Pikiran Rakyat
USD Jual 14.301,00 Beli 14.001,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Urusan Smart City, Kota Bandung Kalah oleh Semarang dan Tangerang Selatan

Tri Joko Her Riadi
Command Center/DOK PR
Command Center/DOK PR

BANDUNG, (PR).- Punya ratusan aplikasi smart city, Kota Bandung justru tak masuk daftar kota terbaik dalam Indeks ­Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018. Untuk kategori metropolitan, ­Bandung kalah dari Surabaya, ­Semarang, dan Tangerang Selatan. 

Merujuk pada lingkaran kota cerdas oleh Boyd Cohen, survei menetapkan enam pilar yang dijadikan indikator, yakni lingkungan, mobilitas, pemerintahan, ekonomi, masya­ra­kat, dan kualitas hidup.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Bandung Ahyani Raksanegera memandang survei IKCI 2018 sebagai bahan eva­luasi. Dalam pemahamannya, survei menekankan pada sejauh mana dampak yang dihasilkan oleh pene­rapan sistem kota pintar di tiap-tiap daerah. Jadi bukan semata-mata urus­an jumlah aplikasi.

”Pada akhirnya sistem kota pintar tetap harus bermuara pada dampak positif bagi layanan publik. Survei ini akan jadi bahan evaluasi kita,” tutur Ahyani, Minggu 13 Januari 2019.

Ratusan aplikasi smart city dievaluasi

Pemerintah Kota Bandung mem­prioritaskan integrasi beragam apli­kasi dalam sistem kota cerdas (smart city) sepanjang 2019. Ukuran keberhasilan penerapan sistem kota cerdas tetap sama, yakni seberapa besar dam­pak­nya pada layanan publik.

Sebanyak 400 aplikasi pendukung sistem kota cerdas telah dihasilkan Kota Bandung. Hingga akhir 2018 lalu, sudah ada sekitar 40 kerja sama atau nota kesepahaman dengan ber­bagai pemerintahan daerah dan lembaga lainnya terkait dengan replikasi aplikasi. Penghargaan demi penghargaan juga sudah diperoleh.

Command Center/DOK PR

Ahyani menyatakan, meski telah mengukir berbagai capaian, Pemkot Bandung terus melakukan evaluasi dan perbaikan. Salah satu prioritas yang sudah dimulai pada tahun 2018 dan akan diteruskan pada tahun ini adalah integrasi layanan kota cerdas.

”Integrasi akan membuat layanan kepada publik semakin efektif. De­ngan sekali entry (masuk), misalnya, warga bisa mengakses sekaligus beragam layanan, mulai dari perizinan, kependudukan, hingga pajak. Jadi tidak perlu mengunduh banyak apli­kasi atau bolak-balik log in,” kata­nya.

Dijelaskan Ahyani, program integrasi sistem kota cerdas dikerjakan oleh Diskominfo dan juga beberapa dinas teknis lain. Salah satunya ada­lah Badan Perencanaan, Pemba­ngun­an, Penelitian, dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Bandung. Terkait de­ngan program-program pemerintah, integrasi memung­kin­kan pengelolaan sejak dari perenca­naan, penganggar­an, hingga peng­awasan dan evaluasi.

Menuai keluhan

Ahyani menyatakan, pengembang­an Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik (SPBE) membuat pemkot mampu menekan potensi pelanggaran dalam pemanfaatan anggaran. Tidak bakal ada program titipan, yang tidak ada dalam perencanaan, tiba-tiba muncul di tengah penganggaran.

Selain integrasi sistem, Ahyani juga menyoroti tantangan besar Pem­kot Bandung untuk meningkatkan mutu layanan data. Saat ini, pemkot masih fokus pada kuantitas data, belum pada kualitas dan kemudahan aksesnya.

Akibatnya, tidak jarang muncul keluhan dari masyarkat. ”(Pengelolaan data) ini tantangan besar pemkot selanjutnya. Kita baru fokus pada jumlah data, sehingga sangat kekurangan data update dan real time. Tahun ini kita akan ting­katkan SDM di bidang khusus ini,” ucap Ahyani.***

Bagikan: