Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sebagian berawan, 19.6 ° C

Hari Ini, Bandung Masih Menjadi Barometer Musik

Windy Eka Pramudya
PAS Band/YUSUF WIJANARKO/PR
PAS Band/YUSUF WIJANARKO/PR

DALAM peta industri musik Indonesia, Bandung menjadi salah satu barometer perkembangan musik. Tak dapat di­mungkiri, seniman musik bermunculan dari kota ini. Begitu pula dengan rentetan karya populer yang menjadi tolok ukur produktivitas para musisi.

Pengamat musik Buky Wikagoe menyebutkan, predikat Bandung sebagai salah satu kiblat musik muncul pada era 1970-an. Ketika itu, Kota Kembang disandingkan de­ngan Malang dan Medan.

Jika ada musisi atau band yang "selamat" main di Kota Kembang, me­reka bisa menguasai panggung musik Indonesia. Penonton Bandung, kata Buky, memang dikenal kritis. Apalagi persaingan antarmusisi terutama di ranah musik rock sangat ketat.

"Dulu majalah musik Aktuil menyebut Bandung adalah barometer musik di Indonesia. Saya pribadi juga lebih senang menyebut barometer daripada Bandung kota musik. Soalnya, Bandung memang lumbungnya musisi dan karya yang berkualitas. Dulu itu musisi dari Bandung dan Surabaya saja sangat bersaing. Kalau tampil satu panggung, alat dan sound system-nya enggak mau bareng. Kalau sekarang situasinya lebih adem," tutur Buky di Bandung, Kamis 7 Februari 2019.

HMGNC/YUSUF WIJANARKO/PR

Menurut Buky, saat ini Bandung masih layak disebut sebagai barometer musik Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari produktivitas para musisinya. Selain itu, selalu ada bintang baru yang muncul. Selera musik pendengarnya juga bisa dipertanggungjawabkan.

Elemen lain yang mendukung Kota Kembang sebagai barometer musik Indonesia adalah hidupnya radio dan berbagai kegiatan musik yang diadakan setiap minggu. Akan tetapi, kata Buky, anehnya Parijs van Java tidak pernah menjadi tuan rumah ­perhelatan musik besar atau festival musik berskala nasional.

Undang-Undang yang memberi dukungan

Untuk itulah, saat ini yang dibutuhkan Kota Kembang bukanlah Undang-Undang Permusikan. Namun, peraturan yang membuat hak pekerja seni terutama musik lebih diperhatikan.

Darso/DOK. PR

Buky menyebutkan, untuk mempertahankan eksistensi musisi dan kar­yanya ada tiga hal, yaitu dukungan komunal, pemerintah, dan sponsor atau swasta. Selain itu, pemerintah juga seharusnya memaksimalkan Undang-Undang Hak Cipta No 28 Tahun 2014. Pasalnya, sampai hari ini peraturan pemerintah untuk mengatur pelaksanaan teknis undang-undang tersebut belum ada.

"Saat membuat undang-undang itu ja­ngan dangkal. Saya melihat pasal-pasal yang ditawarkan pada RUU Permusikan terlalu teknis, seharusnya ini cukup diatur di per­aturan pemerintah saja. Kalau Undang-Undang Permusikan ini tetap diterbitkan dan hanya menjadi sampah untuk apa. Lagipula, kenapa baru ribut sekarang menjelang pemilu, waktunya tidak pas," ujar Buky yang merupakan Ketua Sekolah Tinggi Musik Bandung (STiMB).

Kota yang khas

Sementara itu, pengamat musik Idhar Resmadi menjelaskan, jika bicara sejarah, Kota Kembang punya ciri khas, yaitu kota yang ter­buka terhadap segala kebudayaan yang masuk.

Pada masa awal kemerdekaan saja, pertunjukan musik sudah berjalan di Kota Kembang. Tanpa sungkan, Gedung Merdeka pun dijadikan tempat ­untuk pertunjukan musik.

Dengan sifat terbuka itu, aktivitas berkesenian di Kota Bandung bergairah dan terus berkembang. Hal itu terus berjalan sampai era 1990-an saat gerakan musik independen bermula di ­Kota Kembang.

Burgerkill/YUSUF WIJANARKO/PR

"Harus diakui, Bandung punya akses. Musik independen berkembang karena di Bandung buat bikin desain sampul album saja banyak sumber dayanya. Ditambah juga studio latih­an dan rekaman yang bisa diberdayakan. Bisa dibilang, lingkung­annya mendukung. Sekolah yang ada studi musiknya saja banyak, misalnya Universitas Pasundan, STiMB, dan Universitas Pendidikan Indonesia. Talent, tolerance, dan technology yang bikin Bandung bisa lebih berekspresi di dunia seni," katanya.

Idhar yang menulis buku Music Records Indie Label: Cara Membuat Album Independen itu mengatakan, saat ini situasinya sudah sangat berbeda karena kota lain juga punya akses yang sama.

Armand Maulana.*/WINDY EKA PRAMUDYA/PR

Selain itu, perkembangan teknologi juga sangat berpengaruh. Sekarang, kata Idhar, untuk menjadi pembeda dengan kota lain adalah pembuktian karya para musisi Bandung.

Menurut Idhar, saat ini kondisi musik di Kota Kembang menghadapi persoalan tersendiri. Misalnya, akses perizinan untuk mengadakan ke­giatan dan gedung pertunjukan yang mumpuni.

Selain itu, Kota Kembang juga membutuhkan kegiatan tahunan atau festival musik berskala nasional atau internasional.

"Dulu sempat ada Bandung Berisik, ini sebenarnya contoh baik karena acaranya berbasis komunitas dan bisa rutin diada­kan. Sayang, festival ini berhenti. Padahal, di Bandung ini segala jenis musik ada, ­produktivitas musisinya juga terus berjalan. Sektor musik di Bandung memang menggeliat tapi belum ada ujungnya," kata Idhar.***

Bagikan: