Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 20.6 ° C

Temuan Potongan Tangan, Titik Terang Kasus Mutilasi Pengusaha Asal Baleendah di Malaysia

Handri Handriansyah
Ilustrasi/FIAN/PR
Ilustrasi/FIAN/PR

SOREANG, (PR).- Identitas korban mutilasi di Malaysia yang diduga merupakan pengusaha tesktil asal Baleendah, Kabupaten Bandung Nuryanto kemungkinan bisa dipastikan lebih cepat dari perkiraan. Hal itu menyusul temuan potongan tangan di lokasi kejadian oleh otoritas Negeri Jiran.

Kuasa Hukum Nuryanto, Hermawan mengatakan, sebelumnya pihak keluarga sudah memberikan sampel untuk tes DNA ke kepolisian Malaysia pada 4 Februari 2019 lalu. "Namun hasil tes DNA baru bisa keluar paling cepat dua pekan," ujarnya saat dihubungi Rabu 13 Februari 2019.

Temuan tangan tersebut, kata Hermawan, menjadi titik terang bagi keluarga yang sudah lama menantikan kepastian nasib Nuryanto. Soalnya uji sidik jari dari tangan tersebut bisa dipastikan hasilnya hanya dalam waktu sekitar empat hari. 

"Kemarin kami mendapat kabar bahwa polisi di sana menemukan sebelah potongan tangan yang diduga tangan laki-laki. Jadi hasil tes sidik jari kemungkinan bisa segera memastikan apakan korban laki-laki itu benar klien kami atau bukan," kata Hermawan.

Menyusul temuan tersebut, Hermawan menegaskan bahwa pihaknya pun bersama keluarga Nuryanto akan segera berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Jawa Barat. Dengan begitu, ia berharap harapan keluarga untuk segera membawa jenasah korban bisa segera dilakukan jika itu memang Nuryanto.

Kronologis Nuryanto jadi korban mutilasi

Seperti diberitakan sebelumnya, Nuryanto diduga menjadi korban mutilasi di Malaysia karena hilang kontak dengan keluarga saat berada di Negeri Jiran sejak 22 Januari 2019 lalu. Padahal warga Kampung Ciodeng Timur, Desa Bojongmalaka, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung itu hanya pamit ke keluarganya untuk berangkat ke Malaysia pada 17 Januari dan direncanakan pulang 23 Januari.

Setelah hilang kontak, kata Hermawan, pihak keluarga sempat mengecek data penerbangan dari maskapai yang rencananya akan membawa pulang boss PT Jaya Anugerah Tekstil itu. "Hasilnya pengecekan pada 25 Januari, maskapai tersebut memastikan bahwa pak Nuryanto tak menggunakan tiketnya dalam penerbangan 23 Januari," ujarnya.

Begitu pula data cek in di Hotel Bukit Bintang yang mencatat Nuryanto hanya menginap pada 21-23 Januari. Pihak hotel memastikan bahwa Nuryanto tidak sempat melakukan cek out setelah keluar kamar pada 22 Januari.

Hermawan menambahkan, keluarga Nuryanto kemudian dikagetkan dengan ramainya informasi di media sosial terkait temuan dua mayat korban mutilasi di pinggir Sungai Buloh, Selangor, Malaysia pada 26 Januari 2019. Keluarga pun mengenali pakaian yang dikenakan korban mirip dengan pakaian yang dikenakan Nuryanto saat berangkat ke Malaysia.

Keluarga semakin yakin ketika tim kuasa hukum pada 1 Februari, disusul adik Nuryanto 4 Februari berangkat ke Malaysia untuk memastikan. "Hasilnya ada kecocokan antara ciri-ciri korban dalam rekaman CCTV hotel bukit bintang tempat pak Nuryanto menginap," ujarnya.

Selain itu, Hermawan menegaskan bahwa pihak kepolisian Malaysia sendiri tidak mendapat laporan kehilangan dari warga setempat. Keluarga Nuryanto lah satu-satunya yang membuat laporan kehilangan orang dengan ciri-ciri mirip korban mutilasi dan polisi setempat juga menemukan barang bukti telefon genggam persis seperti milik Nuryanto.

Utang-piutang 

Sebelumnya, Hermawan hanya mengatakan bahwa Keberangkatan Nuryanto ke Malaysia hanya perjalanan bisnis biasa yang rutin ia lakukan. Namun Hermawan kemudian membenarkan bahwa keberangkatan kali ini memang terkait utang-piutang.

Menurut Hermawan, Nuryanto pertama kali datang ke kantornya pada 8 Januari 2019 untuk meminta pertolongan karena belum bisa membayar utang sekitar Rp 400 juta kepada salah seorang mitra kerjanya. Nuryanto pun minta dibuatkan surat permohonan telat bayar yang kemudian justru membuat mitra kerjanya itu marah besar karena memang utangnya sudah jatuh tempo.

Setelah membayar sebagian dari utang tersebut, Nuryanto pun kemudian memutuskan untuk berangkat ke Malaysia. Di sana, ia bermaksud mengambil uang dari mitra kerjanya yang lain dengan jumlah sekitar Rp 2 miliar.

Alih-alih berhasil mendapatkan uang dan pulang sesuai jadwal pesawat yang dibooking sejak awal, Nuryanto justru hilang kontak dengan keluarganya di Bandung. Kabar duka pun diterima keluarga dari media sosial saat dua jenasah korban mutilasi di mana salah satunya mirip Nuryanto ditemukan di Malaysia.***

Bagikan: