Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 23.8 ° C

Seni Angklung Akan Punah

Retno Heriyanto
RIBUAN peserta dari berbagai kominutas menggunakan berbagai macam busana secara serentak memainkan alat musik angklung yang dihiasi bendera negara-negara di dunia dalam acara perayaan Angklung's Day (Poe Angklung) se-dunia 2018 di halaman komplek perkantoran Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Gedung Sate) jalan Diponegoro, kota Bandung. Minggu, 18 November 2018. Acara tahunan yang digelar tersebut bertujuan untuk menanamkan kecintaan akan seni angklung serta nilai filosofi dan budaya yang terkandung didalamnya.*/ADE MAMAD/PR
RIBUAN peserta dari berbagai kominutas menggunakan berbagai macam busana secara serentak memainkan alat musik angklung yang dihiasi bendera negara-negara di dunia dalam acara perayaan Angklung's Day (Poe Angklung) se-dunia 2018 di halaman komplek perkantoran Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Gedung Sate) jalan Diponegoro, kota Bandung. Minggu, 18 November 2018. Acara tahunan yang digelar tersebut bertujuan untuk menanamkan kecintaan akan seni angklung serta nilai filosofi dan budaya yang terkandung didalamnya.*/ADE MAMAD/PR

BANDUNG, (PR).- Varietas bambu bahan baku alat musik angklung kian langka. Diperkirakan, kesenian angklung tidak akan bertahan sampai 10 tahun. Budi daya tanaman bambu khas Jawa Barat sejak belasan tahun tidak kunjung terealisasi, sehingga 37 varietas bambu Jawa Barat di ambang kepunahan.

”Saya berani mengeluarkan pendapat di hadapan menteri bahwa keseni­an angklung Indonesia tidak akan sampai 10 tahun lagi. Karena selain bahan baku yang semakin langka, pemerintah sendiri tidak memiliki keseriusan untuk memberikan dukungan bagi pelestarian,” ujar Sam Udjo, pemerhati dan seniman kesenian angklung, Selasa, 18 Desember 2018, pada Pelatihan Kreasi Musik Angklung, bertempat di Rumah Angklung Taman Budaya, Jalan Mustang, Cibogo, Pasteur, Bandung.

Dikatakan Sam, dirinya berani mengeluarkan pendapat tersebut karena setelah berkeliling di Jawa Barat, banyak pemilik perkebunan bambu yang menjadi sumber bahan perajin sudah mengganti kebun bambu dengan alba atau jati.

”Jawa Barat dikenal sangat kaya akan varietas bambu, tetapi kini hanya untuk bambu tertentu saja yang dianggap memiliki nilai ekonomis yang dikembangkan masyarakat, atau menggantinya dengan alba atau jati,” ujar Sam.

Bahkan untuk bambu hitam (awi wulung) yang menjadi bahan utama untuk alat musik angklung yang selama ini banyak ditemui di wilayah Jawa Barat selatan kian sulit didapat. Demikian pula hanya dengan awi temen berwarna kuning atau awi gombong serta awi tali, sudah sulit didapat.

”Saya baru dapat kabar beberapa hari lalu dari sejumlah perajin di Tasikmalaya bahwa pemilik kebun bambu di Bungbulang (Garut) akan membabat kebun bambunya yang luasnya puluhan hektare,” ujar Sam.

Dikatakan Sam, Indonesia khususnya Jawa Barat digembar-gemborkan sebagai pemilik varietas bambu paling banyak di dunia. Dari total 1.250 jenis pohon bambu, sekitar 159 di antaranya tumbuh di Jawa Barat.

Namun, dari 159 jenis bambu tersebut, 37 jenis bambu di ambang kepunahan karena tumbuh di daerah tertentu. Di antaranya awi euleul, tutul, bitung, wulung, tamiang, haur koneng, dan haur gereng.

Peran pemerintah 

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Pendidikan Musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Rita Milyartini, berharap pemerintah berperan aktif dan mendukung terhadap upaya-upaya pelibatan masyarakat dalam pelestarian seni budaya. 

”Seperti kesenian angklung yang merupakan tradisi warisan nenek moyang bangsa kita, sejak diakui UNESCO sebagai karya budaya tak benda dunia berasal dari Indonesia, banyak sekolah yang menggiatkan kesenian angklung,” ujar Rita.

Namun, banyak sekolah yang tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membeli perangkat angklung lengkap.

Pelatihan Kreasi Musik Angklung merupakan kegiatan yang diselenggarakan Pengabdian Masyarakat Departemen Pendidikan Musik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Saung Angklung Udjo, dan Rumah Angklung Taman Budaya UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari diikuti 20 peserta terpilih dari lima kabupaten kota di Jawa Barat.**

Bagikan: