Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Hujan singkat, 28.6 ° C

Kebiasaan Baik untuk Jauhkan DBD

Vebertina Manihuruk
PETUGAS Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan pengasapan di lingkungan Gedung Sa­te, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 8 Februari 2019. Pengasapan dilakukan sebagai upaya memberantas nyamuk Aedes aegypti, untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue yang hingga akhir Januari 2019 dilapor­kan terjadi 2.461 kasus dengan jumlah penderita yang meninggal dunia 18 orang.*/ADE BAYU INDRA/PR
PETUGAS Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan pengasapan di lingkungan Gedung Sa­te, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 8 Februari 2019. Pengasapan dilakukan sebagai upaya memberantas nyamuk Aedes aegypti, untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue yang hingga akhir Januari 2019 dilapor­kan terjadi 2.461 kasus dengan jumlah penderita yang meninggal dunia 18 orang.*/ADE BAYU INDRA/PR

BARU lima minggu berlalu di 2019, sudah 3.188 orang tercatat terkena demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Barat. Yang lebih menyedihkan, 18 orang di antaranya meninggal dunia.

Data dari Dinas Kesehatan Jawa Barat itu mengantarkan kita untuk kembali mengingat iklan-iklan di masa lalu yang menganjurkan agar melakukan kebiasaan baik demi pencegahan tertular DBD. Singkatannya, 3M. Masih ingat kepanjangannya?

Gerakan 3M memang selalu digaungkan sewaktu kasus DBD meningkat. Itu merupakan kepanjangan dari menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali, bukan lagi mengubur. Gerakan itu merupakan kebiasaan baik yang sepatutnya dilakukan terus menerus, tidak harus menunggu momen pergantian musim yang biasa­nya menjadi momen bagi peningkatan kasus DBD.

Sekarang, gerakan 3M telah menjadi 3M plus. Plus itu adalah mencegah gigitan nyamuk dengan berbagai cara yang bisa dilakukan.

Misalnya, menggunakan kelambu, tidak menggantungkan pakaian di dalam rumah, mengoleskan obat antinyamuk pada kulit terbuka, serta menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan.

Pemerintah menggalakkan juga Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) untuk melengkapi gerakan 3M itu. Jumantik adalah juru pemantau jentik. Setiap rumah harus ada satu anggota keluarga yang bertugas mengawasi keberadaan jentik di area rumah masing-masing.

Hal itu pulalah yang dilakukan Fanny Fang (39). Ia selalu menguras bak mandi, bahkan menggunakan bak mandi kecil sehingga airnya lekas habis karena dipakai dan kemudian dikuras untuk diisi kembali. Ia tidak suka menyimpan barang-barang yang tidak terpakai yang kemungkinan bisa menjadi sarang nyamuk.

"Menyapu dan mengepel rutin supaya rumah bersih dan terang. Terkadang, saya juga menyemprotkan obat antinyamuk saat anak-anak di sekolah. Anak-anak juga dibalurkan minyak kayu putih, khawatir di sekolah ada nyamuk. Saya tidak memakaikan obat olesan antinyamuk sih, takut merusak kulit. Anak saya yang besar pernah DBD, jadi agak takut kalau terkena lagi. Jadi, kebiasaan itu rutin saya lakukan," ucap ibu dari dua anak itu.

PASIEN anak yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Jawa Barat, Kamis, 31 Januari 2019 lalu. Jumlah pasien DBD di RSHS meningkat hingga 10 kali lipat atau sekitar 104 pasien selama Januari 2019 dibandingkan dengan Januari 2018 yang hanya tujuh orang pasien.*/ANTARA

Yunie Arthan (37) secara rutin mengecek barang-barang yang mungkin menjadi tempat air tergenang sehingga harus dibuang. Ia pun melakukan langkah pencegahan seperti memakai oles antinyamuk, tidak menggantung baju, tidak membiarkan barang-barang bertumpuk, serta menjaga kebersihan dan pencahayaan terang di dalam rumah.

Ibu dua anak itu secara khusus menanam sereh dan tanaman lain yang diketahuinya bisa mengusir nyamuk. 

"Saya memang enggak secara sengaja mencari informasi juga tentang penyakit DBD, hanya memang banyak muncul di timeline media sosial. Jadi, informasi itulah yang saya baca dan menjadi bahan diskusi dengan suami," ucapnya.

Menurut Djatnika Setiabudi, dokter spesialis Anak di RSUP Dr Hasan Sadikin-Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, gerakan 3M plus adalah cara-cara yang dilakukan untuk mencegah penularan DBD.

Air menggenang yang bersih memang menjadi tempat nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. Nyamuk Aedes aegypti itulah yang menjadi media untuk menularkan virus dengue yang dapat mengakibatkan penyakit DBD melalui gigitannya.

"Yang menularkan adalah nyamuk betina. Dia memerlukan darah manusia untuk mematangkan telurnya. Nyamuk betina dapat terinfeksi virus dengue sewaktu dia mengisap darah dari pasien dengue fase demam. Virus itu berkembang biak pada saluran pencernaan dan akhirnya bisa sampai di kelenjar ludah. Pada saat nyamuk itu menggigit orang yang sehat, dia mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan sehingga orang itu tertular virus dengue," kata Djatnika ketika ditemui wartawan “PR” di ruang praktiknya.

Nyamuk betina itu, kata dia melanjutkan, menggigit pada siang hari dan senang menggigit berulang-ulang pada orang yang berbeda atau multiple biters. Itulah sebabnya di suatu tempat bisa ada beberapa orang terkena DBD.

Nyamuk itu pun senang meletakkan telurnya pada genangan air yang bersih dan tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Itulah mengapa dalam gerakan 3M ada keharusan untuk menutup penampungan air agar tidak dijadikan tempat bertelur oleh nyamuk.

"Nyamuk betina mengeluarkan dan menyimpan telurnya di dinding tempat penampungan, sedikit di atas permukaan air. Apabila bersentuhan dengan air, telur itu berubah menjadi jentik dan sekitar 7-10 hari akan menjadi nyamuk dewasa. Oleh karena itulah, menguras tempat penampungan air yang terbuka dikerjakan minimal setiap tujuh hari," ucapnya menjelaskan.

Ilustrasi.*/CANVA

Trombosit

Setelah langkah pencegahan dilakukan, kemungkinan terkena DBD semakin kecil. Meski begitu, kemungkinan itu tetap ada karena kita bisa terkena gigitan nyamuk di mana pun seperti di kantor, sekolah, atau tempat-tempat umum.

Djatnika menuturkan, ada beberapa gejala yang bisa terlihat dari pasien yang terpapar virus dengue. Tidak semua akan berujung ke DBD. Ada yang bisa membuat munculnya infeksi tanpa gejala, demam yang tidak khas, demam dengue dengan atau tanpa disertai perdarahan, DBD, sampai ada yang paling berat dapat menyebabkan kematian yaitu sindrom syok dengue (SSD atau DSS). 

DBD pun, kata dia menerangkan, tidak selalu disertai gejala perdarahan yang nyata. Hal itu mungkin menjadi salah satu penyebab masyarakat tidak segera mencari pengobatan saat terjangkit DBD karena tidak atau belum melihat ada tanda-tanda perdarahan.

Djatnika yang berada pada Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS menuturkan, DBD memiliki tiga fase, yaitu fase demam, fase kritis yang biasanya demamnya menurun, serta fase pemulihan. Fase demam ditandai demam yang mendadak tinggi disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nyeri sendiri, dan kemerahan pada kulit. Ada pula gejala nafsu makan berkurang, mual, dan muntah.

"Pada fase ini, sulit membedakannya dengan penyakit bukan dengue atau membedakan dengue berat dan tidak berat. Fase ini biasanya berlangsung 2-7 hari. Fase kritis, umumnya terjadi pada hari ke 4-6 atau bisa lebih cepat di hari ketiga atau lebih lama di hari ketujuh," tuturnya.

Pada fase demam, ia mengungkapkan, pasien akan dianjurkan agar mengecek darah ke laboratorium. Pada awalnya, biasanya jumlah trombosit dan nilai hematokrit atau kekentalan darah masih dalam batas normal. 

Pada pemeriksaan selanjutnya, bila benar terkena virus dengue, trombosit menurun, sedang­kan nilai hematokrit justru naik.

Pengentalan darah itulah yang menjadi petunjuk fase kritis. Djatnika mengatakan, pada fase itu, terjadi perembesan plasma keluar dari pembuluh darah yang mengakibatkan darah menjadi kental. 

Karena kental, darah tidak bisa mengalir dengan baik ke semua organ tubuh termasuk otak. Apabila tidak segera mendapatkan terapi cairan yang memadai, pasien bisa mengalami syok yang bisa sampai menyebabkan kematian.

Fase kritis juga memiliki tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, nyeri perut, perdarahan pada kulit, mimisan, muntah darah, atau buang air besar berdarah. Ada pula yang ujung badannya dingin sebagai tanda syok, terkadang ada yang sampai mengalami penurunan kesadaran.

"Pada fase ini biasanya suhu tubuh menjadi normal. Itulah yang sering menyebabkan orang terlambat berobat karena mengira akan sembuh. Dalam konteks dengue, suhu tubuh turun justru fase kritis yang bisa menyebabkan shock dan perdarahan. Untuk membedakannya, bisa melihat apakah penderitanya kembali aktif, ceria, dan nafsu makan membaik atau sebaliknya tampak lemas, sakit perut hebat, muntah semakin sering, atau tubuh teraba dingin," ucapnya.

Menurut dia, pada penyakit dengue, bukan hanya trombosit yang harus diperhatikan untuk menentukan kondisi gawat atau tidak. Nilai hematokrit atau kekentalan darah justru harus diperhatikan karena bisa mengakibatkan syok pada pasien, apalagi pasien anak. Pada fase pemulihan, cairan-cairan yang merembes itu biasanya kembali lagi sehingga nilai kekentalan darah akan turun ke batas normal.

SEORANG petugas melakukan pengasapan (fogging) di kompleks Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 Februari 2019. Pengasapan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang semakin meningkat dengan 2.461 kasus per Januari di Jawa Barat.*/ANTARA

Waspada

Menurut Djatnika, karena sampai saat ini belum ada antivirus dengue, kewaspadaan harus selalu ditingkatkan. Selain menerapkan gerakan 3M secara rutin, masyarakat juga harus cermat ketika salah satu anggota keluarga mengalami demam.

Pemeriksaan harus dilakukan ketika demam sudah terjadi 2x24 jam. Masyarakat harus cermat menghitung sejak mulai terjadinya demam, apakah pagi, siang, sore, ataupun malam.

Pemeriksaan setelah 2 x 24 jam itu untuk mengantisipasi fase kritis yang bisa muncul di hari ketiga, meski tidak selalu sama pada setiap pasien. Jika pemeriksaan darah masih cenderung normal, pasien tidak perlu dirawat inap dengan catatan mau mengonsumsi minuman yang lebih banyak, nafsu makan tergolong baik, dan tidak muntah.

Jika kondisi pasien diikuti tanda-tanda bahaya yang umumnya muncul di fase kritis, ia menyarankan supaya pasien segera ditangani di rumah sakit yang bisa segera memberikan cairan infus.

Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Jawa Barat, Uus Sukmara, kewaspadaan itu juga dibangun melalui beberapa program pemerintah. Selain menggerakkan lagi kesadaran untuk melakukan 3M plus dan G1R1J, pengendalian DBD juga dilakukan dengan pemantauan jentik secara berkala.

"Kami menginstruksikan semua rumah sakit, baik RS peme­rintah maupun RS swasta agar tidak menolak pasien yang menderita DBD. Kami juga memastikan ke­siap­an sarana, prasarana, dan alat kesehatan di RS dan puskesmas untuk menangani pasien DBD," katanya.

Ya, semua dimulai dari kebiasaan baik yang mengantarkan kita untuk kondisi kesehatan yang baik. Anda peduli dengan kesehatan keluarga supaya tidak terkena DBD? Yuk, laksanakan 3M plus di rumah kita sendiri!***

Bagikan: