Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Berawan, 22.4 ° C

Penurunan Status Cagar Alam Kamojang dan Papandayan Dinilai Cacat Prosedur

Abdul Muhaemin
ALIANSI Cagar Alam Jawa Barat mengadakan konferensi pers di Kaka Café, Jalan Tirtayasa, Kota Bandung, Rabu 22 Januari 2019. Dengan tegas Aliansi Cagar Alam Jawa Barat menolak keluarnya Surat Keputusan penurunan Status Cagar Alam Kamojang dan Papandayan menjadi Taman Wisata Alam.*/ABDUL MUHAEMIN/PR
ALIANSI Cagar Alam Jawa Barat mengadakan konferensi pers di Kaka Café, Jalan Tirtayasa, Kota Bandung, Rabu 22 Januari 2019. Dengan tegas Aliansi Cagar Alam Jawa Barat menolak keluarnya Surat Keputusan penurunan Status Cagar Alam Kamojang dan Papandayan menjadi Taman Wisata Alam.*/ABDUL MUHAEMIN/PR

BANDUNG, (PR).- Aliansi Cagar Alam Jawa Barat menolah penurunan status kawasan Cagar Alam Kamojang dan Papandayan Menjadi Taman Wisata Alam. Penurunan status yang dituangkan dalam Surat Keputusan bernomor SK.25/MENLHK/SETJEN/PLA2/1/2018 per tanggal 10 Januari 2018 itu dinilai cacat prosedur.

Dedi Kurniawan dari Aliansi Cagar Alam Jawa Barat yang juga merupakan pengurus Walhi Jawa Barat menuturkan bahwa upaya penurunan status Cagar Alam Kamojang dan Papandayan sudah terjadi sejak tahun 2010 yang lalu. Saat itu beberapa perusahaan sudah melakukan eksplorasi. Tapi lantaran dilakukan penolakan, pada tahun 2011 kegiatan eksplorasi tersebut dihentikan.

"Perjuangan dalam konteks Cagar Alam sudah dilakukan sejak tahun 2010. Perusahaan sudah melakukan eksplorasi saat itu dan kami sudah menolak. Lalu pada tahun 2011 dihentikan dan tidak ada kegiatan. 2018 diam-diam kementerian lingkungan hidup mengeluarkan SK penurunan status cagar alam yang seharusnya menjadi kawasan penting," ujar Dedi Kurniawan dalam acara Konferensi Pers di Kaka Cafe, Jalan Tirtayasa, Kota Bandung, Rabu 23 Januari 2019.

Bahkan pada April 2018 yang lalu, Dedi mengatakan, di Garut tepatnya di kawasan Pasirwangi telah ada 5 titik yang dilakukan eksplorasi oleh beberapa perusahaan. Penerbitan SK penurunan status cagar alam, menurut dia, tidak lain hanya untuk melegalkan kegiatan eksplorasi panas bumi tersebut.

Untuk menjaga kawasan Kamojang dan Papandayan agar tetap menjadi kawasan Cagar Alam, saat ini berbagai organisasi dan maupun komunitas pencinta lingkungan melakukan berbagai upaya untuk menolak SK tersebut, baik upaya advokasi maupun upaya sosialisasi.

"Kami akan melakukan upaya lain baik advokasi maupun mitigasi dengan cara sosialisasi untuk mencabut SK untuk terus mempertahankan status cagar alam yang ada di Jabar maupun di Indonesia," tuturnya.

Koordinator Aliansi Cagar Alam Jawa Barat Yogi Kidung Saujana menuturkan, penurunan status cagar alam menjadi taman wisata alam sangat jelas akan menimbulkan kerusakan kawasan. 

“Penurunan status kawasan ini tentu tidak bisa diterima, baik secara ekologis dengan mempertimbangkan fungsi kawasan, secara formal peraturan kawasan Cagar Alam sebagai level tertinggi kawasan konservasi, secara sosial yang melibatkan keterlibatan masyarakat yang telah melakukan upaya perbaikan,” tuturnya.

Sementara itu Yudi dari Forum Komunikasi Pecinta Alam Kabupaten Bandung juga mengaku pihaknya turut menolak penurunan status cagar alam Papandayan dan Kamojang. Pasalnya, penurunan SK tersebut dinilainya telah cacat prosedur dengan mengabaikan upaya-upaya pelestarian alam.

“Ada sebuah malprosedur dalan proses penurunan status cagar alam, jika melegalkan untuk memberikan akses panas bumi atau geotermal sebenarnya hal tersebut sudah terjadi sejak 2 tahun yang lalu tapi SK nya saja baru dikeluarkan sekarang,” ujarnya.

Aliansi Cagar Alam Jawa Barat.*/ABDUL MUHAEMIN/PR

Kemunduran

Status cagar alam sebagai level tertinggi dari kawasan konservasi sudah barang tentu memiliki keanekaragaman hayati. Sehingga penetapan status cagar alam kepada sebuah kawasan bukanlah hal yang main-main. Lalu bagaimana dampak kepada keragaman hayati  ketika status cagar alam tersebut diturunkan statusnya?.

Herlina dari Pro Fauna Indonesia turut menyayangkan dengan dikeluarkannya SK penurunan status cagar alam Kamojang dan Papandayan oleh pemerintah Indonesia. Hal tersebut tidak dia pungkiri sebagai langkah mundur dan mengancam keragaman hayati yang dimiliki oleh dua kawasan cagar alam tersebut.

Padahal dia menilai Indonesia yang memiliki keragaman hayati seharusnya mulai memperhatikan cagar alam yang ada. Jika statusnya diturunkan menjadi taman wisata alam, maka tidak menutup kemungkinan jika nantinya ekosistem yang ada di kawasan tersebut akan terganggu dan bisa menimbulkan dampak negatif kepada kita sebagai manusia.

“Penurunan status cagar alam menjadi taman wisata adalah langkah mundur dari Indonesia. Merugikan banyak hal, akan membuat kesenjangan sosial yang sangat tinggi. Indonesia ini negara yang kaya akan keragaman hayati, kalau status cagar alam diturunkan menjadi taman wisata itu sangat disayangkan,” tuturnya.

Herlina menyadari bahwa upaya menolak penurunan status cagar alam tersebut bukanlah perkara mudah, namun dia menegaskan bahwa cagar alam adalah harga yang mati dan mutlak. Sehingga apapun upaya untuk memperjuangkannya akan dilakukan meskipun harus melewati jalur hukum.

“Jika harus dilakukan secara jalur hukum akan kami tempuh apapun itu demi mencapai hasilnya. Tapi kita akan mengupayakan proses sacara sosialisasi. Karena yang diperjuangkan bukan untuk diri sendiri tapi juga untuk bumi kita," katanya.***

Bagikan: