Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 18.5 ° C

Baru 1,5 Bulan Beroperasi, Pengadilan Agama Ngamprah Tangani 299 Kasus Cerai

Hendro Susilo Husodo
ILUSTRASI perceraian.*/KOMPASIANA
ILUSTRASI perceraian.*/KOMPASIANA

NGAMPRAH, (PR).- Dalam waktu sekitar 1,5 bulan sejak mulai beroperasi, Pengadilan Agama Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, telah menangani sebanyak 374 perkara. Hampir 80 persen atau sekitar 299 perkara berkaitan dengan kasus perceraian, yang sebagian besar dipicu oleh persoalan ekonomi atau perselingkuhan.

Humas PA Ngamprah Ahmad Hodri mengatakan, sebanyak 374 perkara tersebut merupakan data sementara yang dihimpun hingga 17 Desember 2018, atau sekitar 1,5 bulan sejak PA Ngamprah mulai beroperasi pada 5 November 2018. Dari jumlah tersebut, kata dia, sekitar 80 persen menyangkut perkara perkawinan.

"Hampir semua pasangam suami isteri (pasutri) akhirnya diputus bercerai, karena pihak yang berperkara sulit dimediasi. Cuma satu perkara yang berhasil dimediasi, yang lainnya bersikukuh untuk berpisah," kata Hodri di kantornya, Ngamprah.

Menurut dia, faktor pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkara perceraian. Pasutri yang berpendidikan tinggi, kata dia, lebih mudah diajak berkomunikasi dan relatif mau mempertimbangkan berbagai hal sebelum memutuskan untuk bercerai. 

"Lain halnya dengan pasutri yang berpendidikan rendah, mereka cenderung mengedepankan emosi. Mediasi yang kami lakukan biasanya tidak berhasil, karena mereka lebih memilih untuk berpisah secepatnya," katanya.

Di samping faktor ekonomi, menurut Hodri, tidak sedikit pula pasutri yang memutuskan untuk berpisah lantaran persoalan perselingkuhan. Sekitar 15-20 persen dari perkara perceraian dipicu oleh kehadiran pihak ketiga. "Sebagian besar, pihak isteri yang jadi penggugatnya," katanya.

Dia menjelaskan, sebanyak 374 perkara yang ditangani PA Ngamprah bukan hanya terkait kasus perceraian, melainkan pula ada yang mengenai masalah harta bersama, pembatalan pengangkatan anak, dan isbat nikah. "Sementara masalah waris belum ada yang masuk," ujarnya.

Perkara isbat nikah, terang dia, merupakan masalah yang paling banyak kedua setelah perkara perceraian. Ada lebih dari 50 perkara yang menyangkut isbat nikah. Dalam sehari, kata Hudori, PA Ngamprah rata-rata melakukan persidangan sebanyak 20 sampai 40 perkara. 

Banyak warga belum tahu

Hodri mengakui, hingga saat ini masih banyak warga Bandung Barat yang belum mengetahui keberadaan PA Ngamprah di Kompleks Pemerintahan KBB, tepatnya di bawah Masjid Agung KBB. Masyarakat KBB yang ingin mengurus perkara perkawinan, warisan, wasiat, dan hibah, masih banyak yang mendatangi PA Cimahi di Soreang, Kabupaten Bandung.

"Kantor yang sekarang juga masih sementara, kami belum menempati gedung yang permanen. Di kantor ini kami baru memiliki dua ruang sidang, satu ruang hakim, dan enam orang hakim," katanya. 

Lebih lanjut dia menjelaskan, PA Ngamprah melakukan penyidangan setiap Senin-Jumat mulai pukul 09.00. Dalam mekanismenya, pihak yang ingin mengajukan perkara datang ke media informasi, kemudian diarahkan ke Posbakkum untuk menyampaikan permasalahannya. 

"Nanti mereka akan dibantu membuat surat gugatan permohonan dan diserahkan ke media pendaftaran untuk registrasi masuk ke Ketua Pengadilan, nanti ditetapkan Majlis Hakim. Biasanya waktu untuk bisa persidangan ialah sekitar satu bulan," katanya.***

 

Bagikan: