Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 20.6 ° C

Banjir Setiap Musim Hujan di Melong, Pemkot Cimahi Upayakan Embung

Ririn Nur Febriani
Banjir/DOK. PR
Banjir/DOK. PR

CIMAHI, (PR).- Pemerintah Kota Cimahi terus mengupayakan pembuatan embung sebagai bagian dari upaya mengentaskan banjir di Melong di Kecamatan Cimahi Selatan yang terus berlangsung tiap musim hujan.

Meskipun, upaya paling efektif terutama rehabilitasi saluran air dari hulu hingga ke hilir termasuk urun rembug daerah di perbatasan Kota Cimahi. 

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, M. Nur Kuswandana, mengatakan, embung yang bakal dibangun di atas lahan seluas 6.000 meter persegi milik PT. Dewa Sutratex bakal menampung air larian yang berasal dari aliran Sungai Cimahi, kemudian dialirkan ke aliran Sungai Citarum.

"Sebetulnya embung tersebut kurang besar sehingga tidak terlalu signifikan mengurangi banjir yang terjadi, kecuali jika luasnya seperti danau. Namun, tetap kita upayakan segera terwujud karena menjadi salah satu kebijakan Pemkot Cimahi tangani masalah prioritas yaitu banjir di kawasan selatan Kota Cimahi ," ujarnya, Kamis 14 Februari 2019. 

Jika dirata-ratakan tinggi banjir yang terjadi sekitar 100 cm, dengan dibuatnya embung ketinggian banjir yang menerjang dapat mengurangi genangan air sekitar 30 cm.
"Artinya masih ada sisa banjir sekitar 70 cm, memang pengurangan ketinggian banjir tidak sampai setengahnya. Jadi tidak terlalu berdampak besar," bebernya.

Pihaknya menilai, pengentasan banjir di Kota Cimahi terutama kawasan Melong, mesti dilakukan sejak dari hulu dan membesarkan larian air di kawasan hilir, yang masuk ke wilayah Kabupaten Bandung.

Di kawasan hulu, Pemkot Cimahi juga akan membuat embung di Kel. Pasir Kaliki dengan pembebasan lahan seluas 8.000 m2.

Bakal turut dibangun saluran larian air berbentuk sodetan dengan membebaskan lahan di Cigugur Tengah dengan luas mencapai 4000 m2. "Embung yang di Pasir Kaliki nanti akan mengurangi larian air ke daerah Cigugur Tengah. Jadi pendistribusiannya tidak sekaligus, bisa diatur, jadi banjir di Melong bisa agak dikontrol," terangnya.

Untuk membebaskan lahan di tiga kawasan tersebut, DPKP menyediakan anggaran hingga Rp37 miliar, rinciannya Rp27 miliar untuk pembebasan lahan di Melong dan Cigugur Tengah, sedangkan Rp10 miliar untuk pembebasan lahan di Pasirkaliki.

"Pengerjaan fisik bakal dilaksanakan tahun 2020 dengan pembiayaan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dengan estimasi anggaran sebesar Rp65 miliar. Untuk Melong dan Cigugur itu butuh Rp 50 miliar, kalau Pasirkaliki sekitar Rp15 miliar," tegasnya.

Koordinasi 

Yang lebih krusial, lanjut Nur, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung sebagai daerah perbatasan turut proaktif menyelesaikan permasalah banjir secara bersama-sama. Misalnya, ikut memperbesar salursn air sehingga tidak terhambat mengalir sampai ke Sungai Citarum. Juga, menyediakan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau sebagai daerah resapan sehingga mengurangi limpasan air.

Saat ini belum ada kesepakatan kerjasama penanggulangan banjir dengan pihak Kabupaten Bandung mengenai teknis pelebaran saluran menuju muara Sungai Citarum.

"Masalahnya kan Kabupaten Bandung belum menganggarkan pembebasan lahan, akhirnya terhambat. Kalau Kota Cimahi sudah siap hampir 100 persen. Kita masih menunggu, dan akan meminta bantuan ke Provinsi Jawa Barat juga untuk difasilitasi kerjasama ini karena sebetulnya banjir masalah bersama yang harus dituntaskan," tuturnya.***

Bagikan: