Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 27.5 ° C

Dapil 1 Kota Bandung dan Cimahi, Panggung Artis dengan Penonton Kritis

Dewiyatini
Pemilu/DOK. PR
Pemilu/DOK. PR

BANDUNG,(PR).- Meski banyak pesohor yang berada di Dapil 1 Jawa Barat (Kota Bandung dan Cimahi), bukan sebuah keniscayaan mereka memenangi pertarungan. Pengamat Politik Universitas Padjadjaran Firman Manan mencontohkan, dalam Pilwalkot Bandung 2018, Nurul Arifin gagal padahal dia dikenal sebagai artis dan politikus.

“Ada kecenderungan pergeseran prevalensi pemilih sehingga tidak mudah untuk menaklukkan Dapil 1,” kata Firman Manan, Minggu 20 Januari 2019.

Pemilih di perkotaan, kata dia, bersifat rasional kritis. Mereka tidak melihat popularitas figur. Namun, mereka akan memilih tokoh yang memiliki kedekatan dan rekam jejaknya dikenali.

“Sehingga, tokoh-tokoh lokal, calon dari petahana, dan artis yang mempunyai rekam jejak di politik yang berpeluang besar seperti Nico Siahaan, Nurul Arifin, dan Arief Suditomo,” ujar Firman Manan.

PEKERJA menyortir lembaran cetakan contoh poster specimen surat suara sosialisasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) di percetakan Puji Syukur di Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (16/1/2019). Menjelang pilpres, percetakan itu kebanjiran pesanan contoh surat suara sosialisasi KPU sebanyak 2.500 lembar.*/ANTARA

Artis yang menggenjot habis-habisan sarana kampanye di media sosial juga tidak memiliki jaminan meraih suara tinggi terutama dari generasi milenial. Terlebih, generasi milenial jauh lebih kritis dan rasional.

Firman Manan menyarankan para caleg di Dapil 1 Jawa Barat dapat memetakan program dengan melihat karakter pemilih. Gagasan-gagasan yang ditawarkan, kata dia, harus dekat dengan kepentingan Kota Bandung dan Kota Cimahi.

“Jangan tawarkan program yang generik karena kampanye seperti itu tidak akan laku. Harus spesifik dengan kebutuhan dapil,” ucapnya.

Disinggung soal model kampanye tandem dengan caleg dari DPRD Provinsi dan kota/kabupaten, Firman Manan menilai hal itu akan efektif bila mereka menyepakati isu-isu lokal yang sama. Namun, jika hanya mengerek popularitas, tidak akan efektif bagi keduanya karena pemilih masih melihat figur.

“Sebaiknya, dipetakan dulu model dan gagasan yang ditawarkan pada pemilih,” kata dia.

Peta kekuatan parpol

Dapil 1 merupakan daerah dengan karakter pemilih rasional dan kritis. Tidak heran bila partai politik yang menguasainya merupakan parpol-parpol nasionalis.

Pada 2014, setidaknya ada 6 parpol yang menguasai Dapil 1 Jawa Barat antara lain PDIP, Gerindra, PKS, Golkar, Demokrat, dan Hanura. Lima parpol itu merupakan parpol nasional dan 1 parpol adalah Islam modern.

“Sulit bagi parpol dengan massa tradisional menguasai Dapil 1 Jawa Barat,” ujar Firman Manan.

Alat Peraga Kampanye Pemilu 2019.*/ANTARA

Adanya 6 parpol yang menguasai saat itu, kata Firman Manan, membuktikan tidak ada parpol yang dominan. Juga, memperlihatkan pertarungan yang ketat. Hal itu pula yang menunjukkan bahwa pilihan dari warga di perkotaan cenderung rasional.

Firman Manan memprediksi, pertarungan pada Pemillu 2019 akan sama ketatnya. Hanya parpol yang mencalonkan presiden yang akan mendapat limpahan suara signifikan. “Kalau tidak PDIP, ya, Gerindra,” kata dia.

Firman menyebutkan PKS juga memiliki peluang meraup suara tinggi di Dapil 1 Jawa Barat. Pasalnya, kader PKS menang dalam pemilihan wali kota Bandung yaitu Oded M Danial. Namun, Firman Manan menyayangkan adanya konflik internal yang cukup berpengaruh pada kerja mesin parpol. 

Selain PKS, ada Golkar dengan basis masssanya memungkinkan mendapat suara yang cukup tinggi di Dapil 1 Jawa Barat.***

Bagikan: