Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Umumnya berawan, 27.7 ° C

Suasana Panas di Pemilu Bisa Bikin Pemilih Muda Antipati

Ririn Nur Febriani
FORUM group discussion Ngopi Senja dengan Tema "Peran Ideologi dan Politik dalam Mewujudkan Pemilu Damai" di Jalan Ciawitali, Kota Cimahi.* RIRIN NUR FEBRIANI/PR
FORUM group discussion Ngopi Senja dengan Tema "Peran Ideologi dan Politik dalam Mewujudkan Pemilu Damai" di Jalan Ciawitali, Kota Cimahi.* RIRIN NUR FEBRIANI/PR

CIMAHI, (PR).- Pengamat politik UIN Sunan Gunung Djati sekaligus Ketua DPW Persis Jawa Barat, Dr Engkos Kosasih mengingatkan agar perbedaan pilihan calon presiden pada Pilpres 2019 yang digelar serentak dengan Pileg 2019 pada 17 April 2019 mendatang tidak berakhir jadi pertarungan antar pendukung. Masyarakat tak perlu larut dalam memberikan dukungan hingga berdarah-darah hanya karena berbeda pilihan.

"Tidak perlu sampai seperti itu. Siklus demokrasi kan rutin, seharusnya bisa dikawal tanpa mendahulukan perbedaan ideologi, yang bahkan mereka sendiri belum tentu paham," ungkapnya disela-sela kegiatan forum group discussion Ngopi Senja dengan Tema "Peran Ideologi dan Politik dalam Mewujudkan Pemilu Damai" di Jalan Ciawitali Kota Cimahi, Kamis 7 Februari 2019.

Bagi generasi milenial yang kebanyakan masuk dalam kategori swing voters, lanjutnya, mendahulukan azas sosial, pertemanan, dan hubungan antara satu sama lain yang sudah lebih lama terjalin jauh lebih penting ketimbang mendukung salah satu pihak dalam pilpres nanti.

"Hubungan yang sudah terjalin jauh lebih utama ketimbang pilihan politik. Ketika hubungan rusak karena hubungan politik, terkesan konyol. Dan itu akan sulit untuk diperbaiki," ujarnya.

Lebih parah, jika penggila ideologi kebangsaan yang salah memahami arti dan menyimpan pilihan politik di atas segalanya, maka ikatan sosial dan moral bisa rusak. "Silakan berpolitik, tapi jangan terbawa arus begitu mudah. Hayati ideologi, tapi pahami. Jangan jadi orang yang hanya ingin ikut-ikutan saja, apalagi menjelang pesta demokrasi seperti ini," jelasnya.

Menyinggung soal serangan hoaks dan SARA yang sangat kental belakangan ini, dianggap merupakan mainan pihak-pihak yang belum matang secara pengetahuan politiknya.

"Kalau kapabilitas calonnya bagus, program yang dijanjikan sangat merakyat dan menarik, kenapa harus menjual isu hoaks dan SARA. Sejujurnya mereka merasa putus asa dan tidak percaya diri, itu budaya yang kurang bagus. Dan itu yang harus dihapuskan," tegasnya.

Faiz Zawahir, mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia, berpendapat seharusnya pesta demokrasi disambut dengan sukacita, karena mengandung unsur pesta yang dirayakan rakyat.

"Rakyat sedang berpesta, mereka akan menentukan imam yang baik bagi mereka. Kontestan harus sadar, mereka perlu mengedepankan azas profesionalisme," katanya.

Melihat kontestasi Pilpres 2019 kali ini, diakuinya bukan pertarungan yang menarik untuk diikuti, terutama oleh generasi milenial. "Terlalu banyak isu SARA dan hoaks, terutama di sosial media. Generasi milenial bakal skip deh, lebih baik lihat hal lain. Itu menandakan pertarungan tidak bergerak pada pertarungan gagasan. Seharusnya mengedepankan ideologi kebangsaan, ikatan sosial tidak dijalankan dengan baik," tuturnya.***

Bagikan: