Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Cerah berawan, 26.8 ° C

Mengalami Kejang Saat Berusia 1 Tahun, Berat Badan Remaja Ini Hanya 19 Kg

Handri Handriansyah
HENI Merinda (39) menemani dan merawat anak sulungnya Ilham Dwiguna Pangestu (19) yang mengalami kelainan pertumbuhan akibat kerusakan pembuluh darah otak dan gizi buruk, di rumah kontrakan mereka di RT 03/14, Kampung Babakan Desa, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (8/1/2019).*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
HENI Merinda (39) menemani dan merawat anak sulungnya Ilham Dwiguna Pangestu (19) yang mengalami kelainan pertumbuhan akibat kerusakan pembuluh darah otak dan gizi buruk, di rumah kontrakan mereka di RT 03/14, Kampung Babakan Desa, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (8/1/2019).*/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

PERAWAKANNYA yang kecil dan kurus, tak menunjukan Ilham Dwiguna Pangestu seperti remaja pada umumnya. Rengekan dan tangisannya ketika menyampaikan keinginan bahkan mirip seorang balita yang meminta susu, atau setidaknya perhatian dari sang ibu.

Padahal saat ini, putra pasangan Dedi Irawan (41) dan Heni Merinda (39) itu sudah berusia 19 tahun. Angka usia tersebut justru sama dengan berat badannya yang hanya sekitar 19 kilogram.

Dengan berat badan yang bahkan lebih ringan dari idealnya seorang anak usia enam tahun, Ilham pun tak bisa beraktivitas layaknya remaja lain. Sehari-hari, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur atau menonton televisi di ruang tamu rumah kontrakan keluarganya di RT 03/14, Kampung Babakan Desa, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.

Sang ibunda Heni mengatakan, kondisi putra sulungnya itu berawal ketika mengalami deman dan kejang-kejang ketika berusia satu tahun. "Sejak itu, pertumbuhan Ilham terhambat dan seperti kaku," ujarnya saat ditemui di kediaman mereka.

Ketika itu, kata Heni, ia beserta sang suami dan Ilham masih tinggal di wilayah Cianjur Selatan. Ia pun terus berupaya membawa Ilham berobat ke dokter di wilayah Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.

"Demam dan kejang terus dialami Ilham hingga sekarang, kami sudah sering membawa dia ke dokter tetapi tidak intensif karena keterbatasan biaya. Awalnya kata dokter Ilham mengalami kerusakan pada pembuluh darah otaknya," tutur Heni.

Kerusakan itu tidak sampai merusak syaraf penglihatan dan pendengaran Ilham. Namun kemampuan Ilham untuk memahami bahasa lisan terganggu, sehingga ia tak bisa berkomunikasi dengan baik dan sampai kini hanya bisa merengek dan menangis seperti bayi.

Kondisi ini, kata Heni, diperparah dengan kondisi tubuh Ilham yang tak bisa tumbuh normal. "Setelah berkonsultasi dengan dokter, ternyata ada pengaruh dari gizi buruk juga," ucapnya.

Heni mengakui bahwa ia dan suaminya memang tak bisa memberi asupan nutrisi yang memadai untuk Ilham akibat kondisi ekonomi ketika itu. Bahkan saat demam dan kejang kembali mendera, Heni pun hanya sesekali membawa Ilham ke dokter dan sisanya menempuh pengobatan alternatif dengan biaya yang relatif lebih ringan.

"Waktu di Cianjur, suami saya yang hanya kuli bangunan tak memiliki penghasilan besar dan hanya cukup untuk makan seadanya serta membayar kontrakan rumah. Saya juga sebenarnya ingin memberi susu dan makanan bergizi lengkap untuk Ilham, tetapi harus terbagi juga dengan biaya pengobatan karena kalau ke dokter saat itu jaraknya jauh," kata Heni.

Hal itulah yang kemudian membuat Heni dan suami memutuskan untuk pindah dan mengontrak rumah di wilayah Soreang. Namun kondisi ekonomi yang hingga kini belum membaik membuat perawatan Ilham tetap saja alakadarnya.

Perhatian pemerintah

Beruntung, kepindahan Heni membuat kondisi Ilham mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Bandung sejak tiga bulan lalu. Bantuan kursi roda dari Dinas Sosial pun kini membuat Heni bisa membawa Ilham berjalan-jalan di sekitar rumah kontrakannya setiap pagi.

Pemerintah Desa Pemekaran sendiri kini tengah membantu proses pembuatan akta kelahiran untuk Ilham yang sejak lama tak bisa dilakukan oleh orangtuanya. Padahal akta itulah yang selama ini menjadi kendala bagi Heni untuk mendaftarkan Ilham ke program Jaminan Kesehatan Nasional dari Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (JKN-BPJS) Kesehatan.

"Dulu saya sempat membawa Ilham berobat dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), namun fasilitasnya terbatas. Untuk daftar BPJS mandiri tidak ada biaya dan Ilham tak memiliki akta kelahiran," ujar Heni.

Sementara itu Kepala Seksi Pelayanan pada Pemerintah Desa Pamekaran, Yani Rosdiani mengatakan, pihak desa baru mengetahui kondisi Ilham sejak setahun terakhir ini. Soalnya selama ini orang tua Ilham cenderung menutup diri dan seolah malu dengan kondisi kesehatan Ilham. 

"Namun sekarang, orang tua Ilham ini mulai terbuka dan mau menerima uluran tangan dari pihak desa. Kami akan berupaya untuk terus membantu Ilham agar mendapat pengobatan yang lebih baik dengan SKTM maupun BPJS mandiri," tutur Yani.***

 

Bagikan: