Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Ribuan Obat dan Produk Ilegal Dimusnahkan

Novianti Nurulliah
KEPALA BPOM RI Penny K. Lukito (tengah), Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi, dan Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa berbincang saat pemusnahan obat dan makanan ilegal atau tanpa izin edar di Kantor Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Kamis, 20 Desember 2018.  Produk ilegal yang  terdiri dari 2.045 item tersebut didominasi oleh kosmetik dan obat tradisional berbahaya tanpa izin dengan nilai Rp8,1 miliar.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
KEPALA BPOM RI Penny K. Lukito (tengah), Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi, dan Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa berbincang saat pemusnahan obat dan makanan ilegal atau tanpa izin edar di Kantor Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Kamis, 20 Desember 2018. Produk ilegal yang terdiri dari 2.045 item tersebut didominasi oleh kosmetik dan obat tradisional berbahaya tanpa izin dengan nilai Rp8,1 miliar.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG,(PR).- Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung memusnahkan obat dan makanan ilegal/tanpa izin edar atau yang tidak memenuhi persyaratan keamanan senilai Rp 8,1 miliar di Kantor BBPOM Bandung, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Kamis, 20 Desember 2018. Sejumlah 2.045 item produk ilegal tersebut merupakan temuan hasil pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran di bidang obat dan makanan di wilayah Jawa Barat pada tahun 2018.

Temuan tersebut mencakup pada temuan sarana penjualan online tahun 2018 yang didominasi oleh produk kosmetik dan obat tradisional ilegal, dengan rincian 1.071 item (52,35%) kosmetik ilegal dan 576 item (28,15%) obat tradisional ilegal. 

Selain kosmetik dan obat tradisional, produk yang dimusnahkan juga terdiri dari Obat Keras yang diedarkan di sarana ilegal sebanyak 365 item (17,89 %), produk pangan ilegal dan mengandung bahan berbahaya (formalin dan boraks) sebanyak 24  item (1,17 %), dan produk suplemen kesehatan sebanyak 9 item (0.44 %).

Diketahui, produk kosmetik ilegal tersebut mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan rhodamin B, sedangkan obat tradisional mengandung bahan kimia obat (BKO) seperti Sildenafil Sitrat, Deksametason, dan BKO lainnya.

Kepala BBPOM Bandung, I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa mengatakan, produk-produk tersebut didapatkan dari 27 Kabupaten Kota di Jabar. Kota Bandung dan Kabupaten Bandung tercatat sebagai daerah dengan temuan yang paling banyak dibandingkan daerah lain. Lainnya, daerah-daerah urban seperti Bekasi, Cirebon dan juga Bogor.

"Makanya di sana (Bogor) menjadi pertimbangan ada kantor BBPOM juga," kata dia pada wartawan.

Wilayah-wilayah yang banyak menjadi temuan tersebut dipengaruhi berbagai aspek. Namun yang paling terlihat yaitu di daerah yang memang pasarnya terbuka. Bahkan, situasi peredaran produk ilegal di kawasan tersebut sudah masuk taraf kompleks.

“Banyak aspek ya, termasuk pendistrisibusian terbuka dari berbagai daerah, contohnya Tanggerang dekat dengan Bogor. Disamping pola konsumsi masyarakat,” katanya.

KEPALA BPOM RI Penny K. Lukito (kedua kiri), Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi, dan Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa secara simbolis memusnahkan obat dan makanan ilegal atau tanpa izin edar di Kantor Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Kamis, 20 Desember 2018.  Produk ilegal yang  terdiri dari 2.045 item tersebut didominasi oleh kosmetik dan obat tradisional berbahaya tanpa izin dengan nilai Rp8,1 miliar.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Transparansi dan edukasi

Kepala BPOM RI, Penny K Lukito yang hadir dalam kegiatan tersebut menuturkan, pemusnahan obat dan makanan ilegal tersebut merupakan bentuk tranparansi dan edukasi untuk masyarakat.

“Tak henti kami tegaskan kepada pelaku usaha untuk menaati standar dan peraturan terkait aspek keamanan, manfaat, dan mutu obat dan makanan. Jika pelaku usaha terbukti melakukan pelanggaran, terlebih dahulu akan kami bina agar selanjutnya dapat memenuhi persyaratan dan ketentuan,” ujar Penny.

Namun, kata dia, jika pelaku usaha terbukti melanggar peraturan dengan sengaja dan terus menerus melanggar, pihaknya tak segan untuk menindak dan menegakkan hukum agar pelanggaran diberi hukuman yang setimpal.
 
BPOM RI, tambah dia, terus berkomitmen untuk melindungi masyarakat Indonesia dari peredaran obat dan makanan ilegal yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan dengan meningkatkan kerja sama lintas sektor dengan semua pemangku kepentingan termasuk juga meningkatkan peran serta masyarakat sebagai konsumen cerdas dengan selalu “Cek KLIK”. Pastikan Kemasan dalam kondisi baik, baca informasi pada Label, memiliki Izin Edar, dan tidak melebihi masa kadaluwarsa.

"Hati-hati ada bahan kimia yang berbahaya, semakin meningkat penyakit yang berasal dari bahan kimia berbahaya," ujar dia.

KEPALA BPOM RI Penny K. Lukito (kerudung tengah), Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi, dan Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa memeriksa truk pengangkut obat dan makanan ilegal atau tanpa izin edar yang akan dimusnahkan di Kantor Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Kamis, 20 Desember 2018.  Produk ilegal yang  terdiri dari 2.045 item tersebut didominasi oleh kosmetik dan obat tradisional berbahaya tanpa izin dengan nilai Rp8,1 miliar.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Terlalu banyak jenis obat

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jabar, Iwa Karniwa mengatakan, dalam pelayanan kesehatan, obat merupakan komponen yang sangat penting karena diperlukan dalam sebagian besar upaya kuratif dan rehabilitatif. Dengan meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, masyarakat menuntut pelayanan kesehatan yang semakin profesional termasuk pelayanan obat. 

"Masyarakat dipusingkan dengan banyaknya obat yang beredar di pasaran sehingga diperlukan pertimbngan-pertimbangan yang cermat dalam memilih obat untuk suatu penyakit. Tidak kalah penting, obat harus selalu digunakan secara benar agar memberikan manfaat klinik yang optimal. Terlalu banyak jenis obat yang tersedia ternyata juga bisa memberikan masalah tersendiri dalam praktek, terutama menyangkut bagaimana memilih dan menggunakan obat secara aman,"kata dia.

Iwa menambahkan, mengingat sudah lamanya permasalahan ini terjadi dengan kemungkinan luasnya jaringan pelaku, tentunya dibutuhkan kepedulian semua pihak untuk bersama-sama memerangi peredaran obat ilegal, baik dari sektor pemerintah, pelaku usaha, termasuk masyarakat.***

Bagikan: