Pikiran Rakyat
USD Jual 14.084,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 24 ° C

Sidang Suap Lapas Sukamiskin, Wawan Mengaku Dimintai Uang oleh Wahid Husein

Yedi Supriadi
Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan menjadi saksi kasus suap pemberian fasilitas mewah di Lapas Sukamiskin yang digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Rabu 30 Januari 2019. Wawan menjadi saksi untuk terdakwa Wahid Husein dan Hendri Saputra.*/YEDI SUPRIADI/PR
Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan menjadi saksi kasus suap pemberian fasilitas mewah di Lapas Sukamiskin yang digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Rabu 30 Januari 2019. Wawan menjadi saksi untuk terdakwa Wahid Husein dan Hendri Saputra.*/YEDI SUPRIADI/PR

BANDUNG, (PR).- Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan mengaku pernah dimintai uang oleh eks Kepala Lapas Sukamiskin Bandung, Wahid Husein karena mobilnya mogok di luar kota. Wawan akhirnya memberikan uang Rp 15 juta melalui Hendri Saputra.

Hal itu terungkap dalam sidang suap pemberian fasilitas mewah di Lapas Sukamiskin yang digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Rabu 30 Januari 2019. Wawan menjadi saksi untuk terdakwa Wahid Husein dan Hendri Saputra.

"Saya pernah memberikan uang ke Pak Wahid tapi melalui Ari (Ari Arifin, rekan Wawan sesama warga binaan)," ujar Wawan di hadapan majelis hakim yang dipimpin Dariyanto.

Permintaan uang itu, ujar Wawan, disampaikan Ari atas informasi dari Hendri Saputra, sopir Wahid Husein. Awalnya Wawan keberatan, tetapi akhirnya membantu dengan memberi uang sebesar Rp 15 juta.

"Jadi, Ari bilang kepada saya, ada permohonan bantuan dari Pak Wahid melalui Hendri. Katanya mobil pa Wahid mogok di luar kota. Saya tidak langsung berikan karena tidak ada uang, tapi Ari terus datang. Akhirnya saya kasih Rp 15 juta," kata Wawan.

Hakim kemudian menanyakan alasan Wawan mau membantu Wahid Husein. Termasuk mengapa Wahid Husein meminta uang kepada Wawan, bukan ke warga binaan lainnya.

"Kenapa minta uang ke Saudara Saksi untuk membetulkan mobil? Apakah ada kaitannya dengan pemberian izin?" tanya hakim Dariyanto.

Wawan mengaku tidak mengetahuinya. Dia hanya menindaklanjuti bantuan yang diminta oleh Ari. "Saya tidak tahu Yang Mulia," ujar Wawan.

"Seandainya yang meminta uang itu bukan Kalapas, apakah Saudara Saksi akan memberinya?" tanya hakim.

"Bergantung, Yang Mulia. Kalau teman, ya mungkin saya kasih," kata Wawan.

Majelis hakim kemudian menyinggung soal dakwaan yang pernah disampaikan penuntut umum KPK untuk terdakwa Wahid Husein dan Hendri Saputra.

Rincian arus uang

Di dalam dakwaan dirinci soal pemberian dari Wawan untuk Wahid Husein melalui Hendri Saputra.

Hakim menguraikan, Wawan pernah memberi uang kepada terdakwa sebesar Rp 1 juta untuk membayar makanan di Restoran Al Jazeerah, uang Rp 1 juta untuk membayar makanan Kambing Kairo, Rp 730.000 untuk membayar makanan sate Harris, Rp 1,5 juta untuk membayar karangan bunga yang dipesan terdakwa, dan Rp 20 juta.

Selain itu, ada juga pemberian Rp 4,7 juta untuk membayar makanan, Rp 1 juta untuk membayar makanan di Restoran Abuba, Rp 2 juta untuk membeli parsel, Rp 2 juta untuk biaya perjalanan dinas terdakwa ke Jakarta, Rp 10 juta untuk biaya penjalanan dinas terdakwa ke Cirebon, dan Rp 20 juta.

Soal penyampaian uang-uang itu, Ari Arifin sebelumnya sudah menyampaikan saat menjadi saksi.

"Ini total uang yang diserahkan mencapai Rp 69 juta. Tadi saudara saksi bilang cuma sekali memberi. Tapi sebelumnya saksi Ari Arifin bilang saudara saksi sering ngasih uang. Mana yang benar?" tanya hakim.

Wawan menjawab bahwa ia hanya memberi uang sekali kepada Wahid Husein dan itupun melalui Ari. "Seingat saya cuma sekali, Yang Mulia. Hanya permintaan saat mobil Pak Wahid mogok di luar kota," kata Wawan.

Dalam kesempatan itu Wawan juga membantah soal izin keluar Lapas Sukamiskin yang disalahgunakan. Menurut dia, hal tersebut digunakan sesuai izin yang diberikan.

Seperti izin mengunjungi ibunya di Serang yang sedang sakit. "Saya berkunjung ke ibu saya karena sakit," katanya.

Kemudian soal izin berobat, Wawan mengaku berobat ke dokter gigi di RS Santosa Kebonjati Bandung. "Karena lama antre dan mencari makan daerah situ susah, akhirnya saya makan di Hotel Hilton," ujarnya.

Begitu juga keberadaannya di Hotel Mencury seperti ditanyakan jaksa KPK dan hakim. Dia menyebutkan bahwa dia tidak menginap di hotel tersebut seperti yang ada dalam dakwaan, Wawan mengaku hanya makan siang.

Dalam perkara ini, terdakwa Wahid Husein didakwa menerima gratifikasi dari sejumlah narapidana Lapas Sukamiskin. Selain Wahid Husein, kasus ini menyeret sopir pribadinya, Hendri Saputra, Fahmi Darmawansyah, dan Andri Rahmat.

Berdasarkan dakwaan, Wahid Husein diduga menerima satu mobil double cabin Mitsubishi Triton, sepasang sepatu boot, sepasang sendal merek Kenzo, tas merek Louis Vuitton, uang Rp 39,5 juta, serta uang tunai lainnya.***

Bagikan: