Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian berawan, 20.4 ° C

Pilpres 2019, Pola Pemilih di Jawa Barat Selalu Berbeda

Dewiyatini
PETUGAS melakukan pengecekan kualitas surat suara Pilpres 2019 saat pencetakan surat suara di Jakarta, Minggu, 20 Januari 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi memproduksi surat suara Pilpres untuk kebutuhan Pemilu 2019, sebanyak 187.975.930 lembar surat suara. */ANTARA
PETUGAS melakukan pengecekan kualitas surat suara Pilpres 2019 saat pencetakan surat suara di Jakarta, Minggu, 20 Januari 2019. Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi memproduksi surat suara Pilpres untuk kebutuhan Pemilu 2019, sebanyak 187.975.930 lembar surat suara. */ANTARA

BANDUNG, (PR).- Pemenang Pemilihan Umum di Jabar selalu berubah. Tidak ada partai politik yang mampu mempertahankan kemenangan di Jabar. Bahkan seringkali pemenangan Pemilihan Presiden berbeda dengan pemenang pemilihan legislatif.

"Pola pemilih di Jabar itu, selalu berbeda saat memilih kandidat presiden dan partai politik. Sehingga kemenangan Pileg tidak sejalan dengan pilpres,” ujar pengamat politik Universitas Padjadjaran Firman Manan di Hotel Horison Bandung Jalan Pelajar Pejuang, Rabu, 13 Februari 2019.

Hal itu tampak dengan jelas pada Pemilu 2004 dan 2014. Firman menyebutkan ada beberapa hal yang menjadi faktor pendukung. Firman mengatakan keterikatan pemilih terhadap partai politik itu rendah.

"Ini tidak hanya jadi persoalan di Jabar. Tapi umum di Indonesia,” kata Firman.

Apalagi di Jabar yang memiliki subkultur dengan karakter berbeda. Setidaknya ada enam subkultur yang dapat dikelompokkan antara lain Bandung Raya, priangan barat, timur, cirebonan, karawang, dan suburban (penyangga ibukota).

"Ini memperlihatkan karakteristik pemilih di Jabar sangat heterogen. Seakan-akan pemilih tidak loyal, mudah berubah, keterikatan terhadap parpol juga rendah. Pemilih lebih tertarik pada figur,” ucapnya.

Firman juga mengatakan dengan karakteristik yang heterogen itu, membuat pertarungan di Jabar sulit diprediksi. Ia menyebutkan adanya undecided voters yang cukup tinggi yaitu 20-30%. Bahkan yang sudah menentukan pilihan pun bukanlah strong voter.

Yang akan diuntungkan dari Pemilu serentak ini adalah partai yang mencalonkan sebagai capres yaitu PDIP dan Gerindra,” ujar Firman.

Gerindra bahkan mampu menggeser elektabilitas Partai Golkar yang biasanya selalu menempati peringkat dua besar. Ini menunjukkan basis tradisional Partai Golkar juga digerogoti.

"Tantangan tersendiri bagi partai di luar PDIPdan Gerindra untuk mencapai threshold 4%,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah undecided voters di Jawa Barat masih cukup tinggi. Indopolling Network mencatat dalam hasil surveinya, pemilih yang merahasiakan jawaban dan belum menentukan pilihan mencapai 20,4%.

Direktur Indopolling Network Wempy Hadir menyebutkan untuk persaingan antara dua pasangan calon kini semakin ketat. Pada simulasi kertas suara pasangan 01 unggul tipis dengan elektabilitas sebesar 41,7%. Sedangkan elektabilitas pasangan 02 sebesar 37,9%.

“Dari sisi dukungan grass root, partai pengusung Jokowi-KH Ma’ruf Amin terlihat pemilih PDIP paling solid mendukung dengan angka 91%. Begitu pula dukungan untuk pengusung Prabowo-Sandi, pemilih partai Gerindra palng solid dengan 89,8%,” ujarnya.

Wempy mengatakan Jokowi terlihat unggul di wilayah Cirebonan sebanyak 55,3%. Sedangkan Prabowo lebih unggul di wilayah Jabar Selatan.

Di kelompok usia, Prabowo-Sandi unggul di pemilih pemuda usia 17-25 tahun dan 56-65 tahun. Sementara Jokowi-Ma’ruf Amin unggul di kelompok usia 26-35 tahun, 46-55 tahun, dan usia 65 tahun ke atas.

“Yang akan jadi rebutan di kelompok usia 36-45 tahun,” kata Wempy.

Wempy menyebutkan sebanyak 1.200 respon menjadi sampel dalam survei tersebut dengan margin of erro kurang lebih 2,8%. Sampel menyebar proporsional di seluruh Jabar dengan waktu pengambilan 21-27 Januari 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik multistage ramdom sampel.***

Bagikan: