"Bantuan dari pemerintah memang ada, tetapi cenderung tidak tepat sasaran. Contohnya saja, di Cikalongwetan banyak lahan yang tidak produktif, padahal sangat potensial jika ditanami kopi," ujarnya di Ngamprah, Selasa 19 Februari 2019.

Ludi yang juga berjualan kopi racikan ini menuturkan, minimnya pemahaman terhadap bisnis kopi juga membuat banyak warga di Cikalongwetan enggan beralih menjadi petani kopi. Selain itu, petani kopi yang ada juga tidak bisa memaksimalkan produksi lantaran minimnya bantuan dari pemerintah.

Dia mengungkapkan, seharusnya pemerintah daerah bisa lebih fokus memberikan bantuan dan dukungan untuk meningkatkan produksi kopi. "Bagaimana caranya, agar setiap panen, produksi kopi bisa meningkat. Sejauh ini, produksi kopi segitu-segitu saja, padahal permintaan kopi terus meningkat," tuturnya.

Bahkan, menurut dia, pemerintah daerah seharusnya bisa memberikan pelatihan intensif bagi warga di daerah yang potensial untuk produksi kopi, seperti Cikalongwetan. Pelatihan tersebut harus bisa memotivasi warga untuk melirik kopi menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

"Kalau bisa, adakan pelatihan full misalnya selama sebulan yang membahas lengkap tentang kopi. Kalau hanya 1-2 hari, tidak akan begitu berpengaruh. Warga yang ikut pelatihan akan kembali ke pekerjaan sehari-hari mereka," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia Kabupaten Bandung Barat, Kurnia Danumihardja membenarkan bahwa komoditas kopi yang tumbuh di Kabupaten Bandung Barat saat ini banyak diminati baik di pasar nasional maupun internasional. Kopi-kopi asal Jawa Barat diekspor ke Asia dan Amerika Serikat.

"Selama ini beberapa sentra kopi di daerah sudah bisa ekspor salah satunya ke Korea Selatan. Kami berharap tren ini bisa terus berjalan. Termasuk adanya daya dukung pemerintah daerah dalam mengatasi krisis petani kopi," tuturnya.

Dia menambahkan, kendala yang sering ditemui dalam bisnis kopi ini di antaranya permainan broker, yakni pedagang besar yang langsung membeli kopi dari petani dengan harga rendah. Akibatnya, para petani kopi tidak bisa menikmati hasil ideal dari penjualan kopi tersebut.

Untuk itu, kata dia, diperlukan adanya Perda yang mengatur tentang perdagangan kopi ini. "Jadi alangkah baiknya para 'buyer' besar pada saat membeli kopi harus melalui komunitas  petani kopi dulu agar tidak merusak tatanan pasar," katanya.***

Bagikan: