Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian berawan, 20.4 ° C

Terkuak di Sidang, Urus Izin Meikarta 1.000 Dolar Singapura per Hari

Yedi Supriadi
Sidang perkara suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Rabu 13 Februari 2019/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
Sidang perkara suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Rabu 13 Februari 2019/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG, (PR).- Sidang kasus suap Meikarta menghadirkan tiga orang saksi yang dihadirkan oleh pihak terdakwa. 

Setelah memeriksa tiga saksi ahli hukum, persidangan kasus suap perizinan proyek Meikarta di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung, Rabu 13 Februari 2019, dilanjutkan dengan pemeriksan saksi dua terdakwa, Fitradjaja Purnama dan Taryudi.

Selama persidangan mendengarkan pendapat ahli hukum pidana Dian Hendriawan, I Gede Panca Astawa, dan Jisman Samosir. Saksi ahli Dian dan dan Panca Astawa dihadirkan tim pengacara terdakwa Billy Sindoro dan dan Henry Jasmen.

Keduanya meringankan kedua terdakwa.

Saksi Dian misalnya, menyebut bahwa peran Billy sebenarnya adalah sebagai orang yang turut serta melakukan, bukan menyuruh melakukan, sedangkan menurut pengacara Billy Sindoro, Ervin Lubis, sepanjang persidangan, saksi tidak menyebut ekplisit peran Billy.

Sidang dikebut karena pada 4 Maret, hakim harus sudah membacakan vonis, mengingat batas waktu penahanan ke empat terdakwa berakhir pada 11 Maret.

null

Di pemeriksaan Fitradjaja Purnama, jaksa KPK menampilkan bukti pesan Whatsapp antara Billy Sindoro dengan Fitradjaja serta Fitradjaja dengan Henry Jasmen‎.

"Saya dikenalkan dengan Billy Sindoro oleh Henry Jasmen, saat itu disebut sebagai owner representatif Lippo. Saat itu belum membahas Meikarta," ujar Fitradjaja.

Pada pertemuan selanjutnya, Fitradjaja Purnama ‎mengatakan ia diminta bantuan oleh Billy Sindoro untuk mengurus perizinan.

"‎Pak Billy minta bantuan saya untuk minta pengurusan izin Meikarta, karena Meikarta  sudah punya IPPT, master plan namun belum ada izin lainnya," ujar Fitradjaja.

Fitradjaja juga menyebut bahwa kode "Santa" adalah sebutan untuk Billy Sindoro. "Santa itu sebutan dari Henry Jasmen, sebelumnya dia sebut Pak Billy dengan Pak Bis," ujar dia.

Kemudian, Fitradjaja mengatakan ia diminta Billy Sindoro untuk intens berada di Jakarta untuk mengurus perizinan Meikarta dengan komitmen fee dengan nilai fantastis.

"Dengan fee sebesar 1000 SGD per hari. Saat itu Pak Billy minta saya untuk 80 persen tinggal intens di Jakarta," ujar Fitradjaja.

Sidang perkara suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Rabu 13 Februari 2019/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Diminta

Sementara pada bagian lain, Fitradjaja Purnama mengatakan bahwa pemberian uang sebesar 90 ribu SGD ke Yani Firman, Kepala Seksi di Dinas Bina Marga Pemprov Jabar dilatar belakangi permintaan Yani Firman sendiri.

"Pak Yani yang minta," ujar Fitradjaja.

Ia mengatakan, pemberian uang itu dilakukan terkait rekomendasi dengan catatan (RDC) Pemprov Jabar saat Pemprov Jabar meminta perizinan Meikarta dihentikan sementara. 

"Saat itu, semua kelengkapa‎n ‎terkait RDC sudah lengkap. Tapi kok belum keluar juga. Saya minta (terdakwa) Taryudi untuk mengecek, ternyata berkasnya masih di Pak Yani Firman. Setelah itu, Pak Yani katanya minta bertemu," ujar Fitradjaja. 

Kemudian, ia akhirnya menemui Yani Firman bersama Henry Jasmen dan Taryudi.

"Saya ke Bandung bersama pak Henry Jasmen, Pak Yani bilang perlu untuk teman-teman staf, pak Yani bilang, mungkin 500 (juta) cukup atau enggak," ujar Fitradjaja. Akhirnya, uang diberikan ke pak Yani, uangnya dari pak ‎Henry. Nilainya saya enggak tahu, tapi pecahan dolar Singapura," kata Fitradjaja.

Pada persidangan 28 Januari, Yani Firman tidak mengakui dirinya meminta uang pada Fitradjaja, Henry Jasmen atau Taryudi. Nun ia mengaku menerima uang‎ SGD 90 ribu dari Fitradjaja. 

Yani Firman juga mengakui menukarkan uang itu dengan nilai saat itu, Rp 950 juta. Ia bahkan mengaku sempat berkonsultasi dengan atasannya terkait uang itu namum kata atasannya suruh dikembalikan dan akhirnya Yani pun menyimpannya di plafon rumah.***

Bagikan: