Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 13.985,00 | Sedikit awan, 21.4 ° C

Generasi Milenial Jangan Emosian

Dewiyatini
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.*/DEWIYANTINI/PR
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.*/DEWIYANTINI/PR

BANDUNG, (PR).- Pada 2045, Indonesia akan menjadi negara adidaya yang ketiga di dunia. Saat itu, generasi milenial yang akan menjadi pemimpin di Indonesia. Akan tetapi, untuk menjadi pemimpin, generasi milenial perlu disiapkan dari sekarang.

"Generasi milenial itu jangan emosian. Baru ditilang polisi, motor diancurin. Harus bisa jaga emosi,” kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menjadi pembicara kunci dalam orasi pekerja kreatif yang diadakan oleh Asumsi.co di Gedung Sabuga, Institut Teknologi Bandung (ITB) Jalan Tamansari, Sabtu, 9 Februari 2019.

Ridwan menyebutkan tidak banyak yang dapat memahami tantangan ke depan seperti apa. Itu sebabnya, lanjut Ridwan, generasi saat ini harus mampu merefleksikan siapa kita.

Ridwan mengatakan di Jabar, tidak hanya ilmu yang harus dimiliki. Tetapi juga kesehatan, keimanan, dan akhlak.

Dikatakan Ridwan, bangsa Indonesia ini hanya memiliki satu masalah yakni mudah bertengkar. Mereka mempertengkarkan hal-hal yang sepele.

"Hobinya mencari perbedaan dari hal-hal kecil. Sudah jelas kita itu tidak ada yang sama. Kalau Indonesia ingin selamat, carilah perbedaan dalam perbedaan. Kita pasti juara,” ujar Ridwan. 

Dia menyebutkan sudah banyak kisah negara-negara besar yang pecah bahkan musnah. Afghanistan, misalnya. Tujuh suku besar di sana tak pernah berhenti bertikai. Begitu juga Yugoslavia yang kini terpecah menjadi Serbia, Bosnia - Herzegovina, dan Kroasia.

"Di Afghanistan, seminar yang membicarakan industri kreatif seperti ini tak mungkin dilakukan,” katanya.

Karena itu, keragaman suku, agama, bahasa, dan ras, menurut dia, harus dijaga agar industri kreatif bisa terus tumbuh di Indonesia. Selain itu, penguatan SDM juga harus dilakukan.

Ridwan menyebutkan, salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas SDM adalah dengan menulis dan membaca. Sayangnya, ucap Ridwan, bangsa ini bukanlah masyarakat yang suka membaca dan menulis. Nyatanya, indeks literasi Indonesia itu peringkat ke-60 dari 62 negara.

“Kita ini bangsa rumpi. Saya cari sejarah peninggalan Ateng Wahyuwa dan Solihin GP saja susah. Setahun, rata-rata 70 lembar yang dibaca di Indonesia. Itu pun mungkin buku tabungan,” ucapnya.

Inovasi

Selain Ridwan Kamil, hadir juga beberapa kepala daerah dan tokoh publik yang dinilai mampu berinovasi antara lain Wali Kota Bogor Bima Arya, mantan Wali Kota Purwakarta Dedi Mulyadi, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Ada pula orasi kreatif dari para pekerja kreatif seperti Founder Lipstick Be Mad, Samira Alatas, Jenderal Viking Heru Joko, Founder Swara Gembira Khoirun Nazar, Co-Founder Upnormal Sarita Sutedja, Content Creator Eka Gustiwana, dan CEP IPMI Jimmy Gani.

Walikota Bogor Bima Arya menyebutkan untuk berinovasi, harus mampu berkolaborasi tidak hanya dengan akademisi dan pengusaha. Tetapi juga dengan komunitas dan media. Ia menyebutkan banyak gerakan terobosan di Bogor yang dibantu oleh komunitas.

“Contohnya ketika kami merilis untuk mengurangi sampah plastik, banyak komunitas yang membantu,” ujarnya.

Demikian juga dengan mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang membuat terobosan dengan memberdayakan mantan pekerja seks komersial di mesjid yang ia kelola. Mesjid Cilodong, kata Dedi, dibangun di atas lahan bekas lokalisasi.

Sedangkan, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menceritakan keberhasilan Kabupaten Banyuwangi sebagai kota yang memperoleh banyak penghargaan. Ia mengatakan inovasi yang dihasilkan sepenuhnya berasal dari aparatur sipil negara (ASN).

"Oleh karena itu, kami mematok syarat IPK 3,50 dalam pendaftaran CPNS,” ucapnya.

Beberapa inovasi yang dihasilkan antara lain kerja sama dengan Go-Jek mengantarkan obat dari rumah sakit dan mengantarkan rantang kepada lansia, membangun mall pelayanan publik, membangun warung pintar, dan meningkatkan pelayanan kepada wisatawan sehingga mampu meraih tingkat kepuasan 76% dari wisawatan asing. 

Industri kreatif

Co-founder Asumsi.co Iman Sjafei mengatakan, era digital memang memiliki sisi gelap yang mengancam. Tapi, digitalisasi justru sangat berperan dalam memperkuat industri kreatif. Disrupsi digital memangkas rantai ekonomi industri kreatif. Efeknya langsung terasa pada kontribusinya pada pendapatan negara.

Akhir tahun lalu, kontribusi industri kreatif dalam pendapatan negara mencapai Rp 1.105 triliun. Tahun ini, nilainya bakal jauh lebih besar. 

"Tahun ini diperkirakan industri kreatif akan menyumbang Rp 1.200 triliun pada PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia,” katanya. 

Tak heran kini tak terhitung jumlahnya pengusaha muda yang lahir dari industri kreatif. Era digital membuat mereka lebih bebas memilih profesi dan industri kreatif menjadi pilihan utama karir mereka. Industri kreatif memang didominasi anak muda. Sebanyak 80 persen pelaku industri kreatif termasuk generasi milenial.***

Bagikan: