Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Sebagian berawan, 22.7 ° C

Hentikan Perlakuan Body Shaming!

Mochammad Iqbal Maulud
ILUSTRASI perlakuan body shaming.*/KOMPASIANA
ILUSTRASI perlakuan body shaming.*/KOMPASIANA

BANDUNG, (PR).- Body shaming atau perilaku mengkritik fisik harus segera dihentikan karena melanggar beberapa undang-undang. Beberapa aturan yang dilanggar yaitu undang-undang KUHP dan undang-undang kekerasan terhadap perempuan secara verbal.

Tak hanya itu body shaming juga melanggar undang-undang ITE‎. Hal itu disampaikan politikus Partai Golkar, Nurul Arifin, saat acara seminar dengan tema 'Sharing is caring Persatuan Perempuan Pasundan, perempuan milenial bersatu melawan body shaming', di Cafe Ngopid Doeloe, Jalan Pelajar Pejuang 45,‎ Kota Bandung pada Sabtu 16 Februari 2019.

Nurul menyatakan‎ setiap hari korban body shaming ini semakin banyak terutama di media sosial. Bahkan baru-baru ini, menurut Nurul, temannya sejak lama pun menjadi korban body shaming, yaitu Dian Nitami.

Menurutnya, perlakuan body shaming tersebut harus segera dihentikan. "Body shaming pun sebenarnya berlaku juga pada diri sendiri tidak kepada orang lain. Mereka yang melakukan body shaming pada diri sendiri itu ialah mereka yang tidak puas pada keadaan diri sendiri lalu melakukan perbaikan-perbaikan yang dipaksakan," ucapnya.

Caranya misalnya dengan melakukan operasi plastik atau melakukan diet ketat yang membahayakan tubuh. "Kalau menurut saya jelas itu adalah body shaming, karena tidak mensyukuri pemberian tuhan pada kita. Jangan sampai kita selalu terpengaruh dengan nilai ideal pasar khususnya dalam bidang kecantikan," katanya.

Meski demikian Nurul pun mengaku pernah menjadi korban body shaming ini. Salah satunya saat dia dulu sempat menjadi peragawati.

"Saya dihina bahwa hidung saya ini besar, selain itu katanya berat badan saya juga dibilang tidak ideal," ucapnya.

Meski begitu Nurul tidak ambil pusing, bahkan dia bisa makin percaya diri kepada orang-orang yang telah melakukan body shaming padanya.

"Saya pede aja, saya bilang bahwa hidung besar adalah ciri dari orang yang beruntung, sehingga mereka tak membully lagi saya," katanya.

Disinggung dengan maraknya juga body shaming terhadap para capres dan cawapres, menurut Nurul hal itu pun harus dihentikan. Dikarenakan kapasitas seseorang tidak bisa diukur berdasarkan kondisi fisik, namun dari prestasi dan intelejensinya," ucapnya.

Cara menghilangkan budaya body shaming ini pun menurut Nurul gampang-gampang susah. Tetapi yang utama adalah dengan banyaknya melakukan komunikasi dengan baik. Ditambah dengan melakukan banyak prestasi.

"Pandangan orang banyak bisa diubah jika kita mampu tampil beda, karena beda adalah anugerah, dan setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Jadi kita tidak usah khawatir dengan kata orang lain jika kita mampu memberikan yang terbaik pada orang sekitar," ucapnya.

Oleh karenanya Nurul pun berharap pada kaum perempuan, khususnya yang sering mengalami body shaming, jangan lantas putus asa. Karena ada berbagai cara untuk memberi pelajaran pada pelaku body shaming, di antaranya dengan jalur hukum.

"Body shaming masuk dalam ranah kekerasan seksual secara verbal juga kan, belum lagi di KUHP dan ITE. Jadi janganlah kita ini sembarangan melakukan body shaming, karena akibatnya bisa fatal. Selain itu body shaming bisa dihindari para korbannya dengan selalu berprestasi, dan tetap percaya diri," ucapnya.***

Bagikan: