Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

Suap Kasus Meikarta Diserahkan di Rest Area Tol Purbaleunyi, Nama Iwa Karniwa Kembali Disebut

Yusuf Wijanarko
PARA saksi kasus suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi memberikan kesaksian di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin 21 Januari 2019. Enam saksi dimintai keterangannya atas terdakwa Biilly Sindoro, Henry Jasmen Sitohang, Fitradjaja Purnama, dan Taryudi.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
PARA saksi kasus suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi memberikan kesaksian di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin 21 Januari 2019. Enam saksi dimintai keterangannya atas terdakwa Biilly Sindoro, Henry Jasmen Sitohang, Fitradjaja Purnama, dan Taryudi.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG, (PR).- Sekretaris Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bekasi yang menjadi saksi dalam kasus suap proyek Meikarta, Hendry Lincoln mengatakan, uang suap sebesar Rp 500 juta sebagai pelicin revisi Raperda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi untuk pejabat Pemprov Jawa Barat diserahkan di Rest Area KM 72 Tol Purbaleunyi.

"Totalnya ada tiga kali pertemuan dengan Pak Sekda Jabar Iwa Karniwa. Pertama di rest area KM 72 dengan Pak Sulaeman selaku anggota DPRD Bekasi, anggota DPRD Jabar, dan Neneng Rahmi. Pertemuan membahas revisi Raperda RDTR. Saat itu, Pak Iwa cerita beliau akan maju di Pilgub Jabar," kata Hendry Lincoln pada sidang lanjutan kasus suap Meikarta di Pengadilan Tipikor, Lajan RE Martadinata, Kota Bandung, Senin 20 Januari 2019.

Henry Lincoln mengatakan, saat itu dia menjabat sebagai Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Bekasi dan berperan membantu terdakwa Neneng Rahmi (Kabid Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi) terkait pengurusan izin proyek pembangunan Meikarta.

Sekda Jabar Iwa Karniwa/DOK PR

Bantuan dilakukan karena perkembangan Revisi Raperda RDTR Kabupaten Bekasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Sementara Neneng Rahmi diminta Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin untuk segera merampungkan RDTR tersebut.

Henry Lincoln mengatakan, dia memiliki jaringan ke lingkungan Pemprov Jabar melalui Sulaiman (anggota DPRD Bekasi Fraksi PDIP) dan Waras Wasisto (anggota DPRD Jabar Fraksi PDIP).

Selanjutnya, Sulaiman, Waras Wasisto, dan Henry Lincoln melakukan pertemuan di rest area KM 72 Tol Purbaleunyi. Neneng Rahmi pun hadir tetapi  tidak mengikuti pertemuan tersebut.

Hendry mengatakan, pada pertemuan tersebut, tidak ada pembahasan mengenai permintaan uang Rp 1 miliar untuk percepatan proses RDTR.

Akan tetapi, kata dia, Waras menyampaikan kepadanya bahwa Iwa Karniwa sedang mengikuti proses sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat. Demikian dilaporkan Antara.

"Jadi, Pak Waras menyampaikan bahwa Pak Sekda Jabar Iwa Karniwa ikut dalam bakal calon gubernur Jabar. Setelah pertemuan, Pak Waras minta (uang Rp 1 miliar)," katanya.

Kali kedua dan ketiga

Setelah pertemuan pertama di rest area Tol Purbaleunyi, Hendry Lincoln mengakui, telah dilakukan dua kali pertemuan dengan Iwa Karniwa di ruang kerjanya, di Gedung Sate, Kota Bandung.

Akan tetapi, pada pertemuan yang digelar di Gedung Sate, kata Henry Lincoln, Iwa Karniwa tidak menanyakan uang yang diminta Waras Wasisto.

"Untuk pertemuan yang kedua di ruang kerja Pak Iwa Karniwa. Tanggal dan waktu saya lupa, mungkin ada seminggu dua minggu setelah pertemuan di KM 72, mungkin sekitar Juli 2017," ujarnya.

Jaksa KPK bertanya kepada Henry Lincoln, apa yang dibahas dalam pertemuan kedua dan ketiga antara dia dengan Sekda Iwa karniwa.

Henry Lincoln menjawab bahwa Iwa Karniwa meminta penjelasan tentang penyampaian draf Raperda RDTR yang substansinya akan dibahas di BKPRD.

"Kalau pertemuan ketiga pada Januari 2018 dilakukan di ruang kerja Iwa Karniwa karena sampai Januari, persetujuannya belum turun juga," kata dia.

"Jadi, kami dengan Bu Neneng menanyakan sejauh mana bantuan yang sudah diberikan Pak Sekda Provinsi Jawa Barat terhadap persetujuan," ucapnya.

Sementara uang senilai Rp 1miliar yang dibahas pada pertemuan pertama diberikan melalui Sulaiman sebesar Rp 900 juta pada Desember 2017 kepada Waras Wasisto.

"Kebetulan, kami ada basecamp di dekat Bahana, di daerah Bekasi. Uang itu diserahkan oleh Bu Neneng dan kemudian saya meminta kepada staf saya untuk menyerahkan ke Sulaiman di Grand Wisata, di daerah Bekasi," kata dia.***

Bagikan: