Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Berawan, 23.6 ° C

Film Preman Pensiun 100 Persen "Shooting" di Bandung

Windy Eka Pramudya

SETELAH shooting selama lebih dari 20 hari, film Preman Pensiun siap tayang. Dijadwalkan, film yang disutradarai dan ditulis Aris Nugraha akan menyambangi bioskop pada 17 Januari 2019. Jika dibandingkan dengan sinetronnya, film produksi MNC Pictures ini akan mengangkat setiap karakter lebih dalam.

Produser MNC Pictures Miftha Miftha Syafrian Yahya mengungkapkan, pada film Preman Pensiun akan ada sembilan tokoh sentral preman yang dikisahkan menjalani masa pensiun. Menurut Miftha, tokoh utamanya tetap Kang Mus (Epy Kusnandar), tapi karakter-karakter lain di bawah Kang Mus yang akan menggerakan cerita.

"Sebenarnya setelah tiga tahun sinetron Preman Pensiun selesai, Mas Aris (Nugraha) sempat ragu untuk mengangkat Preman Pensiun ke layar lebar. Soalnya, buat Mas Aris, kisah Preman Pensiun sudah habis di sinetron, mau dibikin cerita apa lagi. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Mas Aris mulai terbuka. Dia punya ide untuk menyambung kisah sinetron ke film. Mas Aris ingin memperlihatkan, ketika para preman ini pensiun, mereka jadi apa," tutur Miftha di Kota Bandung, Rabu, 5 Desember 2018.

Menurut Miftha, sebagai rumah produksi, saat melihat kesuksesan sinetron Preman Pensiun, MNC Pictures ingin mencoba media lain, yaitu layar lebar. Dengan cerita yang merupakan lanjutan dari sinetronnya, film Preman Pensiun ingin tetap menjaga brand yang sudah dikenal. Untuk itulah, film Preman Pensiun tidak dilabeli 'reborn', 'remake', dan 'the movie'.

"Kami ingin membuat kisah Preman Pensiun dalam versi yang lebih baik. Walaupun ini kelanjutan ceritanya, tapi secara eksekusi akan berbeda. Soalnya media film kan digarap lebih detail dengan gambar yang lebih bagus juga," kata Miftha. Miftha menyebutkan, shooting film dilakukan pada April sampai Mei 2018. Sebelum shooting, ada 10 pemain yang dikarantina untuk mengembalikan karakter mereka. Maklum, jeda antara sinetron dan film mencapai tiga tahun.

Lokasi shooting 100 persen di Kota Bandung. Mereka memakai tempat-tempat yang mulai nilai historis dengan Preman Pensiun. Sebut saja kawasan Kiaracondong, Terminal Cicaheum, Jalan Asia Afrika, dan Gedung Merdeka. Selain lokasi lama, ada juga lokasi baru, antara lain kampus ITB, Pasar Baru, dan Cikapundung.

"Untuk tumah Kang Mus kami pakai lokasi baru. Kang Mus kan diceritakan berhasil jualan kecimpring, jadi dia bisa beli rumah baru. Pemakaian lokasi baru juga biar ada nuansa perubahan di filmnya," ucap Miftha.

Untuk susunan pemain, menurut Miftha, film Preman Pensiun akan tetap mempertahankan para pemain lama yang hadir di sinetronnya. Miftha membocorkan, ada satu pemain baru, yaitu komika asal Salatiga, Sadana.

"Segmen filmya untuk keluarga, karena pesan positifnya banyak sekali kendati dibalut komedi. Walaupun berlatar Sunda, Preman Pensiun adalah film Indonesia. Kalau target, kami ingin film Preman Pensiun jadi film pertama produksi MNC Pictures yang tembus 1 juta penonton. Target ini memacu semangat kami," ujar Miftha.

Pemeran Kang Mus, Epy Kusnandar mengungkapkan, dia dan para pemain lain senang saat tahu Preman Pensiun akan jadi film. Setelah tiga tahun berpisah karena sinetronnya selesai, mereka akhirnya reuni.

Menurut Epy, untuk mengumpulkan semua pemain yang punya latar belakang preman, Aris Nugraha punya kehebatan sendiri. Dia juga berhasil mengeksekusi mereka menjadi para pemain sinetron dan film.

Epy menceritakan, pada 17 Januari 2018, dia dan para pemain lain disuruh Aris Nugraha untuk napak tilas. Mereka mendatangi lokasi yang dipakai shooting. Selain itu, mereka juga diminta memakai atribut sesuai peran. Misalnya Epy yang memakai jaket kulit berwarna cokelat.

"Buat saya ini berat karena sudah tidak ada Kang Bahar (mendiang Didi Petet). Dia adalah panutan kami semua. Terlalu berat beban saya membuat mereka ini bisa akting," tutur Epy yang tak kuasa menahan tangis. Menurut Epy, saat ini keinginan semua pemain sama, yaitu ingin film Preman Pensiun menjadi tontonan yang menarik, punya pesan moral, dan jadi sebuah fenomena di industri film Indonesia," ujar Epy.***

Bagikan: