Pikiran Rakyat
USD Jual 14.353,00 Beli 14.053,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Pemkot Bandung Kewalahan, Bangunan Pinggir Sungai Terus Mengancam Jiwa

Muhammad Fikry Mauludy
PEKERJA memperbaiki kirmir yang jebol di kawasan Jalan Nyengseret, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung, Selasa 18 Desember 2018. Dalam sepekan terakhir kirmir jebol  tersebut terjadi di dua tempat, sehingga Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung menghimbau warga untuk memumdurkan bangunan tiga meter dari sempadan sungai./ARMIN ABDUL JABBAR/PR
PEKERJA memperbaiki kirmir yang jebol di kawasan Jalan Nyengseret, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung, Selasa 18 Desember 2018. Dalam sepekan terakhir kirmir jebol tersebut terjadi di dua tempat, sehingga Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung menghimbau warga untuk memumdurkan bangunan tiga meter dari sempadan sungai./ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG, (PR).- Posisi bangunan yang berada di sempadan sungai terus mengancam jiwa dan harta. Saking banyaknya pendirian bangunan di bantaran sungai, Pemerintah Kota Bandung kewalahan mendata jumlahnya.

Pemerintah Kota Bandung terus mengimbau warga agar menata ulang bangunan dengan mengedepankan prinsip keselamatan. Bangunan tidak dirancang untuk berdiri di atas Tembok Penahan Tanah (TPT). Idealnya bangunan berjarak tiga meter dari sempadan sungai.

“Di sempadan sungai itu sebetulnya milik pemerintah. Imbauan sudah kita lakukan berkali kali, tidak diperkenankan membangun rumah di kirmir atau TPT, karena TPT ini bukan buat pondasi rumah. Dia sebetulnya didesain untuk menahan di pinggir sungai, bukan dari atas,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Arief Prasetya, di Bandung, Selasa 18 Desember 2018.

Rentetan longsoran tanah yang menyeret bagian rumah terus terjadi sepanjang musim hujan, selama setahun terakhir. Pada Jumat 23 Februari 2018, sebuah musala di Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar, hancur terbawa arus deras banjir. Pada banjir bandang yang terjadi Sabtu 21 April 2018 malam, tembok rumah wilayah yang sama jebol.

Dinding rumah 2.5x3 meter yang bersebelahan dengan Sungai Citepus itu ambrol terbawa banjir. Kondisi ruangan rumah terbuka langsung di samping sungai memudahkan terjangan air saat banjir kembali datang.

Di bantaran Sungai Cidurian, kirmir penahan tanah di bantaran Sungai Cidurian, d‎i Jalan Cikutra Dalam, RT 9 RW 2, Kelurahan Neglasari, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung runtuh, Jumat 23 November 2018. Sejumlah bagian dari lima rumah yang tepat berada di atas tembok kirmir itu terbawa longsor. Dihantui longsor susulan, penghuni lima rumah tersebut mengungsi.

Beberapa hari terakhir hujan deras mengguyur Kota Bandung, TPT atau kirmir Sungai Citepus kembali ambruk, di Nyengseret, Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astana Anyar, Minggu 16 Desember 2018. Kirmir yang jebol disertai longsoran tanah dihantam terjangan air di saat hujan deras.

Satu lagi di Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, ada tiga rumah yang Sabtu (15 /12/2018). Rumah yang masing-masing dua lantai itu sebagian roboh terbawa hanyut aliran deras Sungai Citepus, beserta sejumlah barang di dalamnya.

Kondisi saat ini, terlalu banyak bangunan yang kadung berdiri di wilayah sempadan sungai, bahkan menjadikan kirmir sebagai pondasi rumah atau bangunan fungsi lain. Meski begitu, DPU Kota Bandung memberikan bantuan perbaikan tanggap darurat dalam setiap peristiwan ambruknya rumah di tepi sungai.

“Tentunya bersifat sementara, supaya aman dulu, masyarakat tidak terganggu dengan derasnya arus air. Tapi saya mohon juga kepada masyarakat. Kami memperbaiki, tapi mohon, mundur dari bibir sungai, satu meter saja saya minta. Kalau enggak mundur, kami tidak perbaiki. Kalau kamu perbaiki, berarti kami salah dong (secara aturan),” ujarnya.

Oded fokus pembangunan rumah susun

Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengatakan, fokusnya saat ini adalah merealisasikan program pembangunan rumah susun. Jika rusun terbangun, ia akan mengajak warga bantaran sungai direlokasi ke rusun itu.

Jangka panjangnya insyaallah saya berharap nanti kita program membuat rusun. Nanti kalau rusun ini sudah kita buat, setelah kita bangun, saya berharap mereka bisa pindah ke rusun.

“Tetapi mudah-mudahan masyarakatnya mau. Kan tidak mudah juga. Saya tidak pernah bosan-bosannya menyampaikan kepada masyarakat yang ada di bantaran sungai, kalau mereka masih senang di situ, masih kerasan di situ, saya imbau hati-hati, kenapa? Karena ketika terjadi longsor musibah ini jadi persoalan,” tutur Oded.***

Bagikan: