Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.303,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

BMKG: Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah Jawa Barat

Tim Pikiran Rakyat
Ilustrasi cuaca ekstrem.*/ABC
Ilustrasi cuaca ekstrem.*/ABC

BANDUNG, (PR). - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem. Beberapa wilayah di Jawa Barat berpeluang diguyur hujan dengan intensitas lebat disertai petir dan angin kencang pada sore hari. 

Hal itu disampaikan Prakirawan cuaca BMKG Kota Bandung, Yuni Yulianti, saat on air di Radio PRFM 107.5 News Channel, Sabtu 12 Januari 2019. "Cuaca ekstrem ini berpotensi terjadi di wilayah Bandung, Bogor, Depok, Sukabumi, Cianjur, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang dan Pangandaran," ujar Yuni Yulianti.

Adapun cuaca Bandung Raya pada pagi ini umumnya cerah berawan. Peluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang diprediksi terjadi pada sore menjelang malam hari. 

"Suhu udara berkisar 20,1-30 derajat celsius, kelembapan udara 54-92 persen dan angin bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan maksimum 20 km perjam," ucap Yuni. 

Sementara itu, suhu udara di Jawa Barat utara berkisar 23-33 derajat celsius, kelembapan udara 50-95 persen. Sedangkan di wilayah Jawa Barat selatan suhu berkisar 19-33 derajat celsius dan kelembapan udara 55-95 persen.

"Angin di daerah Jawa Barat bertiup dari arah barat laut hingga timur laut dengan kecepatan maksimum 30 km perjam," katanya.

Untuk diketahui sebelumnya, cuaca ekstrem cukup berdampak di sektor pariwisata, khususnya wisata alam untuk para wisatawan dengan minat tertentu. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengimbau wisatawan dengan minat tertentu seperti pendaki gudung, untuk berhati-hati karena cuaca ekstrem ini.

Pemerintah meminta wisatawan lebih memperhatikan peraturan-peraturan yang dikeluarkan pengelola lokasi pendakian di Indonesia. Ketua Tim Tourism Crisis Center (TCC) Kemenpar Guntur Sakti mengatakan, curah hujan yang tinggi ditambah angin kencang membuat suhu di permukaan yang lebih tinggi menjadi lebih dingin, termasuk di atas gunung dan jalur pendakian.

Kondisi tersebut pada umumnya mengakibatkan hipotermia, salah satu hal yang bisa dialami pendaki. 

"Berdasarkan laporan yang diterima Tim TCC (Tourism Crisis Center) Kemenpar, beberapa wisatawan minat khusus mengalami hipotermia di beberapa gunung yang menjadi favorit wisatawan mendaki, seperti di Gunung Semeru dan Gunung Slamet," ujar Guntur Sakti yang juga Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar di Jakarta, Kamis 10 Januari 2019.

Hipotermia merupakan kondisi tubuh dimana suhu tubuh menurun sampai di bawah 37 derajat celcius, yang menjadi suhu tubuh normal manusia. Selain hipotermia, jalur pendakian yang licin juga bisa menjadi salah satu tantangan saat melakukan pendakian di cuaca ekstrem.

"Tentunya kami mengimbau kepada para wisatawan minat khusus atau pendaki untuk berhati-hati dan lebih memperhatikan peraturan yang dikeluarkan pengelola sejumlah lokasi pendakian di Indonesia," ujar Guntur Sakti.

Menurut dia, memperhatikan secara penuh arahan pengelola menjadi hal utama yang harus dilakukan wisatawan minat khusus. Selain itu, wisatawan mesti melakukan persiapan yang baik dan matang atas segala kebutuhan yang diperlukan untuk melakukan pendakian, mulai dari logistik, peralatan dan perlengkapan mendaki.

“Juga perhatikan karakter jalur dan trek jalur pendakian yang akan didaki," ucapnya.(Desy Viani)***

 

Bagikan: