Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Berisiko Tinggi, Penelitian Sesar Lembang Intens Dilakukan

Dewiyatini
KAWASAN wisata Lembang.*/DOK. PR
KAWASAN wisata Lembang.*/DOK. PR

BANDUNG,(PR).- Penelitian terhadap sesar Lembang dilakukan lebih intens. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menilai dampak yang mungkin ditimbulkan bila terjadi gempa akan sangat besar.

“Risikonya jauh lebih besar karena tingkat hunian di Lembang cukup padat. Ditambah dengan wilayah Bandung Raya yang juga akan kena dampaknya,” ucap Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat PVMBG Ahmad Solihin, belum lama ini.

Penelitian terhadap sesar Lembang lebih sering dilakukan bila dibandingkan dengan Sesar Cimandiri dan Baribis. Penyebabnya, karena sesar Cimandiri dan Baribis lokasinya tidak banyak dihuni dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi.

“Sehingga belum banyak penelitian terbaru mengenai hal itu (sesar Cimandiri dan Baribis),” kata dia.

Menurut Ahmad, penelitian mendalam terhadap sesar Lembang perlu terus dilakukan. Sebab, penentuan jarak aman dari patahan akan menjadi dasar pemerintah daerah, dalam merancanng tata ruang wilayahnya.

Penataan yang sesuai, tambah Ahmad, akan mengurangi risiko bila terjadi bencana. Berdasarkan pengukuran dari peristiwa gempa bumi yang pernah terjadi, besaran magnitudo di tiap segmen rata-rata 7-9 magnitudo.

Hunian berstandar mitigasi bencana

Namun selama ini, gempa-gempa yang terjadi di sekitar patahan masih berada di bawah 4 magnitudo. Dia menambahkan, salah satu cara untuk mengurangi risiko bencana, selain menguatkan edukasi kebencanaan, adalah dengan menyarankan pembangunan rumah dan bangunan lainnya didasarkan pada standar nasional Indonesia untuk mitigasi bencana.

Akan tetapi, diakui Ahmad, saat ini pihaknya belum memiliki data aktual bangunan-bangunan yang berada di sekitar patahan. Namun, pemerintah daerah dapat membantu menyosialisasikan hal itu pada masyarakat.

“Sehingga dampak yang dirasakan saat bencana tidak terlalu besar,” ucapnya.

Untuk menentukan jarak aman hunian dari patahan atau sesar, perlu dilakukan penelitian mendalam sehingga didapatkan data yang lebih detil. Akan tetapi, penentuan garis patahan itu merupakan tantangan tersendiri.

“Kami perlu melakukan riset dan penyelidikan lebih mendalam di patahan-patahan yang ada,” ucapnya.

Foto sesar Lembang

Dari riset-riset itulah akan didapatkan data yang lebih rinci tentang kondisi terkini dari patahan. Saat ini, diakui Ahmad, foto sesar Lembang telah memiliki resolusi yang lebih tinggi karena pencitraan memanfaatkan teknologi digital. Namun, foto itu juga belum memberikan gambaran yang terlalu rinci.

Ahmad menyebutkan pihaknya masih memiliki keterbatasan dalam penelitian. Di Pulau Jawa saja, terdapat 31 patahan. Jumlahnya akan terus bertambah seiring dengan adanya penelitian-penelitian terbaru.

Ahmad juga menyebutkan, Badan Geologi juga terbuka dengan kemungkinan permintaan dari pemerintah daerah untuk menyelidiki patahan di wilayahnya. Akan tetapi, permintaan ini disesuaikan dengan anggaran penelitian yang ada di Badan Geologi.

Kendati demikian, Ahmad mengatakan Badan Geologi mengapresiasi kepedulian dari pemerintah daerah untuk melakukan hal itu. Ahmad mencontohkan Bangka Belitung telah mengajukan permintaan penelitian patahan di wilayahnya. Tapi, hal itu belum dapat dipenuhi.***

Bagikan: