Pikiran Rakyat
USD Jual 14.240,00 Beli 13.940,00 | Sedikit awan, 23.6 ° C

Jalan Amblas Sedalam 6 Meter, Jalur Alternatif Kutawaringan-Cimahi Terputus

Handri Handriansyah
JALAN amblas di Kampung Parung Peusing, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Senin, 10 Desember 2018.*
JALAN amblas di Kampung Parung Peusing, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Senin, 10 Desember 2018.*

SOREANG, (PR).- Ruas Jalan Cantilan Gunung Pacir di RT 03/09 Kampung Parung Peusing, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung amblas, Minggu, 9 Desember 2018 sore. Akibatnya, jalur alternatif utama yang menghubungkan wilayah tersebut menuju Cimahi terputus dan warga harus mencari jalur alternatif lain yang memutar cukup jauh.

Menurut salah seorang warga Maryati (42) mengatakan, kejadian berlangsung sekitar pukul 14.30 WIB. "Beruntung saat itu warung saya sedang tutup jadi tidak ada mobil yang biasanya terparkir di titik yang amblas itu," ucapnya saat ditemui di lokasi, Senin, 10 Desember 2018.

Selain itu, kata Maryati, ruas jalan itu juga biasanya menjadi tempat bermain anak-anak kecil di lingkungan rumahnya. Namun kondisi sepi membuat korban dan kerugian materil bisa dihindari.

Maryati menambahkan, dirinya tengah berada di dalam rumah ketika jalan amblas. "Tiba-tiba saja ada suara dentuman keras dan tutup sumur di dalam rumah saya ikut terjatuh akibat getaran," ujarnya.

Sementara warga lain Alo (65) mengatakan bahwa suara keras membuat warga penasaran dan berbondong-bondong ke luar rumah untuk mencari sumbernya. Mereka semakin kaget ketika melihat lubang menganga di tengah jalan dengan ukuran cukup besar.

"Setelah kami ukur, diameter yang amblas mencapai sekitar 10 meter dan memakan sekitar 5 meter ruas jalan. Di titik itu, jalan amblas ke dalam tanah sampai kedalaman sekitar 6 meter," kata Alo.

Menurut Alo, kejadian tersebut sebenarnya bukan yang pertama kali. Ia melansir kejadian serupa pernah terjadi beberapa kali pada era 1970-1980an. 

Hal itu tak lepas dari kondisi lahan yang awalnya memang bekas galian tanah lempung untuk bahan baku keramik. Namun seiring waktu, warga kemudian menjadikan kawasan itu sebagai pemukiman setelah galian ditutup.

Alo menambahkan, galian tanah lempung ditutup sekitar 1990-an. Namun ketika itu masih banyak sejumlah lubang bekas galian yang menjadi gua dan terabaikan oleh para penggalinya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kabupaten Bandung Sudrajat membenarkan bahwa aada ruang bawah tanah di lokasi amblasnya tanah tersebut. "Selain ditemukan juga aliran air di dasar tanah,” ujarnya 

Menurut Sudrajat, aliran air di dalam tanah diduga mengikis lapisan tanah di bawah jalan sehingga menimbulkan ruang kosong sehingga jalan amblas. Tak hanya itu, ia pun melansir ada rumah warga yang ikut terdampak akibat kejadian tersebut, namun tidak ada korban jiwa.***

Bagikan: