Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Berawan, 23.6 ° C

Ikan di Waduk Saguling Tercemar Logam Berat

Cecep Wijaya Sari
KARYAWAN PT Central Georgette Nusantara Printing Mills (CGNP) dibantu petugas pemadam kebakaran membersihkan tumpahan oli di Sungai Cibingbin yang bermuara ke aliran Waduk Saguling di Kampung Cibingbin, RT 1, RW 4 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 4 April 2017. Sekitar 5.000 liter oli tumpah akibat keran mesin boiler milik PT CGNP bocor dan polisi masih menyelidiki kasus pencemaran air akibat kebocoran tersebut.*/DOK PR
KARYAWAN PT Central Georgette Nusantara Printing Mills (CGNP) dibantu petugas pemadam kebakaran membersihkan tumpahan oli di Sungai Cibingbin yang bermuara ke aliran Waduk Saguling di Kampung Cibingbin, RT 1, RW 4 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 4 April 2017. Sekitar 5.000 liter oli tumpah akibat keran mesin boiler milik PT CGNP bocor dan polisi masih menyelidiki kasus pencemaran air akibat kebocoran tersebut.*/DOK PR

NGAMPRAH, (PR).- Sejumlah ikan dari keramba jaring apung di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, diduga mengandung logam berat. Hal itu terjadi akibat pencemaran limbah industri dari beberapa anak Sungai Citarum.

Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, hal itu akan berdampak buruk terhadap kesehatan. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat, Aam Wiriawan, mengungkapkan kondisi itu diketahui berdasarkan hasil pengujian oleh DLH KBB pada 2017 lalu.

"Sekarang pun kondisinya belum banyak berubah walaupun mungkin sudah ada perbaikan seiring dengan program revitalisasi Citarum," kata Aam, Rabu 19 Desember 2018.

Berdasarkan pengujian kualitas air di KJA, didapatkan bahwa terdapat enam unsur yang melebihi baku mutu, yakni BOD, cadnium, klorin, timbal, nitrit, dan detergen. Hal itu berdampak pada ikan-ikan yang hidup di dalam keramba.

Pencemaran Waduk Saguling tersebut di antaranya berasal dari pembuangan limbah cair sejumlah industri ke beberapa sungai, seperti Cihaur, Cikandang, Cipeusing, Ciburandul, dan Cimerang. Kelima anak sungai yang bermuara ke Citarum ini berada di sekitar Batujajar dan Padalarang.

Untuk memininalisasi pencemaran, pihaknya terus melakukan pengawasan intensif berkoordinasi dengan Satgas Citarum Harum yang dimotori Kodam III/Siliwangi. Ke depan, pihaknya juga berencana memasang alat telemetri yang bisa memantau kualitas air sungai.

Alat tersebut nantinya bisa terhubung ke perangkat seluler, sehingga pengawasan bisa dilakukan lebih efektif. "Selama ini, kami baru mengandalkan laporan dari sejumlah perusahaan mengenai pengelolaan limbah mereka. Itu pun dilaporkan setiap tiga bulan," katanya.

Sementara itu, Kabid Perikanan pada Dinas Perikanan dan Peternakan KBB Chandra Suwarna tidak menampik bahwa ikan-ikan di KJA Saguling mengandung logam berat. Namun, menurut dia, tidak semuanya tercemar, sehingga ikan-ikan di dalamnya masih ada yang layak dikonsumsi.

"Kami juga melakukan uji laboratorium dan hasilnya masih di bawah baku mutu. Ikan-ikan di keramba masih aman dikonsumsi namun masyarakat tetap harus waspada," ujar Chandra.

Dia juga mengungkapkan, saat ini pun sejumlah keramba jaring apung baik di Saguling maupun Cirata sudah ditertibkan Satgas Citarum. Hal ini pun akan berdampak pada peningkatan kualitas air di kedua waduk tersebut.

Produksi menurun

Penertiban KJA, diakui dia, cukup menurunkan produksi ikan. Namun, pihaknya juga berkomitmen untuk mendukung program Citarum Harum guna merevitalisasi sungai terpanjang di Jawa Barat itu.

"Produksi ikan di KBB 48.000 ton per tahun. Sekarang, penurunannya memang belum begitu terasa. Namun ke depan, produksi ikan dari keramba akan terus menurun," katanya.

Sebagai gantinya, lanjut dia, pemerintah daerah bekerja sama dengan PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling, memfasilitasi para pembudi daya ikan di keramba untuk beralih pekerjaan. Di antaranya, menjadi peternak kambing ataupun itik. 

"Kami arahkan secara bertahap agar mereka beralih pekerjaan ke darat. Dan beberapa kelompok ternak sudah menunjukkan perkembangan yang baik," ujarnya. ***

 

Bagikan: