Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian berawan, 26.3 ° C

Menteri Agama Kritik Guru Besar Keagamaan yang Tinggal di Menara Gading

Novianti Nurulliah
WARGA melintas di depan mural di Marunda, Jakarta, Selasa 13/ November 2018  yang bertema keberagaman umat beragama. Mural tersebut dibuat sebagai media edukasi kepada masyarakat agar selalu menjaga toleransi dan persatuan bangsa meskipun berbeda suku dan agama.*
WARGA melintas di depan mural di Marunda, Jakarta, Selasa 13/ November 2018 yang bertema keberagaman umat beragama. Mural tersebut dibuat sebagai media edukasi kepada masyarakat agar selalu menjaga toleransi dan persatuan bangsa meskipun berbeda suku dan agama.*

BANDUNG, (PR).- Menteri Agama Lukmanul Hakim Saifuddin meminta guru besar keagamaan Islam di Indonesia turun ke lapangan atau ke tengah masyarakat guna mengedukasi masyarakat soal toleransi. Hal itu harus dilakukan karena saat ini praktik-praktik intoleransi masih terjadi di tengah masyarakat.

Hal itu diungkapkan Lukmanul Hakim Saifuddin pada acara The 2nd Islamic Higher Education Professors Summit (IHEP) di Hotel Grand Aquila, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Sabtu 8 Desember 2018.

"Pertemuan ini adalah pertemuan para guru-guru besar di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia agar para guru besar bisa memiliki persepsi dan cara pandang yang sama pada persoalan-persoalan keagamaan serta kebangsaan di Indonesia," ujar dia dalam kegiatan bertema Membingkai Agama dan Kebangsaan itu.

Terkait masih adanya praktik intoleransi, harus ada cara pandang yang sama dalam menyikapi hal itu dan yang lebih penting, menindaklanjuti hal yang bisa merusak keutuhan bangsa majemuk.

Langkah nyatanya, kata dia, banyak. Guru besar punya latar belakang pendidikan karena mereka berasal dari perguruan tinggi keagamaan di Indonesia.

"Guru besar sebagai gelar tertinggi yang dimiliki seseorang secara akademik tentu kontribusi dan sumbangsihnya lebih diharapkan untuk langsung terjun ke masyarakat mengisi ruang publik dengan pandangan-pandangan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik dan Ilmiah," ujar dia.

Harapannya, kata Lukmanul Hakim Saifuddin, tentu para guru besar tidak hanya terbelenggu pada lembaga atau institusi pendidikan keagamaan, tetapi mengisi ruang sosial dengan pandangan-pandangan yang akademis. 

Di sisi lain, Lukmanul Hakim Saifuddin meminta para guru besar mengambil bagian secara aktif dalam mewujudkan keberagaan yang damai dan moderat di Indonesia.

Banyak fenomena aktual, seperti maraknya dakwah dengan mengedepankan amarah, kontroversi bendera tauhid, dan isu-isu keislaman politis yang meluncur ke hadapan publik begitu saja tanpa tinjauan akademis yang mencerahkan.

“Mengapa tak pernah ada studi yang mendalam tentang ini? Ini isu terkini yang umat tunggu-tungu” ujar Lukmanul Hakim Saifuddin di hadapan 100 guru besar perguruan tinggi Islam dari seluruh Indonesia.

Seharusnya, persoalan aktual yang terjadi direspons dengan pendekatan akademis. Peran guru besar tidak hanya berseputar pengajaran, riset, kajian ilmiah, dan pekerjaan akademis, melainkan yang tidak kalah pentingnya adalah pelayanan komunitas.

Antara guru besar dan gawai



Lukmanul Hakim Saifuddin mengkritik para guru besar yang kurang sensitif terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya.

Kalau pendidikan hanya dimaknai transformasi ilmu pengetahuan, gawai berperan lebih baik. Dalam gengaman tangan, gawai jauh lebih cepat memenuhi kebutuhan pengetahuan dan informasi, melebihi dosen dan guru besar.

Pakar studi Islam yang menjadi dosen tetap di Monash Universuty Australia, Nadirsyah Hosen yang hadir menjadi narasumber mengkhawatirkan angin politik Arab Springs yang membuat negara-negara Islam bergejolak akan berdampak ke Indonesia dengan cara meniupkan radikalisme dan konservativisme. Keduanya dapat merusak keberagamaan Indonesia.

Sekarang banyak influencer media sosial yang bicara tanpa latar belakang ilmu. Hal ini menjadi investasi kerusakan jangka panjang.

“Maka, guru besar harus merebut kembali wacana publik untuk masa depan agama dan negara,” katanya.

 Di Amerika Serikat, negara dengan tingkat leterasi bagus, dapat ditembus oleh propaganda negatif melalui media sosial. Ketika hoaks menjadi panglima dalam mengambil keputusan, masa depan bangsa dalam bahaya besar.

Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengatakan, pertemuan para guru besar itu merupakan upaya Kementerian Agama dalam melibatkan guru besar secara lebih mendalam guna memecahkan persoalan fundamental.

Kementerian Agama mendorong para guru besar melahirkan rumusan strategis sebagai solusi masalah konservatisme di berbagai tingkat sosial di Indonesia. “Dedikasi para guru besar sangat fundamental dalam merespons munculnya konservatisme beragama,” tuturnya.***

Bagikan: