Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian cerah, 20.8 ° C

Perbedaan Penyebar Hoaks di Indonesia dan Eropa

Abdul Muhaemin
DUTA Besar Republik Indonesia untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi saat berkunjung ke kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 22 Januari 2019. Dalam kunjungannya tersebut, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia memberikan pandangannya terkait pemilihan umum di Indonesia 17 April 2019 mendatang.*/ABDUL MUHAEMIN/PR
DUTA Besar Republik Indonesia untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi saat berkunjung ke kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 22 Januari 2019. Dalam kunjungannya tersebut, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia memberikan pandangannya terkait pemilihan umum di Indonesia 17 April 2019 mendatang.*/ABDUL MUHAEMIN/PR

BANDUNG, (PR).- Duta Besar Republik Indonesia untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi, menjabarkan perbedaan hoaks di Indonesia dan Eropa. Hal itu ia utarakan saat berkunjung ke Kantor Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 22 Januari 2019.

Meski sama-sama menjadi perhatian serius, hoaks di Eropa rentan disebarkan oleh anak-anak di bawah umur. Penyebar hoaks paling rawan adalah anak di bawah usia 15 atau 16 tahun.

Perilaku penyebaran hoaks di Eropa, kata Yuddy, ditentukan oleh tingkat pendidikan dan pemahaman yang berbeda. “Di Eropa juga sama permainan medos sangat berpengaruh. Bahkan perlakuan bully dan berita hoaks juga banyak terjadi di Eropa,” kata Yuddy Chrisnandi.

Dengan fakta demikian, Yuddy menjelaskan bahwa ada aturan di Eropa yang melarang penggunaan smartphone bagi anak-anak dibawah umur. Hal tersebut tentu berbeda dengan di Indonesia yang membebaskan anak menggunakan smartphone tanpa adanya batasan usia.

Terkait pelaksanaan Pemilu 2019 yang akan digelar April mendatang, Yuddy Chrisnandi mengharapkan agar para pemimpin nasional menunjukan kebesaran jiwanya dan menerima hasil dari Pemilu tersebut. “Setelah 17 April nanti akan memunculkan pemenang, sehingga yang diharapkan nantinya adalah jiwa besar dari para pemimpin nasional yang bisa menerima setiap hasil dari Pemilu tersebut. Kita harus bersatu dan saling membangun komitmen siap menang dan siap kalah,” ujar Yuddy Chrisnandi.

Menurutnya, dengan kebesaran jiwa dari seluruh elemen masyarakat, akan membuat pertikaian dan perseteruan yang selama ini terjadi bisa diredam. Ia menambahkan, dipupuknya kebesaran jiwa akan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dari perpecahan.

Yuddy Chrisnandi turut mencermati jalannya kontestasi politik selama ini. Indonesia, kata dia, sudah sering menjalankan pemilihan umum, sehingga ketika ada satu golongan yang kalah baik pendukung ataupun orang yang menyalonkan diri bisa menerima.

Dampak negatif teknologi

Namun berbeda dengan pemilihan umum sekarang, baik calon maupun pendukung saling bersiteru satu sama lain. Hal tersebut tidak lain karena perkembangan teknologi yang kian pesat.

Menurut Yudi saat ini masyarakat mulai terpecah dan saling serang setelah menjamurnya media sosial sebagai platform penyebaran informasi yang cepat. “Hanya sekarang ada kecenderungan dengan kemajuan teknologi yang dimanfaatkan untuk perspektif yang yang tidak tepat, sehingga membuat persaingan politik di Indonesia sudah tidak sehat,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yuddy tidak menampik bahwa saat ini media sosial membuat perseteruan menjadi gila dan ganas. Orang dengan mudah menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya, dan itu terjadi saat media-media sosial tersebut muncul. Hal inilah yang patut diperhatikan dan mendapatkan penanganan serius.

“Sementara sekarang lebih gila, dengan kemajuan teknologi lalu bermunculan berbagai platform untuk menyebarkan informasi dengan cepat yaitu media sosial. Di medsos sekarang orang dengan mudah dipancing untuk menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya, hal-hal inilah yang menjadi pemicu pertikaian dan perseteruan di masyarakat,” ujarnya.***

Bagikan: