Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian cerah, 32.2 ° C

Kenali Perbedaan Puting Beliung dengan Badai

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI badai dari citra satelit.*/AFP
ILUSTRASI badai dari citra satelit.*/AFP

BANDUNG, (PR).- Meski sama-sama fenomena alam, angin puting beliung memiliki karakteristik yang berbeda dengan siklon dan badai. Perbedaannya dapat dilihat dari durasi serta luas daerah yang terdampak.

Demikian disampaikan Kepala Stasiun BMKG Bandung, Toni Sukma Wijaya saat on air di Radio PRFM 107.5 News Channel, Sabtu 12 Januari 2019.

"Angin puting beliung berbeda dengan siklon atau badai yang terjadi di berbagai negara. Siklon bisa melanda selama satu pekan. Daerah yang terdampak juga luas, bisa satu provinsi bahkan melintas ke beberapa negara," kata Toni.

Sementara durasi angin puting beliung cukup singkat, sekitar lima menit dan langsung menghilang ketika sudah terjadi. Luas daerah yang terdampak pun biasanya kurang dari 2 km.

"Apabila kecepatan anginnya dibawah 100 km per jam, biasanya dampak yang timbulkan mampu menumbangkan pohon dan menerbangkan atap," ujarnya.

Lebih lanjut Toni berpendapat, Indonesia menjadi salah satu negara yang jarang terkena siklon maupun badai. Fenomena alam yang terjadi kebanyakan disebabkan oleh awan cumulonimbus, tekanan udara rendah berskala besar, serta perbedaan suhu di permukaan.

"Makanya BMKG selalu melakukan pemantauan awan cumulonimbus melalui citra satelit dan radar. Setiap 1 jam menjelang pembentukan awan cumulonimbus, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem," ucapnya.

Melansir Kantor Berita Antara, angin puting beliung disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu siklus lokal, regional, dam global. Tiga faktor inilah yang menyebabkan angin puting beliung terjadi di Rancaekek, Jumat 11 Januari 2019.

Berdasarkan pantauan citra satelit dalam peristiwa yang terjadi di Rancaekek itu, pada faktor fokal, terdapat pembentukan awan Cumulonimbus di sekitar wilayah Bandung timur dan sekitarnya pada pukul 15.10 WIB. Dari sisi faktor regional, adanya pertemuan massa udara di sekitar Jabar dan belokan angin (shearline) di Jawa Barat bagian tengah.

Kemudian faktor global, karena terdapat anomali suhu permukaan laut di perairan Jawa Barat yang cenderung hangat sehingga berpeluang terjadi pembentukan awan konvektif potensial hujan.

Adapun terjangan angin puting beliung di Rancaekek berdampak pada 150 rumah warga. Ratusan rumah itu berasal dari empat wilayah Rancaekek, Kabupaten Bandung.(Desy Viani)***

 

Bagikan: