Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Awas, Pergerakan Tanah Selama Masa Liburan

Dewiyatini
PENGUNJUNG berfoto di kawasan wisata alam Curug Luhur Cigangsa, Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu, 12 Desember 2018 lalu. Curug Luhur Cigangsa yang memiliki tinggi 50 meter serta menawarkan pemandangan alam dan suasana air terjun yang masih alami tersebut menjadi salah satu alternatif wisata liburan favorit bersama keluarga. *
PENGUNJUNG berfoto di kawasan wisata alam Curug Luhur Cigangsa, Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu, 12 Desember 2018 lalu. Curug Luhur Cigangsa yang memiliki tinggi 50 meter serta menawarkan pemandangan alam dan suasana air terjun yang masih alami tersebut menjadi salah satu alternatif wisata liburan favorit bersama keluarga. *

BANDUNG, (PR).- Wilayah Jawa Barat dideteksi menjadi wilayah dengan potensi pergerakan tanah tertinggi pada Desember 2018. Hal itu harus diwaspadai bagi masyarakat yang akan menjajal tempat wisata selama liburan sekolah.

Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Agus Budianto menyebutkan, gerakan tanah itu dipengaruhi faktor curah hujan, geologi, dan infrastruktur yang ada di atasnya. Ketika curah hujan tinggi, maka potensi gerakan tanah juga cukup tinggi.

”Curah hujan pada Desember 2018 ini, telah bergeser ke Jabar. Bulan berikutnya baru ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk wilayah Indonesia bagian timur, diperkirakan cukup tinggi mulai Mei 2019,” ujar Agus dalam Sosialisasi Informasi Kebencanaan Geologi Menghadapi Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 di Ruang Informasi Kebencanaan Geologi PVMBG, Badan Geologi Jalan Diponegoro, Selasa, 18 Desember 2018.

Agus mengatakan, perlu diwaspadai potensi terjadinya pergerakan tanah di jalur jalan, permukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai. Agus menyebut terjadinya longsor, umumnya disebabkan oleh kondisi geologi daerah rawan longsor, kemiringan lereng, sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air. 

Ditambah lagi, adanya perubahan tutupan lahan seperti hutan menjadi permukiman dan jenis tanaman keras menjadi tanaman musiman terutama di lereng. ”Selain itu, sistem drainase yang bu­ruk akan menyebabkan longsor ketika curah hujan tinggi,” ucapnya.

Agus menyebutkan, jumlah korban gerakan tanah berbanding lurus dengan frekuensi kejadiannya. Pada 2017, di Indonesia terjadi 1.177 kejadian gerakan tanah dengan 210 korban jiwa.

Pada 2018, tercatat 886 kejadian gerakan tanah yang dipicu curah hujan dengan 160 korban jiwa. Sementara yang dipicu oleh gempa bumi ada 206 kejadian di Lombok dan 232 kejadian di Palu. 

Kepala Subbidang Mitigasi Gunungapi Wilayah Barat Kristianto mengatakan, gunung-gunung yang biasa didatangi di masa liburan tetap dipantau 24 jam. Bahkan, komunikasi dengan pengelola kawasan wisata terus dijaga. Gunung-gunung di Jabar, yang biasa dikunjungi antara lain Papandayan, Gede, Salak, Tangkubanparahu, Ciremai, dan Guntur. 

”Pasalnya, ada beberapa gunung yang memiliki sifat letusan yang tidak didahului gejala awal yang signifikan,” katanya.

Kristianto mengatakan, bagi masyarakat yang akan berwisata ke gunung sebaiknya mengenali gunung yang akan dikunjungi dengan statusnya. Selain itu, masyarakat diimbau mematuhi rekomendasi dari pengelola. ”Juga, mengecek rambu-rambu evakuasi,” ucapnya.***

Bagikan: