Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 20.6 ° C

Jabar Saber Hoaks, Genderang Perang Melawan Berita Bohong

Deni Yudiawan
WARGA menunjukkan stiker Jabar Saber Hoaks di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 7 Desember 2018. Jabar Saber Hoaks merupakan lembaga yang akan memverifikasi konten dan informasi hoaks khususnya di Jawa Barat.*/ANTARA
WARGA menunjukkan stiker Jabar Saber Hoaks di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 7 Desember 2018. Jabar Saber Hoaks merupakan lembaga yang akan memverifikasi konten dan informasi hoaks khususnya di Jawa Barat.*/ANTARA

”TANDA-tanda kiamat sudah jelas dan semakin dekat... Inilah ular yang bertanduk yang diceritakan dalam Alquran. Semoga yang membagikan foto ini dijauhkan dari marabahaya Amin... Bagikan jika anda Islam.”

Berita itu menyebar melalui akun Facebook bernama ­Ustad ­Abdul Somad (www.facebook.com/ustadzabdulsomat), disukai oleh 13.000 orang dan dibagikan kembali oleh 130.000 orang. Foto yang menunjukkan gambar ular kecil yang dipegang itu memperlihatkan kepala ular yang seperti memiliki tanduk.

Isu itu sebenarnya beredar 5 Oktober 2018 lalu. Namun, rupanya isu itu kembali mencuat dan dipertanyakan salah seorang warga kepada tim Jabar Saber Hoaks. Tak lama setelah ­aduan itu, melalui akun Istagram @jabarsaberhoaks, Minggu 20 Januari 2019, kemudian disimpul­kan bahwa itu adalah berita bohong alias hoaks.

Meski ­foto itu benar terjadi dan diberitakan Newsweek pada 12 Maret 2018, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi ular piton itu memiliki kelainan saat menetas dari telur dan kemudian mati tak lama setelah menetas. Ada yang menarik, karena akun penyebar berita bohong itu meng­atasnamakan sosok kondang Ustad Abdul Somad.

Tapi, jika diperhatikan lebih teliti akun itu memiliki user name @ustadzabdul­somat, sementara akun Ustad Abdul Somad yang asli adalah @ustadz­abdulsomad, hanya berbeda satu huruf di belakang user name tersebut. Wakil Koordinator Jabar Saber Hoaks, Retha Aquila, mengaku tak aneh lagi dengan berbagai aduan tersebut.

GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil menyampaikan arahannya saat peresmian Jabar Saber Hoaks di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 7 Desember 2018. Jabar Saber Hoaks merupakan lembaga yang akan memverifikasi konten dan informasi hoaks khususnya di Jawa Barat.*/ANTARA

Banyak informasi yang sengaja disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Ia menyadari bahwa banyak masyarakat kebingungan dalam memilih informasi, mana berita benar dan yang salah. Hal itu yang melatarbelakangi pembentukan tim Jabar Saber Hoaks yang digagas Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Tim Jabar Saber Hoaks ini dibentuk atas dasar surat keputusan gubernur dan berada di bawah koordinasi Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Jawa Barat. Beranggotakan 12 orang muda yang sangat bersemangat, sejak awal Desember tahun lalu mereka me­nempati sebuah ruangan di lantai 3 gedung B di kompleks Gedung Sate Bandung, Jalan Diponegoro No 22, Kota Bandung.

Pakar teknologi informasi dan blogger Enda Nasution dipercaya sebagai koordinator tim itu. Di bawahnya ada wakil koordinator, kepala divisi klarifikasii dan diseminasi, 5 orang admin media sosial dan Whats­App, 2 orang pengecek fakta (fact checker), serta 2 orang petugas diseminasi dalam bentuk grafis dan video.

Mereka memiliki latar belakang berbeda dan mengaku sedikit kaget dengan banyaknya aduan masyarakat. Namun dengan berjalannya waktu mereka kini mengaku sudah biasa dan senantiasa siap melakukan klarifikasinya.

Alur kerja mereka sebenarnya sederhana. Melalui nomor Whats­App 082118670700, akun Instagram, Twitter, dan Line @jabarsaberhoaks serta Facebook @official.jabarsaberhoaks mereka menerima aduan dari masyarakat Jabar.

Aduan itu kebanyakan berupa pertanyaan dari masyarakat tentang informasi yang mereka terima. Warga bertanya untuk memastikan apakah informasi itu benar atau tidak. Selain aduan, pada admin juga mengecek berita-berita yang sedang trending, terutama untuk isu terkait Jawa Barat, untuk memastikan itu adalah berita yang benar. 

Informasi itu kemudian diteruskan pada pengecek fakta yang akan membuktikannya. Hasilnya kemudian disebarkan kembali melalui kanal resmi Jabar Saber Hoaks atau dikirim langsung pada si penanya atau pengadu.

Isu lama

Terkait aduan yang kebanyakan masuk dalam sebulan terakhir sejak Jabar Saber Hoaks dibentuk, Kepala Divisi Klarifikasi dan Diseminasi Alfianto Yustinova memperlihatkan sebagian besar ­aduan tersebut. Menurut dia, meskipun banyak namun mayoritas aduan itu justru merupakan isu-isu lama.

Alfian meng­aku beberapa kasus saja yang membutuhkan penelusuran mendalam untuk membuktikannya karena merupakan isu dan belum ada yang ­mengangkatnya. Wajar saja jika Alfian mengaku tak terlalu kaget dengan banjirnya aduan yang meminta klarifikasi meski kebanyakan adalah isu lama.

Sebelum bergabung dengan tim Jabar Siber Hoaks, ia telah lama aktif di komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Bandung. Seperti diketahui, Mafindo saat ini merupa­kan komunitas yang paling gencar berperang melawan berita bohong.

Bersama Mafindo, Alfian bahkan beberapa kali melakukan sosialisasi antihoaks dan memberikan cara praktis kepada masyarakat awam untuk melakukan klarifikasi sendiri. Berdasarkan data Jabar Saber Hoaks, sepanjang Desember 2018 telah masuk 480 aduan.

WARGA melintas di depan mural bertema Antihoaks di desa Madegondo, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis, 18 Oktober 2018. Mural tersebut dibuat warga setempat untuk mengkampanyekan gerakan antihoaks serta sebagai media edukasi masyarakat akan perlunya menanggulangi penyebaran berita bohong, hasutan, dan ujaran yang dapat menimbulkan kebencian.*/ANTARA

Sebagian besar dari aduan itu telah berhasil dikla­rifikasi. Namun, tak sedikit juga aduan yang minim data hingga sukar untuk dilacak. Menurut Alfian, isu politik masih mendominasi. Hal ini terlihat dari melonjaknya aduan saat kicauan Andi Arief tentang tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos di Tanjungpriok.

Warganet bereaksi dengan mempertanyakan hal itu pada akun Jabar Saber Hoaks. Selain politik, isu lain yang banyak ditanyakan adalah masalah kebencanaan dan kesehatan.

”Semua aduan harus ditanggapi serius. Tapi yang menjadi prioritas adalah isu-isu yang menyangkut Jawa Barat dan sifatnya segera seperti bencana alam atau isu lain yang dianggap penting diklarifikasi agar masyarakat tidak kebingungan,” kata pemuda asal ­Bogor ini. 

Kehidupan pribadi

Upaya menangkal hoaks tentu tak mengenal waktu. Isu dan ­aduan bisa masuk kapanpun. Sementara waktu kerja para penjaga berita bohong ini adalah sepanjang hari kerja pukul 9 pagi hingga 5 sore. Untuk menyiasatinya, mereka masih siaga meski sudah berada di rumah hingga pukul 9 malam.

”Kita selalu berjaga-jaga kalau-kalau ada aduan yang sangat penting dan masuk malam hari. Tetap saja harus kita klarifikasi. Tindakan serupa kita lakukan saat akhir pekan,” kata Tommy Sutami, admin aduan masyarakat di Facebook.

Sementara Depi Agung Setiawan yang selalu bersiaga dengan ­aduan melalui WhatsApp, mengatakan bahwa ada tiga prinsip yang mereka pegang yaitu independen, akurat, dan cepat. Meski sedikit menyita waktu pribadinya karena aduan via WhatsApp adalah yang paling banyak, ia mengaku jadi lebih skeptis terhadap sesuatu sebelum dibuktikan terlebih dahulu kebenarannya. 

Hoaks.*/DOK. PR

Menurut Depi, beberapa anggota tim Jabar Saber Hoaks bahkan sudah kecanduan dalam melakukan klarifikasi aduan masyarakat ini. Meski demikian, kata dia, semangat untuk melakukan klarifi­kasi itu tentu harus diimbangi dengan upaya edukasi kepada masyarakat agar mereka dapat melakukan klarifikasi secara mandiri.

”Di tengah berbagai keterbatasan, kita sudah programkan untuk turun langsung ke daerah untuk melakukan edukasi ini. Untuk sementara kita menyasar dulu humas di pemerintahan kabupaten/­kota dan komunitas,” kata Depi.

Mewakili rekan-rekannya di tim Jabar Saber Hoaks, Depi ber­harap semua pihak berkolaborasi dan proaktif dalam upaya menangkal berita bohong. Tentu saja agar negeri ini tak terpecah hanya karena kabar sesat, seperti halnya berita ular bertanduk yang seakan dapat menyimpulkan kadar keislaman seseorang.***

 

Bagikan: